Kolom Ita Apulina Tarigan: PERDAGANGAN ANAK

0
134

 

ita-13.jpgperdagangan anak 2Suatu malam yang mendung tetapi terang, saya menyusuri jalan protokol di Kota Siem Rep, Kamboja. Waktu itu, belum lagi Pukul 10.00, tetapi jalanan tidak begitu ramai. Yang berjalan kaki jarang, umumnya orang-orang berseliweran menggunakan tuktuk.

Peraasaan enjoy sekali waktu itu, sehabis makan sea food dan minum bier di Night Market. Malam yang indah, beberapa orang melempar senyum ramah di jalanan.

Tiba-tiba, di seberang sana, seorang bule setengah baya dengan tas kamera terselempang berjalan tergesa-gesa. Tangan kanannya memegang erat seorang bocah lelaki kecil yang sibuk menjilati es krim sambil berjalan. Anak itu terseok-seok mengikuti langkah panjang si bule. Umurnya sekitar 8 tahun, kelihatannya ceria. Bajunya tidak terkancing. Aku terpaku di seberang sini.

Tiba-tiba seafood dan bier rasanya naik ke tenggorokan ketika aku membayangkan sebuah video yang pernah kutonton di youtube tentang pemulihan anak-anak korban pedofil di Bali. Terlintas berkali-kali pengakuan si anak yang diperkosa kepada si konselor.

Dan… huekkk… akupun muntahlah di jalanan kota Siem Rep malam itu. Dan, itu menjadi malam yang panjang, karena bocah yang menjilat es krim itu akhirnya menjadi mimpi burukku. Ketika kembali ke Indonesia, akupun mulai rajin menyusur video tentang perdagangan anak dan pedofil di Asia Tenggara.

Sungguh, sungguh sangat memuakkan. Menghancurkan hati, melemahkan semangat dan membuat ngilu. Seperti halnya kejahatan terorganisir lainnya yang selalu dikerjakan dengan rapi dan sistematis, perdagangan anak seolah-olah selalu jadi berita yang mengejutkan. Komentar ngeri, sedih dan menguras air mata selalu mengiringi kasus yang terkuak di publik. Padahal, dalam pikiran pesimisku, saat ini, kita hidup bersama mereka yang berdagang manusia. Mereka ada di tengah kita. Siapapun di antara kita dapat menjadi korban.

Beberapa modus yang kerap terdeteksi adalah para pelaku biasanya beraksi di daerah miskin ataupun bencana alam. Ketika gempa dan tsunami melanda Aceh dan Nias, tidak sedikit cerita yang memilukan anak-anak yang terkena bencana diperjualbelikan. Sebagian dengan dalih akan disekolahkanb atau dirawat. Banyak diantara mereka berhasil digagalkan dan diselamatkan. Tidak kurang pula yang tidak ketahuan rimbanya.

perdagangan anak 3Child trafficking saat ini digolongkan sebagai kejahatan trans internasional sebagaimana halnya dengan Narkoba. Para korban yang rentan biasanya berlatarbelakang anak dari keluarga miskin, anak dengan pendidikan terbatas, anak-anak putus sekolah, korban kekerasan (fisik, psikis dan seksual), anak jalanan dan korban penculikan.

Ada beberapa undang-undang yang sudah dibuat pemerintah untuk mencegah child trafficking tetapi rasanya belum menyentuh ke akar-akar persoalan. Sudah saatnya kita sebagai anggota masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap keluarga dan lingkungan kita. Beberapa kasus yang terjadi justru karena kurangnya rasa peduli orang-orang sekitar. Termasuk waspada terhadap perubahan perilaku anak-anak kita.

Leave a Reply