Selayang Pandang ‘Gereja Injili Karo Indonesia’ (GIKI)

2
331

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Jambi)

GIKI 8
Majelis Sinode GIKI: Audiensi dengan Direktur Urusan Agama, Kasubdit Urusan Agama, dan Staf Ditjen Bimas Kristen Depag RI Pusat – Jakarta.

bastantaGereja Injili Karo Indonesia atau disingkat GIKI merupakan lembaga/ wadah kerohanian umat Kristen yang resmi berdiri pada 27 Juni 1992 di Kabanjahe (Kabupaten Karo, Sumatera Utara). Buah dari kerinduan dan keterbebanan umat Kristen dari Suku Karo yang rindu akan Pekabaran Injil (PI).

Missinya ialah, agar semakin banyak orang-orang Karo dan suku bangsa lainnya dimenangkan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. 

 

Kronologi berdirinya GIKI

GIKI tumbuh dari benih-benih semangat penginjilan diantara umat Kristen dari Suku Karo, yang terbeban untuk kembali memberitakan Injil, khususnya bagi suku dan daerahnya. Namun, keberadaan mereka kemudian dianggap mengusik dan menjadi masalah bagi tempat mereka bernaung sebelumnya, sehingga semangat untuk melakukan reformasi dalam tubuh gereja yang selama ini lebih mensibukkan diri dalam aspek birokrasi gereja ketimbang kegiatan penginjilan cepat mendapat pertentangan, sehingga tujuan reformasi tidak tercapai. 

Beberapa aktifis penggiat mendapat skorsing dan berujung pada pemberhentian, sehingga merekapun memilih keluar, memutuskan untuk mendirikan satu sinode baru sebagai wadah pelayanan. Namun, mendirikan sebuah sinode bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu, sebelum Sinode itu berdiri, maka cikal bakal sinode ini menggabungkan diri di bawah naungan sinode Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) dengan status khusus ditandai dengan penamaannya Gereja Kristen Kudus Indonesia – Jemaat Karo Injili atau dikenal dengan GKKI – Jemaat Karo Injili (Kabanjahe dan Bandung). 

April 1992 diadakan MoU antara pimpinan Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) dengan GKKI – Jemaat Karo Injili(cikal bakal GIKI) tentang status sementara Jemaat Karo Injili di bawah naungan GKKI Pusat. Pada Bulan Mei 1992, utusan GKKI – Karo Injili, Pdt. B.A. Perangin-angin bertemu dengan drs. Kerani Ketaren (Pendiri GKKI) di Bandung, berkonsultasi tentang pentahbisan jemaat pertama Jemaat Karo Injili di Kabanjahe.

Karena memang MoU antara GKKI dengan Jemaat Karo Injili dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka dalam proses ini tidak ditemukan permasalahan.

Minggu, 27 Juni 1992, GKKI Jemaat Karo Injili pertama di Kabanjahe resmi berdiri dengan Pdt. B. A. Perangin-angin menjadi Gembala/ Pendeta Jemaatnya yang juga merupakan satu-satunya pendeta saat itu di Jemaat Karo Injili dan dilanjutkan dengan pentahbisan GKKI Jemaat Karo Injili di Bandung (sekarang GIKI Bandung) pada Minggu 27 September 1992.

Tanggal 27 Juni 1992 kemudian ditetapkan secara Sinodal GIKI sebagai hari lahirnya Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI).

Kemandirian

GIKI 9Berkat Kasih Karunia Tuhan Yesus, ketekunan hati pengerja, jemaat, aktifis dan simpatisan, serta dukungan dari banyak pihak dan tentunya kebesaran hati dari drs. Kerani Ketaren sebagai pendiri GKKI, 20 Oktober 1992, GIKI memperoleh izin pertamanya yang dikeluarkan oleh Kanwil Depag Provinsi Jawa Barat dengan nomor: Wi/BP.020/Ket/118/1992.  Maka, secara hukum GIKI diakui keberadaannya sebagai sebuah Sinode. 

Baru pada 14 Agustus 2003, Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) terdaftar secara nasional, ditandai dengan keluarnya SK Bimas Kristen Depag RI nomor: DJ.III/Kep/HK.00.5/93/3726/2003. Dengan demikian, Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) telah mengantongi izin pelayanan di seluruh wilayah hukum Republik Indonesia. 

