Gebrakan Jatidiri Karo

3
312

Evans Aprilson Sinulingga (Kabanjahe)

 

evans 4
Perkolong-kolong versi Sanggar Seni Sirulo yang diperagakan oleh Erna br Ginting (kiri) dengan Annes Tarigan (kanan) di Berastagi

evansSaya setuju dengan sikap kritis kita tentang Karo jika itu menyangkut identitas yang fundamental. Ini wilayah Karo. Jadi, harus dikedepankan semua hal yang mewakili kinikaron kita; baik itu budaya, bahasa, istilah, bahkan nama-nama sarana umum.

Sebisa mungkin kita tunjukkan identitas Karo kita.

Tapi, apakah kita harus meredam bahkan menghalangi jika ada warga di luar Suku Karo untuk berkarya dan memberikan sumbangsih bagi kemajuan Karo ini?

Kita juga punya nama jalan yang bukan nama orang karo (Jl. Abdul Kadir, misalnya), tapi toh kita tidak pernah protes atas nama ini. Mengapa? Karena beliau mempunyai jasa dan karya buat Taneh Karo tercinta.

Kita harus memulai menghargai sendiri identitas kita, menghidupkan kembali budaya kita, bukan mendiskreditkan suku lain yang ada di Karo. Kita juga butuh pembauran tapi dengan tetap menjunjung tinggi budaya lokal, yaitu budaya Karo itu sendiri.

Bagaimana kita dibilang cinta Karo kalau menarikan tarian Lima Serangke saja kam tiak bisa. Kam tidak kenal keteng keteng, baluat, surdam, penganak, kulcapi, tumbuk lada, dan sumpit perakan pun kam tidak kenal lagi karena kam lebih banyak duduk di lapo tuak, minum sambil bergitar saja. Tentu kam lebih banyak menyanyikan lagu-lagu Batak.

Tentu kam tidak lagi menyanyikan lagu-lagu Pecat-pecat Seberaya, Terang Bulan, Nangkih Deleng Sibayak, Bulan Purnama Raya, Lasam-lasam, Mejuah-juah, Taneh Karo Simalem, ataupun lagu Simulih Karaben.

Sudah saatnya kita tunjukkan dan bangkitkan lagi identitas kekaroan kita, tapi tanpa harus bergesekan dan mengkonfrontasi suku yang lain. Ayo tunjukkan kelebihan kita, buktikan prestasi kita, bangkitkan kembali identitas Karo Simalem ini. Salah satunya adalah, jangan malu mencantumkan merga atau beru di belakang nama kam. Gunakan sapaan khas Karo setiap berjumpa dengan sesama (bukan malah say Hi atau… Hello apalagi Horas).

evans 3
Mahansa Sembiring (berdiri) dalam sebuah penampilan Sanggar Seni Sirulo di Berastagi. Terlihat Bejenk Ginting (duduk di tengah) dalam penampilan yang sama.

Aku setuju bahwa Karo Bukan Batak, tapi dalam hal adat, budaya, bahasa silsilah, ataupun asal usul. Tapi, bukan ini yang membuat kita tidak bisa berdampingan dengan suku-suku lain selama kita masih saling menghargai adat dan budaya masing-masing dan tidak mengklaim secara sepihak bahwa Karo adalah bagian budaya lain.

Mari kita kembalikan identitas kita itu ke tempat selayaknya. Kita butuh gebrakan dan karya nyata saat ini. Saya khawatir kalau identitas Karo kita akan terkikis hilang dan tertindih oleh budaya dan adat lain.

Ula lupa Pelajari Orat ras Tutur……. Mejuah juah man banta kerina……………….


3 COMMENTS

  1. Tulisan EAS sangat banyak mengingatkan kita untuk kembali ke dasar budaya kita dan dalam saling hubungannya dengan suku/kultur lain. Dalam soal ’pembauran’ atau migrasi suku lain di Karo dimana Karo sebagai pemilik tanah ulayat dan mayoritas sebagai budaya lokal, EAS bilang: ”Kita harus memulai menghargai sendiri identitas kita, menghidupkan kembali budaya kita, bukan mendiskreditkan suku lain yang ada di Karo. Kita juga butuh pembauran tapi dengan tetap menjunjung tinggi budaya lokal, yaitu budaya Karo itu sendiri”. Ini bagus dan juga edukatif.

    Dalam soal pembauran ini, dari segi akademis, Harvard professor of political science Robert D. Putnam bilang kalau dimasyarakat multikulti saling percaya sangat rendah, dpl sosial kapital sebagai basis kemajuan sangat rendah juga. Ini terutama kalau di masyarakat itu atau di lokal itu tak ada suku dominan karena dominasi suku lokal sudah direbut pendatang sepert di Deliserdang.

    Ethologist Frank Salter dalam hal ini juga tulis: Relatively homogeneous societies invest more in public goods, indicating a higher level of public altruism. Lebih jauh lagi Salter bilang bahwa ‘open borders movement is profoundly immoral’.Jadi sikap burung cuckoo yang mengembangkan genetiknya dikandang orang lain adalah immoral.

    Sedikit lebih lembut prof MacDonald bilang ‘Minorities (pendatang-MUG) should be welcomed, but they should not be able to remake society in their own image’. MacDonald secara tak langsung menyetujui pepatah arif kita ‘dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung’. Hanya saja sekarang harus ditambahkan jangan seperti burung cuckoo. Mengembangkan genetiknya di kandang orang lain untuk mendominasi budaya lokal. Ini sangat immoral, tidak menjunjung tinggi langit lokal atau budaya lokal.

    Orang Karo punya contoh serius dalam perusakan modal sosial Karo di daerah ulayat Karo Deliserdang karena kekuasaan pendatang yang seharusnya “they should not be able to remake society in their own image” (prof MacDonald) telah berhasil mendominasi dan menyisihkan kekuasaan dan budaya lokal dan terus menerus merusak lingkungan tanah ulayat orang Karo Deliserdang.

    MUG

  2. “Aku setuju bahwa Karo Bukan Batak, tapi dalam hal adat, budaya, bahasa silsilah, ataupun asal usul. Tapi, bukan ini yang membuat kita tidak bisa berdampingan dengan suku-suku lain”.

    Betul sekali perumusan ini EAS. Betul karena KBB mencerahkan perbedaan sehingga kita “saling menghargai adat dan budaya masing-masing (menghargai perbedaan-MUG) dan tidak mengklaim secara sepihak bahwa Karo adalah bagian budaya lain”. Indah, indah, . . . keindahan yang bisa dinikmati bersama. Maju terus Karo.

    MUG

  3. “Bagaimana kita dibilang cinta Karo kalau menarikan tarian Lima Serangke saja kam tiak bisa.”
    Berat juga syarat ‘cinta Karo’ Pak Sinulingga ini, hehehe . . . , berat terutama bagi orang-orang muda
    Karo yang sudah jauh dari kuta kemulihen.

    Salam mejuah-juah

    MUG

Leave a Reply