Kolom M.U. Ginting: Persamaan dan Perbedaan

0
373
bhineka tunggal ika 3
Foto: Bukit Hijau Sekolah Alam

M.U. Ginting 2Bhineka Tunggal Ika adalah satu ungkapan atau pepatah yang sudah lama kita kenal dan bahkan sudah jadi ungkapan luar-kepala dalam benak kita. Sering keluar dari mulut kita dimana saja dan kepada siapa saja, bahkan kepada orang asing yang tak pernah mendengarnya.

Beberapa tahun lalu ketika di Belanda ada bentrok etnis dengan orang asing, ada seorang dosen Indonesia bilang dengan bangga, kalau Indonesia punya ’obat’ dalam mengatasi persoalan begitu, yaitu Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila katanya. Pak dosen ini lupa kalau di Indonesia sendiri juga ’obat’ itu tak berlaku ketika perang etnis tempo hari di Indonesia.

Kita bangga dengan pepatah itu. Apa yang kita selalu jelaskan dengan sangat lantang dan bangga kepada orang asing juga ialah, bahwa kita berbeda-beda tetapi bersatu. Kita selalu membanggakan persatuannya, dan perbedaannya hanya dalam bentuk banyak pulaunya dan banyak sukunya. Apa perbedaan antara suku-suku itu tak ada yang berani ngomong karena tabu besar, dan tak bangga.

Membanggakan persatuan tetapi mentabukan perbedaan dengan momok sukuisme, primordialisme, SARA, dsb. Itulah selama ini pengertian yang kita pegang erat.

Zaman berubah, kesedaran berubah. Era ethnic revival atau cultural revival muncul dan revolusi kultural ini melanda seluruh dunia. Di negeri-negeri berkembang dan juga di Uni Soviet, bisa dikatakan terjadi perang etnis dunia, yang makan korban jutaan jiwa manusia, termasuk juga di Indonesia sebagai negeri kebanggaan Bhineka Tunggal Ika.

Korban banyak dan perang tak berkesudahan ini telah memaksa ahli-ahli dunia untuk pikir ulang dan bikin analisa lebih mendalam soal perbedaan suku/ kultur. Revolusi kultural ini bisa juga atau patut juga disebut revolusi perbedaan. Perbedaan inilah yang telah menyusup ke kepala semua orang sehingga tak mungkin lagi mentabukannya seperti era lalu.

Secara internasional, menabukan perbedaan tadinya tak lepas dari politik kiri internasional yaitu internasionalisme Abad 19 dan multikulturalisme Abad 20.

bhineka tunggal ika 2
Foto: Bukit Hijau Sekolah Alam

Kedua aliran ini pada mulanya dipelopori oleh intelektual Yahudi seperti Marx, Trotsky, Rosa Luxemburg, dll. dalam mengimbangi gelombang pasang Nasionalisme bangsa-bangsa di Eropah ketika itu dengan semboyan: “Proletar seluruh dunia bersatulah!”

Di Indonesia, dikenal politik Sosialis/ Komunis yang dipelopori partai-partai komunis dan sosialis. Mereka sangat menentang gerakan ’separatis’ dari daerah-daerah seperti pembentukan Sumatera Timur di Tahun 1950-60an. Gerakan Multikuturalisme ini  belakangan dikatakan oleh PM Jerman Merkel ’sudah gagal total’ dan juga oleh PM Inggris Cameron.

Dari segi akademis, Harvard professor of political science Robert D. Putnam bilang kalau di masyarakat multikulti saling percaya sangat rendah. Dengan perkataan lain, sosial kapital sebagai basis kemajuan sangat rendah juga.

Ethologist Frank Salter menulis: Relatively homogeneous societies invest more in public goods, indicating a higher level of public altruism. Salter juga bilang bahwa ‘open borders movement is profoundly immoral’.

Jadi, sikap burung cuckoo yang mengembangkan genetiknya di kandang orang lain adalah immoral. Sedikit lebih lembut Prof. MacDonald bilang: ‘Minorities (pendatang-MUG) should be welcomed, but they should not be able to remake society in their own image’.

MacDonald secara tak langsung menyetujui pepatah arif kita ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’. Hanya saja, sekarang, harus ditambahkan jangan seperti burung cuckoo.

Orang Karo sangat sensitif soal perbedaan, apalagi soal kesukuan, dan juga sangat perasa; sesuai dengan watak introversinya. Untuk mengatakan orang Jawa saja biasanya dibilang, ’kalak kita Jawa’ atau ’orang kita Jawa’,’kalak kita Teba’. Jadi ’kitanya’ atau persamaannya diutamakan, persatuannya diutamakan.

Banyak suku lain yang tidak sama sensitifnya dengan Karo, bilang langsung saja, misalnya kalau orang Batak extroversi bilang, halak Karo, halak Cina atau halak Jawa, tak pakai ’kita’. Di sini, hanya soal kesensitifan, bukan soal diskriminasi. Itulah juga merupakan salah satu perbedaan antara suku tadi, perbedaan dalam mengatakan atau mengexpresikan kenyataan yang sama dengan ungkapan yang tidak sama.

Belakangan, setelah melewati revolusi perbedaan yang sudah makan korban jutaan jiwa itu, banyak orang yang dengan bangga pula mengatakan bahwa ’perbedaan adalah indah’, sangat kontras dengan pengertian lama yang lebih banyak tabunya.

Secara dialektis, milis Karo sering juga menggambarkan perbedaan dalam pengertian sebagai kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Apakah di situ ada keindahannya?

Jelas ada. Sangat sering terjadi diskusi atau debat karena berbeda pendapat. Dari situ kita dapatkan sesuatu yang baru, yang tadinya belum diketahui oleh pihak manapun.

Lihatlah cultural revival dunia. Berapa banyak pengetahuan manusia bertambah dan lebih mendalam soal perbedaan kultur suku-suku, termasuk ahli-ahli dunia yang lebih terbuka matanya dan hatinya, menganalisa dan mencerahkan kita semua soal perbedaan etnis/ kultur ini? Karena itu pula, kita sekarang punya pegangan dan pedoman konkret dalam menghadapi perbedaan suku/ kultur.


Leave a Reply