Kisah Bersambung: GINTING MANIK MERGANA (8)

0
129

Bertaruh dengan Waktu

singapor 3

 


[one_fourth]Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah)[/one_fourth]

Di saat Ginting Manik mergana masih berfikir bagaimana caranya agar tidak ikut dalam rombongan yang dikirim ke Burma untuk mendukung tentara Inggris dalam upaya menghalau ambisi Jepang, kapal yang rencananya akan mengangkut mereka telah bersiap dan saat malam tiba segera akan berlayar ke negeri yang jauh di sebelah Utara pulau itu.

Hari sudah mau sore. Ketakutan Ginting Manik semakin menjadi. Mungkin bukan dia satu-satunya demikian, sebab ada ratusan tahanan di tempat itu. Suasana yang biasa riuh tiba-tiba lengang seperti tiga (pasar) yang sepi pengunjung.

Ginting Manik pergi ke dapur. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan dilakukannya. Beberapa teman tahanan lain melihatnya dan berbisik: “Apa dia mau bunuh diri karena tertekan?”

Dapur saat itu sepi karena masih siang. Petugas memanfaatkannya untuk beristirahat. Ginting Manik mengumpulkan sebanyak mungkin cabai yang ada. Kemudian dia menggilingnya. 

Setelah selesai diapun menaruh cabai yang baru saja digilingnya itu ke dalam sebuah kantongan plastik dan sebagian cabai yang utuh dimasukkannya ke dalam saku bajunya. Dia bergegas masuk ke kamar tahanan dan menyelipkannya diantara kain.

Bejo sahabat yang melihat gerak gerik Ginting Manik diam-diam menyusul. 

“Ting! Apa yang kamu rencanakan?” tanya Bejo.

Ginting Manik hanya terdiam dan menatap ke arah Bejo. Tatapannya dingin, membuat Bejo sedikit takut.

“Aku nggak berani menghalangi kamu. Apapun rencanamu aku harap kamu sudah memikirkannya dengan matang,” kata Bejo.

Ginting Manik pun kembali menatap ke arah Bejo. Kali ini dia tersenyum dan menaruh tangan kanannya ke atas pundak Bejo sahabatnya satu tahanan.

“Tenang kamu, Jo. Apapun yang akan terjadi aku sudah siap,” kata Ginting Manik meyakinkan Bejo.

Sekitar Pukul 6 sore, semua tahanan yang akan diberangkatkan dikumpulkan di lapangan. Saat petugas sibuk memeriksa para tahanan di lapangan (untuk digiring ke dermaga yang kemudian dikapalkan ke Burma), Ginting Manik mengendap-endap kembali ke kamar tahanan. Tidak ada penjagaan ketat, karena kebanyakan penjaga sibuk di lapangan.

Di kamar tahanan, Ginting Manik mengambil cabai yang sudah digilingnya tadi siang dan beberapa cabai yang masih utuh.

Dari balik ruangan itu, dia melihat para tahanan lainnya sudah mulai digiring menuju dermaga. Perlahan Ginting Manik mergana mengoleskan cabai yang sudah digiling tadi ke sekucur tubuhnya. 

Perihnya yang dirasakan Ginting Manik bukan main. Tapi dia berusaha menahan penderitaan itu hingga menjelang barisan terakhir yang bergerak menuju dermaga.

Saat-saat menegangkan bagi Ginting Manik mergana. Ini menjadi pertaruhan yang akan menentukan nasibnya kemudian hari.

Sahabatnya Bejo juga tampak gelisah dan terus menoleh ke arah ruang tahanan sambil berjalan dengan kawalan ketat. Dalam hati tidak henti-hentinya Bejo berdoa untuk keselamatan sahabat yang sudah sekitar setahun menemaninya di pulau itu sebagai manusia terkurung.

Hari sudah mulai gelap. Barisan terakhir sudah bergerak. Ginting Manik kemudian kembali mengoleskan tubuhnya dengan cabai yang telah digilingnya tadi dan mengunyah beberapa potong cabai yang masih utuh.

Bagian utama dari sekenario ini akan segera dimulai. Walau tampak keraguan sekejap terlintas di benaknya, namun dia menguatkan hatinya dan memberanikan dirinya untuk melanjutkan permainan menegangkan ini.

Dia mengambil gilingan terakhir dan mengoleskannya ke bagian kemaluannya dan matanya. Bukan main perihnya yang dirasakan Ginting Manik. Membuatnya tidak sanggup lagi menahan dan teriakan pun keluar dari mulutnya.

