Adiksi dan Gangguan Jiwa

1
229

Dr. Lahargo Kembaren SpKJ (psikiater)

Kepala SMF Psikiatri RS Dr. H. Marzoeki Mahdi, Bogor

 

 

Lahargo Kembarenadiksi 1Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama dengan pihak kepolisian mengamankan lima anak di bawah umur di sebuah Perumahan di Cibubur, Bekasi, Jawa Barat. Mereka diduga ditelantarkan oleh orangtuanya. Ditemukan juga adanya beberapa butir ekstasi di dalam rumah tersebut. Beberapa berita yang dilansir menyebutkan adanya perubahan sikap dan perilaku pada kedua orangtua anak tersebut.

Adiksi (ketergantungan Narkoba) dan gangguan jiwa memiliki hubungan yang erat. Adiksi sendiri sebenarnya termasuk juga ke dalam gangguan jiwa yang menurut PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) digolongkan ke dalam F1: Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif.

Adiksi Narkoba secara langsung merubah otak yang menyebabkannya tidak bisa menentukan prioritas dalam kehidupan dan merubah sikap, perilaku, dan cara berpikir. Di sisi lain, ditemukan juga bahwa orang memakai obat-obat terlarang seperti Narkoba adalah untuk mengatasi kondisi psikisnya yang mengalami gangguan.

Orang dengan gangguan psikotik, depresi dan cemas mencoba dengan berbagai cara mengatasi gangguan alam perasaan dan pikirannya. Sering sekali mereka akhirnya jatuh ke dalam penggunaan Narkoba yang dilarang.

Ketidaktahuan bagaimana cara mengatasi masalah kejiwaan yang dialaminya inilah yang membuat banyak orang kemudian mencari cara alternatif sendiri-sendiri yang sebenarnya tidak tepat.

Beberapa adiksi yang bisa menimbulkan masalah/gangguan jiwa antara lain adalah :

  • Ganja/mariyuana/’cimenk’/’gelek’: Dapat menimbulkan gangguan psikosis yang ditandai dengan gangguan dalam penilaian realitas, ada halusinasi dan delusi.
  • Ekstasi/amfetamin: Merupakan obat stimulan yang dapat menyebabkan munculnya kegelisahan, kebingungan, gangguan pada pola makan dan pola tidur, ansietas dan depresi
  • Heroin/kokain/putaw: Dapat menyebabkan perubahan kepribadian, gangguan dalam membuat keputusan, risiko terkena penyakit HIV/AIDS, hepatitis, psikotik, depresi, cemas
  • Alkohol: Mengganggu fungsi otak dan keterampilan motorik, meningkatkan risiko penyakit kanker, stroke dan liver serta mengganggu hubungan relasi dengan orang lain dan kemampuan kerja
  • Obat batuk/DMP/dextromethorphan/kodein: Dapat menyebabkan efek euforia (senang yang berlebihan), efek disosiatif (merasa bukan dirinya), dan halusinasi

Mereka yang mengalami adiksi perlu mendapatkan bantuan dan rehabilitasi. Melakukan konsultasi yang teratur ke profesional kesehatan jiwa akan sangat membantu mengatasi adiksi yang dialami.

adiksi 3Melakukan pencegahan terhadap munculnya adiksi pada berbagai lapisan masyarakat adalah hal terpenting yang dapat dilakukan, antara lain dengan penyuluhan yang berkesinambungan, memperbanyak kegiatan-kegiatan positif di tengah masyarakat dan kegiatan keagamaan.

Orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK) perlu segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, hindari terapi terapi alternatif yang tidak berbasis bukti karena hanya akan memperlama gangguan tersebut ditangani.

Salam sehat jiwa!


1 COMMENT

  1. Artikel Dr Lahargo Kembaren ini adalah Pencerahan yang sangat bagus dan perlu disebarluaskan kesemua terutama dikalangan orang tua yang sering tidak mengerti kalau anaknya sudah adiksi (candu) obat tertentu. Lebih payah lagi kalau orang tuanya yang adiksi.
    Ada tendensi global atau aliran pikiran tertentu menghancurkan satu nation atau satu kultur dengan obat-obatan terlarang ini dalam rangka menguasai/mendominasi seperti dengan taktik ‘divide and conquer’, sekarang ditambah ‘addiction and conquer’, ‘sex and conquer’, juga ‘HIV/deseas and conquer’, semua dalam rangka membikin satu nation/kultur tak berdaya dan gampang dikuasai dan dikendalikan terutama yang banyak SDA dan daerah subur. Bagi Karo sangat penting artikel ini karena soal-soal diatas sudah jadi darurat.

    MUG

Leave a Reply