Kolom M.U. Ginting: MAFIA PETRAL

0
153

M.U. Ginting 2petral 2Dalam soal mafia Petral, menteri ESDM bilang:  “Begitu diinvestigasi maka semuanya jadi jelas, terang benderang, mana yang baik, buruk, salah.”

Memang jelaslah bahwa dalam kegelapan susah mencari kebenaran, tetapi dalam keterbukaan gampang ditemukan. Walaupun perjuangan untuk keterbukaan ini masih lambat jalannya, tetapi pada pokoknya sudah berjalan. Semakin banyak rakyat dan politisi yang meyakini jalan keterbukaan dan transparansi ini. Walaupun masih lambat jalannya tetapi negeri ini adalah nomor 1 dan terdepan dalam soal transparansi, dibandingkan dengan negeri lain manapun.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang jujur, tulus dan ikhlas, serta sifat saling bantu tanpa pamrih yang tak ada bandingannya dalam tradisi kehidupannya sejak era primitif. Ini terlihat dari sifat kegotongroyongannya sampai sekarang dan sifat musyawarahnya yang tak pernah layu, tak pernah berhenti, kecuali diganggu oleh kekuatan luar seperti pada era Kolonial dan era Imperialisme diikuti era Internasionalisme, Sosialisme dan Komunisme, serta kemudian dimasuki oleh Multikulturalisme.

Semua ini dipaksakan dan ditanamkan dari luar. Karena itu, rakyat Indonesia bersama mayoritas pemimpinnya sangat bisa menyesuaikan diri dengan abad transparansi dan keterbukaan untuk mengkedepankan kebenaran dan kejujuran serta dalam perjuangan untuk keadilan dunia.

Kontradiksi pokok dunia sekarang tak diragukan lagi ialah perjuangan untuk keadilan, Karena keadilan adalah sesuatu yang konkret dapat dirasakan maka masuk akal jugalah kalau mencapainya harus dengan cara terbuka atau transparan. Sebagian masih menentang cara transparan ini, seperti Sigmund Freud bilang: “Transparency is impossible because of the occluding function of the unconscious.”

Kalau kita ikuti begitu saja kata-kata Freud, transparansi tak ada faedahnya bagi perkembangan dunia ini. Padahal sekarang adalah abad transparansi, abad keterbukaan dalam menjalankan politik sehari-hari maupun pemerintahan.

Kalau kita lihat dari segi yang sudah biasa kita omongkan, dari segi sifat dan karakter introversi/ extroversi, dimana orang extrovert ’di bawah sadarnya menghayati kehidupan sebagai perlombaan’, dan orang introvert (Karo) menghayati kehidupan seperti ’sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring’ (win win solution), dan kalau fenomena ’bawah sadar’ ini kita sebarluaskan secara transparan, pastilah tidak banyak mengganggu ’unconscious’ kita. Apalagi kalau kita bandingkan dengan perkembanan penemuan genetik dan DNA yang tak terpisahkan dengan sifat dan karakter manusia atau kelompok manusia.

Penulis dan filosof Inggris AC Grayling mempertanyakan apakah Freud scientist atau  story teller. Selanjutnya dia bilang”But as to Freud’s claims upon truth, the judgment of time seems to be running against him”. Ini terutama bisa terjadi karena penemuan baru genetik/DNA terkait sifat dan prilaku manusia atau grup manusia.

Biarpun begitu, kontradiksi antara transparansi dan kegelapan masih akan terus dalam  perjuangan yang sengit. Ini bisa dijelaskan dari segi pertentangan kepentingan: perjuangan pribadi/ kelompok tertentu dalam mencapai tujuannya (keuntungan) harus dengan cara gelap, dan golongan lain yang menentang dan lebih memilih cara transpararan dan terbuka dalam memperjuangkan cita-citanya.

Dalam soal Petral, golongan transparansi sementara berada di pihak yang menang. Perjuangan atau Kontradiksi akan terus . . . Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan.


Leave a Reply