Nandé! Andiko!” terus menerus teriakan berulang-ulang dengan kerasnya keluar dari mulut Ginting Manik mergana.

Andiko, nandé. Sampati aku!” teriaknya sambil berlari-lari dan sesekali berguling-guling di ruangan itu.

singapor 4Tubuhnya seperti terbakar. Dia kemudian berlari ke luar dan berguling-guling di lapangan dan kemudian bangkit lagi menuju ke arah dapur.

Sepertinya dia mencari air, namun tidak menemukannya segera, sehingga dapur pun berantakan seperti ada binatang buas yang kena jerat meronta-ronta dan menabrak semua yang di sekitarnya. Demikianlah keadaan Ginting Manik mergana saat itu.

Semua yang melihat keheranan. Ginting Manik yang dikenal taat aturan dan baik, tiba-tiba meronta-ronta seperti sedang kesurupan. Semakin menggila saja kelakuannya.

Seorang sahabat yang juga petugas penjara kemudian menyuruh beberapa penjaga mengamankannya. Hal ini dilakukan agar jangan sampai berita ini tersebar luas, karena akan membahayakan Ginting Manik.

Dia pun kemudian dimasukkan ke sebuah ruangan kusus dan diikat. Para penjaga menyiraminya dengan air, tetapi Ginting Manik terus berteriak semakin keras. Mungkin sangkin kesakitan. 

Terus menerus mereka menyiraminya dengan air, berusaha menghentikan teriakannya. Hingga beberapa saat kemudian teriakannya perlahan berhenti walau tidak sepenuhnya, karena sesekali dia berteriak kembali.

Dalam hatinya Ginting Manik, “Syukurlah. La jadi kepé aku ibaba ku Burma ndai.”

Namun ini belum berakhir. Tentunya untuk hal ini dia akan diinterograsi. Untuk itu Ginting Manik harus kembali berfikir walau rasa perih yang begitu hebat masih melingkupi sekucur tubunnya. Apalagi di bagian mata dan kemaluannya. 

Bicara pepagi aku iperiksa, kai ngénda arus ku jabab?” tanya Ginting Manik mergana dalam hatinya kepada dirinya sendiri.

Sementara itu di dermaga para tahanan lainnya sudah dinaikkan ke kapal. Mendengar desas desus dari petugas yang mengatakan satu tahanan tidak ikut karena penyakit yang aneh, Bejo tersenyum, dan dia yakin pasti itu Ginting Manik mergana, sahabatnya. 

Dalam hatinya: “Selamat berjuang sahabatku Ginting Manik. Semoga berhasil.

Kapal pun berlayar. Dua sahabat pun berpisah dan tidak akan pernah bertemu kembali. 

 * * * *

Keesokan harinya, saat kondisi Ginting Manik sudah mulai membaik, sahabat yang juga petugas penjara datang menemuinya.

Karena saat ini tentara Belanda sudah terdesak, maka segala kegiatan kepenjaraan sepenuhnya dipegang oleh pegawai sipil, tidak lagi oleh militer. Militer hanya sebagai penjaga.

“Ginting, kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya kepada Ginting Manik.

Lagi katanya: “Kamu tahu, kan, kalau ini dapat membahayakan kamu. Kamu bisa ditembak mati. Saya hanya bisa melindungimu sampai di sini. Selanjutnya, itu sudah di luar kewenangan saya.”

Ginting Manik hanya membisu. Sepertinya rasa sakitnya belum benar-benar hilang.

“Kamu tetap akan dikirim. Gelombang ke dua akan segera diberangkatkan. Tinggal tunggu kapal, jika kapal tiba dan cuaca baik, maka kapal tidak akan singgah lama di dermaga.”

Mendengar hal itu, Ginting Manik terkejut. Namun tubuhnya tidak sanggup merespon, karena rasa perih akibat cabai masih sangat terasa.

Sahabat itu pun kemudian pergi. Namun sejenak langkahnya terhenti dan membalikkan badannya kembali menoleh ke arah Ginting Manik mergana.

singapor 2“Kapal akan singgah di Singapura sebentar,” katanya dan dia pun berlalu.

Februari 1941. Pusat operasional Jepang berhasil didirikan di Bangkok (Siam). Ini adalah langkah awal dalam program PFBI (Plan for Burma’s Independence) dan untuk kelancaran komunikasi antara Minami Kikan dengan Thakin di Burma.

