Semangat Inkulturisasi Karo

1
193

masjid 2bastantaBASTANTA P. SEMBIRING. MEDAN. Inkulturisasi atau integrasi dengan budaya merupakan sebuah pemikiran untuk mendekatkan diri kembali kepada kearifan lokal. Gerakan pemikiran ini bukanlah hal baru, mungkin penggunaan istilah saja yang berbeda.

Misalkan, seperti yang terjadi pada gereja Ortodox di kawasan Eropa Timur yang menuntut dan mengembangkan kekhasannya yang berbeda dengan di Barat. Kemudian gerakan demikian lebih populer kita kenal dengan Etno-nasionalisme.

Pdt. Edi S. Ginting, seorang teolog Kristen-Karo yang selama ini mengkonsentrasikan dirinya untuk mempelajari sejarah gereja dan asketisme, mengatakan, “[…] yang tidak berakar kepada budaya lokal (integrasi dengan budaya lokal) tidak akan mampu bertahan.” Ini nyata dan disadari, sehingga memasuki abad 21, semangat inkulturisasi kian tumbuh berkembang.

Di organisasi, lembaga, ataupun kelompok kekaroan sendiri, tentunya inkulturisasi atau sejenisnya (kontekstual), perkembangannya sangat terasa dari penggunaan bahasa, ritual, hingga gaya arsitektur bangunan (seperti pada gereja St. Fransiskus Asisi di Berastagi, ataupun salah satu bangunan Masjid di Patumbak yang mengadopsi gaya arsitektur Karo).


[one_fourth]Masjid Karo[/one_fourth]

Berkaitan dengan bangunan Masjid yang bergaya arsitektur Suku Karo di Patumbak, hal ini tentunya sangat wajar, mengingat Patumbak yang kini kita kenal sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Deliserdang yang secara tradisional merupakan wilayah Urung Senembah. Urung ini adalah salah satu diantara beberapa Urung (negeri/kerajaan) Suku Karo di Karo Hilir (Karo Jahe) yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja urung (bapan urung). Urung Senembah dipimpin oleh seorang raja urung dari merga Karo-karo Barus.

Patumbak juga dulunya merupakan ibu kota dari Urung Senembah di Deli dan merupakan tanah ulayat Suku Karo: suku asli yang mendiaminya.

masjid 3Dari informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat, dikatakan kalau Mesjid yang berdiri di atas lahan eks PTPN ini merupakan swadaya masyarakat. Sebagian besar dari Suku Karo dan etnis lainnya, seperti Melayu dan Jawa. Sehingga tak jarang orang juga sebut ini Mesjid Karo, karena dibangun oleh dan dengan gaya arsitektur Karo.


1 COMMENT

  1. Tulisan BPS ini sangat mencerahkan dan inspiratif bagi suku Karo dan juga pastilah juga inspiratif bagi suku-suku lain dalam menghargai dan menilai (kembali) budaya dan kulturnya sebagai tempat berpijak yang lebih kukuh dalam mengexpresikan perbedaan bhinneka tunggal ika.
    Semakin banyak anak-anak muda Karo memahami persoalan ini, berarti semakin banyak pula manusia Karo yang mampu memberikan pencerahan ilmiah tentang perjuangan keadilan suku-suku bangsa Indonesia demi perubahan dan perkembangan kemajuan bersama nation Indonesia dan juga dunia.

    Pikiran ini dan pikiran kearifan lokal pada umumnya sangat kompatibel dengan perubahan dan peningkatan kesedaran manusia abad 21. Bandingkan dengan The Clash of Civilizations Huntington dan The Clash of Emmotions Moisi.

    Maju terus anak-anak muda Karo. Nasib Karo dan Nation Indonesia ditanganmu.

    MUG

Leave a Reply