Menghindari Politik Adalah Hasutan Kampungan

1
129

Daud S. Sitepu (Papua)

 

daud 1
Para artis Sanggar Seni Sirulo siap-siap hendak tampil

daud  sitepuMenarik memang diskusi tentang politik. Saya suka politik dan sering memperhatikan perkembangan politik di negara kita dan juga Karo umumnya. Apakah politik menakutkan bagi orang Karo?

Sebenarnya tidak takut. Jika tidak takut, kenapa orang Karo jarang atau langka tampil di depan? Misal menjadi Gubernur, menjadi Bupati, tokoh partai, tokoh politik nasional, pejabat pemerintahan seperti menteri, dll?

Lingkungan banyak berperan membentuk karakter kita. Secara budaya lokal sudah baik dengan interaksi adat. Yang masih perlu dikembangkan adalah lintas suku dan lintas budaya.

Kita tidak bisa hidup dalam satu suku saja seperti Karo saja. Kalau secara Karo saja, jumlah dukungan warganya saja tidak cukup memenangkan orang Karo.

Orang-orang Karo yang berpengaruh secara nasional terbatas. Jangan kan secara nasional secara provinsi pun kalah.

Politik banyak juga dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi seseorang. Jika dipadukan antara kemampuan ekonomi dan politik maka berdampak besar terhadap politik yang dianut seseorang. Beberapa contoh kaitan kemampuan ekonomi dengan peran politik yang berpengaruh di Indonesia, seperti Jusuf Kala pernah menjadi Ketua Umum dan Pembina Golkar. Dia adalah saudagar kaya. Demikian juga Surya Paloh, Prabowo, Megawati, Pramono Anung, Harry Tanu, dan lain-lain.

Ada juga yang berperan dalam politik karena pengaruh jabatannya atau keahliannya seperti Wiranto mantan Menhankam, BJ Habibie mantan Menristek cendikiawan yang masuk dalam politik.

Bagaimana dengan Karo? Berapa banyak orang Karo kuliah dalam bidang politik? Berapa banyak yang mempunyai pemahaman baik tentang politik itu sendiri? Pendidikan politik di Karo sendiri seperti apa? Apakah hanya ucapan saja tapi tidak pernah terjun di dalamnya? Adakah pelopor di Karo?

Semua pertanyaan di atas penting agar politik tidak dianggap momok menakutkan sehingga berdampak ke perasaan minder dan kurang percaya diri atau takut dimanfaatkan. Setiap ada event berbau politik yang tujuannya mensejahterakan rakyat malah menghindar. Padahal, rakyat Karo punya hak untuk mengawasi dan mengintervensi pemerintah jika itu memang perlu.


1 COMMENT

  1. Terlambat saya membaca artikel ini. Orang Karo pada umumnya sejak kecil diajari untuk bersikap jujur dan “mehamat”(menghormati orang lain). Juga bersikap bijaksana; menjaga keseimbangan antara “kata tuhu” dan “kata tengteng”. Bila terjadi kecurangan di tengah-tengah masyarakat, mereka pada umumnya memilih menarik jarak dulu, refleksi dulu sebelum mengambil tindakan. Mereka tidak mau bertindak gegabah. Nah, pada akhir-akhir masa pemerintahan Orde Baru (sampai sekarang), perpolitikan di Indonesia sudah sangat parah salah kaprah. Politik yang seharusnya menjadi ajang perjuangan untuk menata hidup berbangsa dan bernegara agar semakin nyaman, damai dan sejahtera, berubah bentuk menjadi ajang persaingan, kecurangan, penindasan, korupsi uang rakyat, menipu masyarakat dengan jargon-jargon yang penuh kebohongan. Legislatifnya, Eksekutifnya, Judikatifnya, di mana lagi yang tidak ada kecurangannya? Bila anda mau masuk ke lingkaran itu dan mau menjadi “pahlawan”, maka anda akan “didepak” dan diterjang. Cara-cara seperti ini sudah sangat mengkhianati perjuangan nenek moyang kita yang sudah mengorbankan nyawa demi kemerdekaan anak cucunya dari penjajahan asing. “Kesah ras dareh kal marenda tukur na merdekanta enda” kata alm Jaga Depari. Mayoritas masyarakat Karo amat risih melihat cara-cara kotor seperti itu. Hatinya amat teriris-iris melihat perlakuan politikus yang bertindak seperti poli-tikus itu. Maka, meskipun sudah meraih gelar Doktor, Insinyiur, Master di UGM, UI, IPB, ITB dlsb., mereka lebih memilih menjadi wiraswasta atau menjadi dosen di luar negeri, sambil mengamati dan mencari jalan mana yang baik menuju perbaikan. Begitu ada gerakan reformasi dari kalangan mahasiswa, mereka mulai ikut mendukung dalam pergerakan dan turut berjuang. Jadi orang Karo bukan orang minder atau penakut. Mereka merasa “berdosa” kalau mengkhianati pengorbanan kakek-kakek kita yang sudah turut berjuang membawa bambu runcing sambil “ndikkar” dahulu.

Leave a Reply