Tentunya hal ini menjadi ancaman serius bagi Inggris dan kelangsungan kolonial Belanda di Asia Tenggara. 27 Desember 1941, Kolonel Suzuki  membentuk Burma Independence Army (BIA) di Bangkok yang dibentuk dari Minami Kikan (Minami Intelegence Organization) yang sebelumnya telah terbentuk dan masyarakat Burma yang tinggal di Bangkok.

Mereka-mereka ini dipersiapkan untuk di kemudian hari membantu Jepang dalam penaklukan Inggris di kawasan Burma. Perang besar sepertinya tidak bisa dielakkan lagi. 

Untuk itu, Ingris harus benar-benar didukung dalam pertempuran ini.  Agar ambisi Jepang tidak sampai meluas ke Hindia Belanda.

Desember 1941, Ginting Manik pun dengan rombongan lainnya diangkut menuju Singapura. Dari sana kemudian akan menuju Burma melalui jalur darat. Demikian sekenario yang direncanakan. Mengingat cuaca di bulan itu kurang bersahabat dengan dunia pelayaran, ditambah armada laut Jepang yang tiba-tiba bisa menyerang.

Dia atas kapal yang membawanya berlayar ke Singapura, Ginting Manik berharap suratnya ke Sumatera Timur yang sebelumnya telah dikirim, sampai di tangan para sahabatnya. Skenario ini harus berhasil. Karena ini jalan satu-satunya dia dapat kembali ke Sumatera Timur.

Sementara itu, di Sumatera Timur situasi kepanikan akan Jepang semakin mendekat juga terasa. Bagi para sahabat Ginting Manik ini situasi yang sangat menguntungkan untuk menjalankan operasi pembebasan Ginting Manik mergana di Singapura.

Berkedok pedagang, beberapa simbisa berlayar ke Singapura yang dimotori oleh kongsi dagang Poetra Karo – Deli, kini dipimpin oleh Hamidah istri almarhum Amir sahabat baiknya Ginting Manik.

Di Singapura, mereka telah bersiap menanti kedatangan kapal yang membawa Ginting Manik. 

8 Desember 1941, Jepang berhasil mendaratkan pasukannya di Kota Bharu, Kelantan dan berhasil menenggelamkan HMS Repulse dan HMS Prince of Wales dua hari kemudian. 31 Januari 1942 Jepang berhasil menguasai Malaya dan memukul mundur Inggris hingga Singapura. 

Target Jepang berikutnya adalah Singapura. Hal ini menguntungkan bagi Ginting Manik, karena mereka tertahan di Singapura, apalagi sebagian besar pasukan Inggris di Semenanjung Malaya sekarang tekepung di Singapura. 

Setelah Malaya berhasil ditaklukkan, Jepang melancarkan serangan menuju ke Singapura. Hal ini membuat Ginting Manik dan rombongan lainnya harus terlibat dalam perang melawan Jepang. Dalam situasi yang tak terkendali, para sahabat yang telah bersiap sebelumnya menunggu di Singapura akhirnya dapat bertemu dengan Ginting Manik. 

Dengan bantuan sahabat di Singapura dan tentara Inggris dari India yang membelot, mereka pun berusaha meninggalkan Singapura sebelum situasi itu berubah. 

Menumpang kapal barang yang biasa mengangkut komoditi Sumatera Timur ke Singapura, juga tentunya barang milik kongsi dagang Poetra Karo – Deli, Ginting Manik dan kawan-kawan akhirnya berhasil menaiki kapal dan berlayar meninggalkan Singapura

15 Februari 1942 Singapura pun berhasil dikuasai oleh Jepang ditandai dengan menyerahnya Letjen Arthur Ernest Percival dan tentara Britania Raya kepada pihak Jepang yang dipimpin Jenderal Yamashita Tomoyaki. Hal ini mengakibatkan sekitar  130.000 tentara Britania Raya, India, dan Australia menjadi tahanan perang.

Sejenak Ginting Manik mergana dapat bernafas sedikit lega. Tinggal menunggu apa yang akan terjadi di Sumatera Timur. 

Dia sudah tidak sabar untuk dapat bertemu anak dan istri, serta keluarga dan sahabatnya. Khususnya anak keduanya yang belum sempat dilihat olehnya.

 

Bersambung

Sebelumnya:

– Bagian 7: Menjalani Hari-hari Sebagai Tahanan.

– Bagian 6: Kebaikan Mendatangkan Kebaikan.


Leave a Reply