Kisah Bersambung: GINTING MANIK MERGANA (11)

0
163

Semua Telah Berubah

kisber 15


[one_fourth]Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah)[/one_fourth]

“Ku ja aténdu é, Mbuyak?”

Kempak tiga éna lebé, Yak,” jawab Darma.

Sambung Darma dengan bertanya balik: “Kam ku ja kin aténdu é?”

Ku tiga ka ngé, Mbuyak.”

Adi bagé radu kita mari,” kata Darma kepada sahabatnya.

Mereka berdua pun berjalan menuju ke arah tiga. Di perjalanan kedua pemuda ini banyak bercerita.

Uga nge impalta oh, Yak?”

Isé katandu é?” Darma bertanya balik.

Jawabnya: “Beru Ginting Manik oh. Ise ka kin.” 

Tanya Darma kembali: “Ugaka kin iakapndu beru Ginting oh?”

Jawabnya dengan melempar pertanyaan lagi: “La ngé pepagi aténdu morah nandangi beru Kalimbubu oh?”

Uga ngé, ninta Mbuyak, adi labo padanna kin. Kai gia ninta labo terpaksaken.

Uga maka bagé nindu?” tanyanya lagi kepada Darma.

Lanjut lagi katantanya: “Uga maka talu ka kam ras kalak pertandang oh. Adi kerna jabu Ginting Manik Mergana ras Sitepu Mergana kuakap kerina ngé anak kuta é ngangkaisa. Adi pang kin beru Ginting oh, é ‘enggo meléwatsa.”

Labo man paksan kel é,” kata Darma datar menjawabnya.

Adi anak kuta é, kerina ngé meteh kerna sura-sura jabu Sitepu Mergana sini aténa muat beru Ginting oh. Mé méla naring kari siakap é adi sempat ka beru Ginting oh ibaba kalak pertandang?”

Darma hanya diam saja. 

Di pertigaan, kedua pemuda seperti melihat seorang gadis cantik yang sedang berjalan ke arah perjuman. Ke arah kiri dimana mereka saat itu sedang berdiri.

Labo beru Ginting Manik kin oh?”

Uai!” Jawab Darma.

Lalu kata Darma kepada saudaranya itu: “Lebén saja kam ku tiga, Mbuyak.”

Mereka pun berpisah. Darma berbelok ke kiri menuju arah yang dituju beru Ginting Manik; hendak mencari tahu apa sesungguhnya yang ingin dilakukan beru Ginting Manik dengan mengikutinya. Sedangkan saudaranya itu meneruskan perjalanannya ke arag tiga.

Dari kejauhan Darma melihat beru Ginting Manik menemui seorang pria. Melihat pria itu adalah seorang yang juga sangat dia kenal. Darma pun berbalik dan meneruskan perjalanannya menuju tiga.

Beberapa saat kemudian, tiga menjadi riuh dengan berita yang cepat tersebar, kalau Ginting Manik mergana ditangkap oleh polisi karena melakukan pembunuhan terhadap seorang pria dan wanita di jalan, yang diketahui juga orang yang sangat dekat dengannya.

Masyarakat berspekulasi kalau kejadian ini dilatarbelakangi konflik asmara. Dimana Perangin-angin mergana menjalin hubungan istimewa dengan turang Ginting Manik mergana yang belakangan sangat diingini jabu Sitepu Mergana untuk menjadi menantu di keluarga mereka.

Orang-orang berasumsi, oleh karena tekanan yang terus-menerus dari jabu Sitepu Mergana dan rasa berhutang budi, maka tersulut emosi saat melihat turangnya bersama dengan Perangin-angin yang sebelumnya telah mendapat larangan olehnya, diapun gelap mata dan membunuh sahabatnya Perangin-angin mergana.

Di saat yang bersamaan, beru Ginting Manik yang juga di tempat itu, tentunya menghalangi niat buruk Kaka Tua-nya; sehingga, dia pun menjadi korban dari kemarahan turangnya.

Namun, apakah demikian benar adanya? Tidak seorang pun tahu pasti selain Ginting Manik mergana sendiri. Yang jelas, bukti terkuat kalau pelakunya adalah Ginting Manik.

Veld Politie yang saat itu kebetulan lewat melihat Ginting Manik dengan tangan yang bercucuran darah segar, serta tumbuk ladanya yang masih menancap di bagian perut Perangin-angin. Jadi, bukti sangat jelas, kalau satu-satunya pelaku penyerangan yang mengakibatkan kematian Perangin-angin mergana, adalah Ginting Manik. 

Atas kejadian ini, Ginting Manik mergana harus menjalani hukuman dan pembuangan (verbanning) jauh dari kuta. Di masa kolonial, hukuman pembuangan ataupun menjauhkan terhukum dari kampung halaman dan keluarga biasa diberlakukan bagi mereka yang terdakwa melakukan kejahatan berat, termaksud apa yang didakwakan kepada Ginting Manik mergana.

