Kolom M.U. Ginting: JARUM YANG PATAH

0
176

M.U. Ginting 2jarumBukan hanya Partai Demokrat (PD) yang butuh Sekjen yang semangat dan energik. Seluruh bangsa ini sekarang membutuhkan Sekjen/ pemimpin yang semangat dan energik. Kalau kita bilang krisis kepemimpinan, krisisnya ya itulah, semangatnya dan energiknya tadi walaupun karakternya sudah memadai. Semua pemimpin sudah punya visi dan misi. Tetapi tanpa semangat dan tanpa keenergikan nyata, tak ada yang jalan.

Selain semangat dan energik, yang lainnya ialah, perlunya kombinasi karakter yang cocok bagi seorang pemimpin yang mau bekerja untuk kemajuan rakyatnya.

“Ada dua karakter manusia,” kata ustaz A.A. Gym, “yaitu baik dan buruk serta kuat dan lemah”.

Dua macam karakter ini melahirkan beberapa kombinasi yang mungkin dan yang ada dalam masyarakat.

  1. Kombinasi baik + lemah, dia tak akan bisa berbuat sesuatu untuk yang lain. Dia hanya baik untuk dirinya sendiri.
  2. Kombinasi buruk/ jahat + kuat, ditambah lagi dengan bold (berani). Itulah yang telah banyak terdapat dan yang telah menjadikan Indonesia sebagai negara nomor 4 di dunia dalam soal korupsi.
  3. Kombinasi baik + kuat. Itulah yang masih jarang atau belum ada. Atau masih kalah kuat dengan kombinasi ke 2 itu. Salah satu sebab penting juga mengapa korupsi belum bisa hilang walaupun pergantian pemimpin/ presiden sudah sering.

Kombinasi nomor 3 ini (baik + kuat) ditambah dengan semangat dan energik tadi adalah kombinasi yang tak akan ada bandingannya. Artinya, itulah kombinasi yang pasti menang dan akan memenangkan rakyat. Semangat dan energik ini sudah sering kita perbincangkan dalam istilah lain yaitu boldness atau keberanian.

“Tidak ada kesuksesan tanpa keberanian,” kata ustaz AA Gym.

Jadi, baik dan kuat kalau tak ada keberanian tak jalan juga.

Harus ada boldness, jangan jadi coward, karena “God hates cowards. And the cowards that the Lord is referring to are the men and women who know the truth but refuse to speak it,” kata seorang pendeta Kristen (Franklin Graham).

Dengan semangat dan energik itu (bold, berani) seorang pemimpin baik + kuat akan bisa menyelesaikan persoalan nation ini, termasuk persoalan korupsi yang sudah mendarah daging sejak berakhirnya era Soekarno sampai sekarang.

Diantara orang Karo dan orang Jawa (SBY, Megawati, Jokowi) banyak berjiwa pemimpin ’baik + kuat’, tetapi masih tak cukup boldness, tak cukup keberanian, semangat dan energik tadi, karena itu masih dikalahkan oleh tipe ’jahat + kuat + bold’.

Orang Pakpak Dairi, Simalungun dan Karo di Deliserdang dikalahkan dan terusir dari kekuasaan dan tanah ulayatnya dengan perang kultur tak terlihat, perang tanpa sebutirpun peluru yang ditembakkan. Di sini jelas boldness kontra cowardness.

Untuk survival selanjutnyapun ketiga suku ini ditentukan oleh pertarungan di lapangan antara bold dan coward. Ilmu pengetahuan bisa sama-sama berlomba. Dan, ketiga suku ini tak perlu kalah. Hanya saja, ilmu pun tak ada gunanya dan harganya tanpa sikap boldness.

Apalah artinya orang baik atau pandai dan banyak ilmunya pula kalau hanya diam, hanya disimpan dalam hati. Kalau ada jarum yang patah, jangan diimpan di dalam peti.


Leave a Reply