Sirulo TV: Karo Jelas Sekali Bukan Batak

5
276
Jpeg

Pengantar dari redaksi

 

haru
Penulis (kiri) bersama Dr. Ichwan Azari MPhil (kanan) berfoto bersama Prof. Dr. Usman Pelly MA (tengah) usai seminar.

Kemarin [Kamis 7/5], diadakan seminar mengenai Jejak-jejak Heroisme Masyarakat Karo dalam Perspektif Historis di hotel Green Garden, Berastagi. Salah satu pemrasaran adalah Dr. Ichwan Azhari MPhil (Unimed) yang memaparkan “Heroisme Karo di Kerajaan Haru Abad 12-16”. Di bawah ini, antropolog Terbit Pandia SSos menuangkan kembali isi pemaparan Ichwan Azhari.

Kontribusi orang Karo terhadap Kerajaan Haru yang berdiri selama lebih 400 tahun (Abad 12-15 M) cukup besar. Haru adalah kerajaan besar yang sangat mempengaruhi kawasan Asia Tenggara di zamannya, terutama di dalam perdagangan komoditi internasional. Sisa kejayaan masih bisa dilihat di Sukanalu (Dataran Tinggi Karo) dan Istana Maimun (Medan).

Di Abad 12, Karo bukanlah suku sembarangan. Semua hasil komoditi internasional yang berasal dari Pantai Timur Sumatera harus melalui Haru.

Bukti Kebesaran Haru adalah di dalam Sumpah Palapa oleh Patih Gajah Mada ada tertulis mengenai Haru yang diusahakan oleh Gajah Mada untuk ditaklukkan. Artinya, Haru telah lama dikenal oleh bangsa-bangsa besar di dunia dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang ada di Sumatera. Dahulu, letak Haru adalah di Kota Hamparan Perak sekarang ini. Ketika Majapahit menyerbu Haru, kekuatannya menarik diri ke daerah Delitua sekarang.

Sejarah Haru adalah bagian dari sejarah dunia. Ini merupakan bukti orang Karo sudah sangat lama sekali berhubungan dengan bangsa asing yaitu dari segi bahasa, terutama dengan bangsa India Selatan atau Tamil. Masuknya kata tiga ke perbendaharaan bahasa Karo, seperti Tiga Binanga, Tiga Pancur, Tiga Jumpa, Tiga Nderket, dan Tiga Panah.

Kata tiga yang ini bukan dari bahasa Melayu, Indonesia atau Karo sendiri, namun dari bahasa Tamil Kuno dari Abad 8 M yang dibawa pedagang Tamil melalui Pantai Barat Sumatera, yaitu Barus sekitar Abad 12-13 M. Tiga artinya pasar market) atau tempat jual beli. Ini menunjukkan hubungan Suku Karo dengan bangsa asing sudah sangat lama. Ini juga memperlihatkan Suku Karo sudah lama sekali hadir di Sumatera, dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.

Orang Karo sebenarnya sangat banyak jumlahnya karna mendiami dan mempengaruhi daerah yang sangat luas, mulai dari Pantai Timur Sumatera terus ke Sipis-pis di sekitar Tebing Tinggi serta Langkat, Dataran Tinggi Karo, Karo Baluren, Alas dan Gayo. Bukti pengaruh Karo, adanya nama Kutaraja, Kutacane.

Baru-baru ini, seorang ahli Arkeologi dan Sejarah dari Medan yang bernama Ketut Wiradnyana mengadakan penelitian laboratorium tentang DNA orang-orang Karo, Gayo dan Alas. Hasilnya, bahwa DNA orang-orang Karo, Gayo dan Alas memiliki hubungan yang sangat kuat dengan DNA dari fosil tulang belulang manusia purba di Gayo.

Terungkaplah kebudayaan nenek moyang mereka sudah sangat tua, berumur ribuan tahun. Ketika DNA orang-orang Karo dicari hubungannya dengan DNA bangsa lain seperti Toba (Batak), hasilnya adalah nihil, nol, kosong alias sama sekali tidak ada kaitan darah/ genetis antara bangsa Toba (Batak) dengan bangsa Karo.

Belakangan, diadakan juga penelitian di daerah asal mula bangsa Batak, di kaki Gunung Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula. Dari hasil penelitian ini didapat kesimpulan bahwa kebudayaan mereka baru berumur lebih kurang 300 tahun.

Kata Batak pada mulanya muncul sewaktu bangsa Orientalis datang ke Sumatera melalui Pantai Timur Sumatera. Waktu mereka datang, penduduk di pesisir sudah banyak memeluk agama Islam. Lalu, bangsa Oriental ini melihat juga ada bangsa lain, bangsa pedalaman yang agak berbeda dengan penduduk pesisir yang beragama. Mereka bertanya kepada penduduk pesisir tentang bangsa pedalaman tersebut, mereka menyebutnya Batak.

