Beethoven dan Manusia Karo

0
172

Bastanta P. Sembiring (Jambi)

 

bethoven
foto Agustinus Tarigan Sibero

bastantaBagi orang yang mengikuti perkembangan dunia sangat kecil sekali kemungkinan tidak mengenal Ludwig van Beethoven, walaupun tidak semua orang kenal betul sosok beliau. Jika dicarikan sosok yang memiliki popularitas hampir sebanding di dunia ini, mungkin pikiran kita akan tertuju kepada pendahulunya W.A. Mozart ataupun  Albert Einsten.

Di medsos, tidak jarang saya baca status yang menggambarkan seakan-akan Suku Karo itu suku yang kecil dan kolot dalam hal berfikir. Sehingga sering dibilang ketinggalan dengan suku lain.

“Suku yang lain yang mana, ya dan apa yang dijadikan tolak ukurnya?” 

Terus, jika pernyataan di atas ditepis, maka ada lagi sering muncul, “kenapa kebaikkan Karo itu saja yang dibahas? Sesekali yang buruk juga perlu kita diskusikan.”

Benar dan sekilas pernyataan itu tampak bijak. Tetapi, bagaimana kalau pernyataan itu dibalik dan dikembalikan kepada yang memberi pernyataan itu. Pasalnya, selama ini yang sering terjadi ada kelompok yang getol amat bicarain kejelekan Karo itu dan suka membanding-bandingkan, namun tanpa ada tolak ukur yang jelas.

Jelas sekali tujuannya untuk membangun persepsi kalau manusia Karo itu buruk dan tidak akan bisa maju. Mengingatkan saya tulisan Juara R. Ginting, tentang arah kontradiksi KBB dan anti KBB. Kanya, para penggiat KBB terus berusaha memperkenalkan Karo kepada dunia serta mendukung setiap pemikiran dan pergerakan setiap orang untuk memajukan kinikaron. Sedangkan mereka yang anti-KBB terus berusaha menjatuhkan para penggiat KBB dan menuduhkan segala yang buruk.

Sangat manis sekali jawaban yang dilontarkan kaka Ita Apulina Tarigan, yang katanya, “Belum tahu orang-orang …. itu, kalau kampus USU itu dulu sawah-sawah orang Karo yang diminta jamin Ginting untuk dijadikan kampus.”

Dua kalimat yang saya kasi perhatian: 1. Sawah orang Karo dan 2. jamin Ginting. Kira-kira apa yang dapat kam tangkap dari dua kalimat itu?

Logika sederhananya, jamin Ginting ingin Sumatera Utara punya universitas dan orang Karo memberi sawah mereka untuk mewujudkan impian jamin Ginting.

Jadi, bisa dikatakan, otak dan hatinya Jamin Ginting sejalan dengan orang Karo. Jika tidak, mungkin USU akan dibangun di Siantar, Sibolga, Tarutung, Tebing Tinggi, dll. atau mungkin tidak sama sekali. Perlu diingat kalau Jamin Ginting juga orang Karo. Jadi?

Kembali kepada jawaban beru Tarigan di atas yang mengingatkan saya dengan sosok Nini Tigan saya. Sedikit sombong jawabannya itu. Tapi, itulah kenyataan yang kadang bagi orang yang tidak sepaham akan merasakan perkataan itu lebih tajam dari mata pisau, lebih pahit dari empedu, lebih gatal dari lateng, kacang sopei ataupun kelto, lebih bau dari kotoran lembu dan lebih sakit daripada ditinggal pacar.

Kasi 4 jempol samandu, kak Ita. Walau kata orang narsis dan rasis, tapi kebenaran sudah kam ungkapkan dan kembali mengingatkan saya kata M.U. Ginting tentang kebenaran Karo yang harus terus, di-“omongkan, omongkan, dan omongkan!”

Begitu juga dengan Ludwig van Beethoven yang dikatakan dewa musik dunia. Tokoh terpenting dari transisi klasik ke era romantik yang komposisinya mendunia. Hebatnya, dia orang tuli. Dia juga dikatakan salah satu pemberontak, karena terus berusaha mandiri. Berbeda dengan pendahulunya yang menjadi peliharaan para kaum bangsawan.

Silang-langna,” kata orang Karo: tidak ada anak seni musik di dunia ini yang tidak pernah baca partiturnya Beethoven.

Saya sendiri hampir bosan dibuatnya, karena adik saya yang mengambil jurusan piano klasik.

Mengapa Beethoven demikian sangat disanjung dan karyanya selalu dijadikan rujukan banyak orang dalam bermusik? Baca di sini: Beethoven.

Tentulah negara asalnya sangat bangga dengan pencapaian Beethoven. Bagaimana dengan Indonesia?

bethoven 2
Kaos dengan design permainan catur Karo.

Ops, tunggu dulu. Jangan berkecil hati dulu. Ada pernah saya baca, katanya. Ini bukan kata saya, ya. Saya ulang. Katanya, seorang kelahiran Tanah Karo bermerga Perangin-angin Singarimbun yang karya-karyanya dipergunakan di seluruh dunia. Hayo. Kalau yang pernah kuliah pasti tahu siapa itu.

Ya, siapa lagi kalau bukan Masri Singarimbun. Ini orang Karo, lho. Ayo kasi daftar orang yang sekaliber beliau!

Seorang sahabat melalui pesan BBM-nya menjawab pertanyaan saya, katanya, “Adi bulang Masri (Masri Singarimbun-red) la terkalahken.”

Lanjut beliau, “Hampir bahkan labo hampir. Tapi kerina universitas i doni énda mempergunaken metodena. Aku saja sangana kuliah, la jaranglah ngetik gelarna bas tugasku.”

Jawaban ini dilontarkan atas pertanyaan saya tentang seberapa populer orang Karo yang menyandang gelar Doktor dan Profesor secara internasional. Tentunya selain Masri Singarimbun ada beberapa nama lainnya, sieperti: Prof. H. G. Tarigan, Prof. Prof. A. T. Barus, dll (maaf jika ada salah penulisan nama).

Dari sahabat saya yang alumni FP USU. Katanya, “Dulu ada roti Berahmana.”

Maksudnya pakan ternak berupa roti ciptaan Prof. Brahmana. Jadi orang Karo dari dulu sudah kembangkan pakan ternak sejenis roti ini.

Belakangan juga banyak beredar foto-foto Narsar Karo-karo yang menggemparkan media Eropa dengan julukan Raja Catur. Ada lagi beredar foto-foto yang bertuliskan Beethoven van Karolanden (Pa Datas Karo-karo Surbakti). “Kok bukan Beethoven van Indonesisch, atau van Sumatera, ya?”

He-he-he… ini bikin tetangga yang selalu dibanding-bandingkan menjadi iri, lho. Sehingga tanpa tahu malu dipublikasikanlah sebuah lukisan lengkap dengan keterangan diri dan alat musiknya.

Bersamaan dengan itu, Suku Karo yang dibilang kolot dan ketinggalan itu tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu. Karena selalu memegang prinsip, yang salah satunya, “adi la nampati ola nontari,dan, “ajangtalah maka siperajang.” Dan dahsyatnya, bertebaranlah ke langit-langit nama-nama legenda dunia dari Suku Karo.

Saya pinjam kata-katanya Karo Jambi untuk orang-orang yang suka membuat perbandingan, namun tidak punya landasan yang jelas menjadi tolak ukurnya dan tidak tahu sama sekali. Katanya, “jaung-jaungken saja pe nggo sieteh salah!” mungkin sama maknanya dengan, “dasar begok, lo!”

Mejuah-juah.


Leave a Reply