Perjamuan Kudus ‘Cimpa Matah dan Lau Pola’

1
262

Kazpabeni Eben Ezer Ginting

 

bode
Foto: Bode Tarigan

ebenSebuah foto dikirim ke group facebook Jamburta Merga Silima (JMS) dengan keterangan: Minggu budaya di GBKP Simpang Marindal, semua pekerja dan jemaat memakai tanda-tanda kekaroan. Perjamuan kudus pakai cimpa matah dan lau pola (Lihat Foto).

Roti memang makanan pokok Yahudi yang dibuat dari berbutir-butir gandum. Dan anggur juga dari sekian banyak buah anggur. Ini dapat dianalogikan sebagai satu kesatuan dari sekian banyak. Tapi kalau dianalisa bahwa roti dan anggur itu secara sacramen adalah tubuh dan darah, saya kira sejak zaman Yesus sendiri pun keduanya hanya sebagai tanda.

Pada saat perjamuan malam sebelum Yesus ditangkap, Ia mengatakan: “Inilah tubuhku, inilah darahku.” Bagaimana mungkin Ia mengatakan itu padahal Ia juga mengambil bagian di dalamnya? Apakah ia memakan dagingNya sendiri dan meminum darahNya sendiri? Tentu tidak.

Tapi, dalam perjamuan itu terdapat sebuah makna Unio Mystica (kesatuan secara mistik/ illahiah), sehingga dengan kata lain, Perjamuan Kudus bukanlah persatuan secara lahiriah saja, tapi mistik. Ini juga yang membuat makna Perjamuan Kudus tidak hanya sebagai peringet-ingeten kerna kesengsaran Yesus, tapi juga pengokohan persekutuan. (Saya menganggap inilah dasarnya sehingga Perjamuan Kudus dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Lakon Persadan Sibadia – yang tidak menjelaskan tentang makan minum dalam istilah itu).

bode 2
Penampilan Kelompok Teater SIRULO pimpinan Ita Apulina Tarigan di Hotel Dharma Deli. Naskah dan sutradara: Juara R. Ginting.

Kaitannya dengan penggunaan Cimpa dan Pola dalam inkulturasi ini, kukira bukan masalah. Di Jaman Perjanjian Baru sekalipun, setahu saya, penggunaan roti dan anggur hanya sebagai simbol karena makanan dan minuman itu yang lumrah di Yahudi. Meski belum pernah ke Yahudi, tapi pasti ada makanan lain yang ada di sana. Tapi pada umumnya dalam jamuan resmi, roti dan anggurlah yang lumrah dan penting (bdk. Saat Yesus mengubah air menjadi anggur di pesta perjamuan di Kana –bagi kalak Karo adi kurang nakan/ adumna sanga kerja-kerja banci ketunduken– ternyata Yesus menyadari itu).

‘Untungnya’, ada pula makna di balik proses pembuatan roti dan anggur itu. Saya khawatir, makna proses pembuatan roti dan anggur -yang melambangkan kesatuan- inilah yang tidak cocok ke kinikaron. Atau, saya curiga, makna menyajikan cimpa matah dan lau pola itulah yang tidak cocok ke Lakon Persadan Sibadia, karena di pesta-pesta/ lakon kerja adatta, belum pernah kulihat/ kudengar cimpa matah dan lau pola harus disediakan.


1 COMMENT

  1. Soal keaslian tradisional Karo tak sama dengan bangsa lain, dan tak perlu menirukan atau memirip-miripkan dengan tradisi bangsa lain. Karo dan budayanya sudah lebih dari 7000 tahun, termasuk bangsa tertua didunia. Sangat memalukan kalau masih bangga menirukan budaya luar.

    MUG

Leave a Reply