Semenjak itu, hubungan keluarga Ginting Manik Mergana dengan keluarga Perangin-angin Mergana memburuk, dan, menjadi kian memburuk akibat pernyataan-penyataan bermusuhan dari kedua belah pihak dengan mengangkat sumpah atas keturunan mereka yang mengharamkan untuk sibuaten. Setiap perjabun yang dilakukan antara keturunan kedua belah pihak akan berakhir pada mala petaka. Demikian sumpah mereka.

* * * *

kisber 16Dua tahun kemudian setelah kejadian itu dan Ginting Manik pun telah menjalani hukumannya di pembuangan. 

Memanfaatkan situasi yang kacau akibat perang Asia Timur Raya yang diprakarsai oleh Jepang, kini Ginting Manik mergana dapat kembali ke kutanya. Namun, semua telah berubah. Sepeninggalan Pengulu Sitepu Mergana dan masuknya kekuasaan Jepang, merubah kuta yang damai dan sejahtera menjadi kuta yang dilingkupi ratapan dan air mata.

Awalnya kedatangan Jepang disambut baik oleh banyak pihak. Namun, lambat laun Jepang pun mengambil alih segalanya dan menerapkan sistem kerja paksa bagi penduduk Bumi Putera.

Tidak sedikit kaum pria dibawa ke Burma dan Thailand untuk mendukung militer dan membangun infrastruktur bagi Jepang di sana. Hal ini menimbulkan perlawanan dari para laskar. 

Simbisa yang menentang disiksa dengan sadis, seperti yang terjadi pada Raja Urung Lima Senina Boncar Bangun di Karo Gugung (1944), yang disiksa dan dipompa dengan air dari mulutnya hingga mati. Masih banyak kisah pilu semenjak Jepang berkuasa di Nusantara.

Masuknya Jepang ke Sumatera diawali dengan penyerbuan Kota Palembang (Sumatera Selatan) pada 12 Pebruari 1942 dan berhasil dikuasai pada 16 Pebruari 1942.

Palembang merupakan salah satu pusat perminyakan Belanda. Tentunya kota ini sangat berarti sebagai salah satu sumber penyokong kekuasaan Hindia Belanda. Ini juga berkaitan dengan strategi Jepang untuk memutus hubungan kekuatan pusat di Batavia (Pulau Jawa) dengan daerah, membuat ruang gerak kekuatan militer Hindia Belanda terbatas.

Artinya, pasukan dari daerah tidak akan dapat ditarik ke pusat di Batavia, demikian juga pasukan dari pusat tidak akan dapat membantu ke daerah di Sumatera, karena akan terhenti di Palembang yang lebih dahulu telah dikuasai.

Taktik ini mengingatkan kita kepada teknik menghentikan meluasnya kebakaran dengan membakar terlebih dahulu semak di depan arah api bergerak (menjalar), sehingga saat semak belukar telah bersih, maka jalan api akan terhenti. Satu taktik yang cerdas yang dikakukan pasukan Jepang.

11 Maret 1942, Sumatera Timur berhasil dikuasai oleh Jepang, dimana sebelumnya pada 8 Maret 1942 Belanda secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang dipimpin oleh Letjend Imamura melalui perundingan di Kalijati.

Sekembalinya Ginting Manik disambut baik oleh para simbisa. Namun, dia menjadi pemurung karena kesedihan yang sangat melanda hatinya. Kehilangan Amir sahabat baiknya, Perangin-angin dan turangnya; kini saat kebahagiaan yang diimpikan selama ini untuk dapat kembali ke kuta dan berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya tiba, tetapi ternyata itu hanya tinggal mimpi saja.

Nini Ginting dan bengkilanya Sitepu Mergana (bapa pengulu), serta beru Kembaren kekasih hatinya, ibu dari anak-anaknya, kini telah tiada. Satu saudaranya menjalani kerja paksa ke Sawah Lunto (Umbilin), satunya lagi dikabarkan bergabung dengan simbisa dan bergrilya, serta yang satu lagi tidak ada kabar beritanya semenjak kedatangan Jepang. Tidak akan ada lagi orang yang sanggup melindungi dan membantunya dari permasalahan.

Dia hanya berdiam diri saja di barungnya di perjumaan, karena kuta tidak aman lagi dan banyak penduduk yang mengungsi memilih tinggal di juma-juma atau di hutan bambu. 

Nini Karo, satu-satunya yang tertinggal orang yang selama ini dapat diandalkan olehnya, pun kini tinggal wanita tua tak berdaya. Semua sudah berubah. Pengaruh dan kebesaran keluarga Sitepu Mergana tidak tampil di mata Jepang. 

Seperti lazimnya dilakukan penguasa di tanah jajahan. Satu keluarga dibangkitkan untuk menjatuhkan keluarga yang lain, demikian dimasa transisi kekuasaan antara Hindia Belanda ke tangan Jepang. Tampaknya keluarga Sitepu Mergana harus kehilangan pengaruhnya dan diganti oleh keluarga yang lain.

Perubahan ini tentunya sangat mempengaruhi Ginting Manik mergana. Tetapi hidup harus terus berjalan, apalagi kedua anaknya kini sangat membutuhkan dirinya.

Bersambung


Leave a Reply