GIKI juga secara aktif tergabung di PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia).

Cinta Kristus dan Karo

Panggilan utama GIKI sejak awal ialah memberitakan Injil dan memenangkan orang Karo. Dan ini terus diupayakan, salah satunya dengan mengusung semboyan, “Cinta Kristus dan Cinta Karo: Kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.”

Ini sebagai pengingat kepada seluruh pengerja, jemaat, aktifis, dan simpaisan di GIKI agar terus mengingat visi dan misi awal pendirian GIKI, terkhususnya lagi bagi generasi GIKI ke depan, agar tidak melupakan panggilan awal gereja ini.

Hal ini diperkuat dengan semboyan yang menyatakan tugas panggilan GIKI, “Mengintegrasikan Injil dengan budaya lokal (Karo), dengan mengembangkan sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.” 

Mempertahankan kinikaron GIKI

Tantangan dan rintangan dalam mengemban pelayanan yang bercirikan kinikaron adalah hal yang lumrah, mengingat perkembangan budaya gereja dunia yang sebagaian besar dipengaruhi oleh budaya gereja Eropa,  nota bene gereja-gereja di Indonesia juga merupakan hasil zending dari badan zending Eropah. Namun, bagaimana dengan GIKI yang lahir dari umat Kristen Karo?

GIKI 11
Baptisan anak di GIKI Cimahi

Pertentangan memuncak di tahun 2008, dimana muncul kelompok yang secara terang-terangan ingin mengubah dan meniadakan kata karo di dalam nama GIKI. Namun, ada juga yang menolak perubahan dan peniadaan kata karo ini dan tetap berpegang teguh pada panggilan awal, yakni dari, untuk dan bagi Suku Karo (terkhususnya).

Hal ini mengakibatkan perpecahan pun tidak dapat dihindarkan. Pada 2010 kelompok yang ingin mengubah dan meniadakan kata karo dalam nama GIKI (Gereja Injili Karo Indonesia) kemudian mendirikan sinode sendiri dengan nama Gereja yang hampir sama (hanya kata karo yang diganti), juga disingkat GIKI.

Perpecahan di tubuh Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) kemudian menyisakan 4 Majelis Jemaat (sebelumnya ada 34 MJ) yang tetap berpegang pada visi dan misi awal, antara lain: GIKI Bandung, GIKI Cimahi, GIKI Bandar Baru, GIKI Sukaramai, dan di tahun 2013 GIKI Medan melalui Sidang Sinode GIKI di Kabanjahe (27/6/2013) ditetapkan sebagai satu Majelis dengan nama GIKI Jemaat Medan melalui SK Majelis Sinode GIKI No. 29/MS-GIKI/XI/2013, bersamaan dengan penetapan Pos PI Kaban Tua dan Pos PI GIKI Perbesi. 

Setahun kemudian, pada 27 Juni 2014 ditetapkan Pos Pekabaran Injil GIKI di Kabanjahe dengan nama Pos PI GIKI – Kabanjahe, yang bersekretariat di Jl. Kuta Cané, Kabanjahe.

Hal ini semakin jelas menunjukkan upaya pemimpin GIKI sekarang ini untuk mengembalikan gereja ini ke tempat seharusnya, yakni dari, untuk dan bagi Suku Karo (terkhususnya).

Mejuah-juah.

 

  


2 COMMENTS

  1. Menarik juga mengetahui perkembangan gereja Karo ini. Terlihat memang pemikiran kultur tak terpisahkan dari kepercayaan. Dan begitulah juga kelahiran kristen di eropah tak terpisahkan dengan tradisi dan kultur orang eropah. Jadi penyesuaian dengan kultur dan budaya Karo adalah lumrah saja. Lebih-lebih lagi dalam perkembangan terakhir dunia abad 21 (cultural revival) maka pikiran ini semakin teruji kebenaran dan keharusannya. Bahwa semua manusia terlibat dalam ‘the clash of civilization’ tak bisa diingkari lagi.

    Pikiran lain yang ingin memisahkan dari kultur lokal sudah tak lagi zamannya.

    MUG

Leave a Reply