Selanjutnya, orang-orang bangsa Orientalis ini bertemu dengan bangsa-bangsa lain yang juga belum beragama seperti Toba, Karo dan Simalungun. Maka kata Batak disematkan kepada semua bangsa tadi menjadi Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, dan lain-lain karena waktu itu mereka belum beragama. Artinya, seluruh areal pedalaman yang didiami oleh bangsa-bangsa yang jauh dari pesisir dinamailah daerah Batak, oleh bangsa Orientalis.



5 COMMENTS

  1. Hal yang nyaris sama terjadi juga di Simalungun, label Batak Simalungun seolah tidak berasal. Jika Karo mengatakan nenek moyang mereka dari sebuah kerajaan besar yang bernama Haru, Simalungun pun demikian, mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari kerajaan Nagur. lantas apa sebenarnya Batak itu? tapi apa pun itu, kita tetap orang-orang yang terlahir dengan adat.
    Karo bukan Batak?? saya pikir kita harus memiliki jawaban yang valid mengenai apa itu Batak??
    dan kenapa Batak terlabel kuat di nama Batak Toba??

  2. “Emaka ola nionggar Nangin nande Nanginku…. La pe nionggar keri kel getemna, Mesayan.”
    Lanjut nina Usman Ginting, “Gia bagi sinagang duri, sindedeh api; labo dalih gelah nggo seh sura-sura.”

    Dari Roberto Bangun, Prof. H.G. Tarigan, Prof. M. Singarimbun, dkk — hingga sekarang JRG, dkk. Ada juga tokoh peradatan Karo di Medan(Malem Ukur Ginting) yang dua kali tampil di Deli-TV Medan dengan terang katakan, “KARO BUKAN BATAK.”
    Bak gayung bersambut, ada temuan kerangka manusia purba yang diperkirakan lebih 5000 tahun yang dari uji DNA-nya cocok dengan Karo, Gayo, dan Alas.
    Tidak sampai situ, ada lagi penelitian Badan Arkeologi Medan di situs yang kataya awal kehidupan bangsa Batak yang setelah diuji usianya masih sekitar 500 tahunan.
    Lanjut lagi seminar mengupas tradisi Siraja Batak di Unimed yang terang dapat disimpulkan kalau KARO BUKAN BATAK.
    Lagi-lagi, ini seminar yang menampilkan Ichwan Azhari(Unimed) dan Wara Sinihaji(USU). Dan terus akan berlanjut.

    Sedangkan dari kelompok sebelah(BK) satu-satunya orang Karo dan juga satu-satunya yang berani bilang Batak Karo di media konsumsi publik khususnya Karo, baru Perdana Ginting melalu Sikamoni FM. Tapi itupun “menurutku”, katanya. Tanpa ada landasan ilmiah, literatur, ataupun tradisi, dlsb.

    Dan dari luar Indonesia yang belum lama juga ada Daniel Parret(Prancis) dengan bukunya dari penelitian untuk desertasinya selama setidaknya tiga tahun. Jelas diterangkan asal pelebelan Batak. Dan bayak lagi lainnya.

    Itulan kronologi perjalanan KBB yang terbaru.

  3. DR Ichwan Azhari semakin banyak mendalami sejarah keheroisan suku Karo, termasuk kejayaan kerajaan besar Haru yang tak pernah berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada Majapahit.

    Majapahit terkenal dengan kebesarannya tetapi dari pendalaman DR Azhari terlihat kalau Haru sebenarnya tak kalah besar atau malah lebih kuat dari Majapahit sendiri karena Gajah Mada sendiri tak pernah berhasil menaklukkannya.

    Gajah Mada berjanji akan menaklukkan Haru tetapi dalam prakteknya hanya tinggal cita-cita sampai dia mati.

    ”Di Abad 12, Karo bukanlah suku sembarangan. Semua hasil komoditi internasional yang berasal dari Pantai Timur Sumatera harus melalui Haru.” Seluruh wilayah Asia Tenggara, India dan China punya hubungan erat dengan Haru dari segi perdagangan dan budaya, juga dari segi filsafat dan dialektika yang di kalangan Karo Kuno sudah berumur 5000 tahun, sudah berkembang sangat tinggi seperti Pantarei Karo (dialektika alam) ’aras jadi namo, namo jadi aras’, dan tesis-antitesis-sytesis Karo (dialektika pikiran) ’seh sura-sura tangkel sinangel’.

    Dalam pertukaran dagang dan budaya itu, dialektika Karo ini kemudian sampai juga ke India dan China dalam pemikiran Tao (dialektika dalam Tao) terus ke Yunani dalam pantarei Heraklitos, sekitar 500 BC.

    Kita berterima kasih kepada DR Azhari dan Ketut Wiradnyana yang telah banyak menggali kebenaran sejarah Karo, yang selama ini belum terbongkar.

    MUG

    • Kita kalak karo pernah menjadi bangsa yang besar dan ikut mewarnai sejarah dunia. Mari terus bejuang melalui profesi masing2 membesarkan kembali kekaroan yang hampir hilang.
      Bujur ras mejuah-juah.

    • Masalah besarnya saat ini, kita harus mengganti dahulu nama GBKP jangan lagi Gereja Batak Karo Protestan, menjadi Gereja Karo kristen Protestan. Bujur

Leave a Reply