PARTICIPANT

0
153

Joni Hendra Tarigan (Pengalengan, Jabar)

 

joni hendra tariganparticipantAda sebuah perumpamaan yang diceritakan oleh keluarga saya di Tanah Karo tentang penentuan siapa penembak banteng yang sering meresahkan warga karena merusak tanaman padi dan jagung. Dua penembak jitu, dimana saling berebut menyatakan pemenang, dikerahkan untuk menembak mati banteng tersebut.

Sistem demokrasi, yakni suara terbanyak,  dianggap tidak bisa memutuskan rasa keadilan dan kejujuran karena salah satu penembak jitu itu berasal dari luar Tanah Karo. Penentuan siapa pemenangnya belum ditetapkan, bahkan ketika hari penetapan tiba, pemerintah setempat pun tidak bisa memutuskan siapa pemenangnya.

Seorang laki-laki permakan (gembala) dengan pakaian lusuh (namanya juga permakan) ingin sekali memasuki acara peresmian siapa pemenang dari dua penembak itu. Sang penjaga keamanan, karena melihat penampilan yang lusuh dan muka terbakar matahari, langsung saja dengan beringas mengusirnya. Si Permakan dengan sabar menanti siapa yang akan disahkan sebagi juara.

Pemuka agama, tokoh adat, pemerintah setempat, semuanya tidak bisa memutuskan siapa pemenang. Hal tersebut membuat pemerintah setempat memberi pengumuman siapa yang bisa memberikan keputusan siap yang sebenarnya pemenangnya. Sang permakan dengan lantang mengajukan dirinya untuk memberi keputusan.

Setelah sang permakan meminta kepastian dari semua hadirin  tentang kesedian  mereka untuk memberikan kesempatan memutuskan siapa pemenangnya, ia pun memerintahkan supaya leher banteng dipotong dan melihat apakah daun padi atau daun jagung yang ada di leher banteng tersebut.  Segera leher banteng pun dipotong, dan terdapat daun padi di lehernya.

Sang permakan menanyakan siapa penembak yang berjaga di ladang jagung? Sang penembak setempat pun dengan tegap berdiri mengacungkan tangan.

“Maka tak mungkin anda yang di ladang jagung yang menembak banteng ini. Lihat daun padi di leher banteng itu. Artinya, banteng datang ke ladang padi dan yang berjaga di ladang padilah yang menembaknya,” ucap si permakan.

Pemenangnya adalah penembak dari luar Tanah Karo.

Tidak ada yang bisa membantah. Pemuka adat, agama, masyarakat atau bahkan mungkin lulusan perguruan tinggi sekalipun tidak bisa menyangkal kebenaran yang diutarakan oleh si permakan. Si permakan yang tidak dipandang sebelah matapun karena hanya seorang permakan, ternyata hanya ia yang mampu menjawab dimana semua orang tidak bisa memberikan solusi.

Hal serupa mungkin terjadi di sekitar kita. Salah satu contohnya adalah proses cepatnya ditemukan lokasi bangkai pesawat Air Asia yang jatuh ketika terbang dari Surabaya menuju Singapura. Helikopter yang hendak meninjau lokasi tidak bisa memuat banyak orang. Para tenaga ahli yang datang dari Jakarta yang disertakan sedangkan nelayan yang melihat pesawat terbang rendah tidak diikutkan.

Saya yakin, nelayan tersebut tidak ikut karena ia adalah seorang nelayan.  Akan tetapi apa yang dikatakan oleh nelayan tentang lokasi pesawat jatuh didengarkan oleh tim SAR yang terbang dengan helikopter dan puing pesawat pun dapat ditemukan dengan cepat.


[one_fourth]dianggap angin lalu saja ketika berbicara[/one_fourth]

Dalam kehidupan berorganisasi  dan bahkan dalam kehidupan keluarga sehari- hari, sering kali orang yang masih berada pada level terendah secara organisasi dihargai secara tenaganya (kuli) tetapi tidak begitu didengarkan pendapat atau masukannya. Masukan akan segera didengarkan jika yang berbicara itu dianggap orang yang memang pintar, dan pada ahirnya banyak orang berkumpul yang terdiri dari orang-orang pintar.  Orang di level bawah dianggap angin lalu saja ketika berbicara, sehingga yang di level bawahpun memilih diam daripada berbicara di tengah orang-orang yang dianggap pintar.

Ketika suatu bencana terjadi, maka orang-orang pintar pun tercengang karena tidak menduga sama sekali. Teori yang selama ini diyakini tiba-tiba saja dipertanyakan oleh orang yang tidak punya kemampuan memberi solusi. Sang pemimpin yang mengandalkan orang-orang yang dianggap pintar pun jadi sasaran karena salah.

Keadaan yang sebenarnya pun didapat dari orang yang menyaksikan suatu bencana, dan ketika dilakukan dialog secara personal maka diketahui orang yang di level bawah tersebut punya kesimpulan dan dugaan yang mendekati apa yang dilihat oleh orang yang berada di tempat kejadian.  Orang yang dianggap tidak kompeten dengan lugas memaparkan bagaimana itu bisa terjadi,  akan tetapi hampir tidak akan pernah dianggap menjadi jawaban atas apa dan bagaimana sebenarnya itu terjadi.

Mugkin lebih baik saya ganti saja  orang bodoh menjadi berfikir sederhana, dan orang pintar menjadi orang yang berfikir rumit. Maka kesimpulan yang bisa saya ambil adalah butuh orang yang berfikir sederhana di tengah orang-orang yang berfikir rumit, dan kehadirannya itu dihargai sehingga keputusan itu bisa menyelamatkan keadaan untuk mendapatkan solusi.



Leave a Reply