Kolom M.U. Ginting: Omong, Tulis, Lakukan!

0
139
karo jahe 2
Kedua foto dari penampilan Sanggar Seni Sirulo di Tigajuhar (Deliserdang) yang disutradarai oleh Juara R. Ginting

M.U. Ginting 2“Masyarakat Karo tidak punya semangat memperjuangkan daerahnya, karena masih sangat sibuk memperjuangkan pribadinya,” menurut komen Ingan Apul Sitepu di berita Sora Sirulo tentang Karo Jahe Terabaikan.

Betul juga gambaran ini. Kesibukan pribadi jadi melupakan kesibukan umum, kepentingan jangka panjang daerahnya sendiri dan sukunya sendiri. Tetapi, para pendatang tak pernah melupakan dan sibuk tiap hari sehingga kekuasaan di daerah ulayat Karo ini pindah ke tangan mereka dan mereka rusak lingkungan yang jelas-jelas bukan demi Karo.

“Elit Karo di daerah ini kurang berperan untuk menjadi Tuan di tanah sendiri … Orang Karo yang punya kuasa hanya perkaya diri sendiri …” kata Eliser Barus mengkomentari berita yang sama.

Kalimat ini jelas menggambarkan kenyataan konkret di daerah ulayat Karo yang satu ini. Politik ‘nina bobok’ sering dipakai dalam persaingan untuk menguasai satu daerah/ suku tertentu. Penduduk asli orang Indian di USA atau Aborigin di Australia, dininabobokkan dengan minuman keras, sex, dan pelacuran. Kekayaan belum dikenal saat itu. Di Deliserdang, sudah bisa dininabobokkan dengan kekayaan. Salah satu paling penting ialah dengan merusak lingkungan.

Hutan sudah habis, dan sekarang Galian C. ’Rusak dan Kuasai’ di sini sebagai pedomannya. Ninabobokkan dan kuasai.

Di Karo Gugung dengan judi, Narkoba, pelacuran (AIDS) dan juga usaha menjual tanah-tanah subur. Ada juga usaha keras dari pejabat mumpung suku lain (saingan) walaupun dengan cara sangat terselubung tetapi umumnya penduduk Karo Gugung ini lebih terbuka matanya dan bisa melihat. Satu contoh ialah pegawai pendatang Aqua Doulu sudah dibelejeti tempo hari.

Salah satu lagi yang perlu diwaspadai ialah bahwa kunjungan orang-orang penting ke Karo yang pasti akan meningkatkan prestasi Karo sebagai suku/ kultur/ daerah seperti presiden atau pejabat penting lain, bisa di’lobbi’ ke Pusat oleh pejabat mumpung ini sehingga tak jadi  datang. Ini penting dalam taktik/ strategi ethnic competition. Satu dua patah kata soal ‘keamanan’ langsung saja tak jadi datang.

Pertinggi kewaspadaan dalam ethnic competion, ini sangat menentukan nasib dan kelangsungan Karo sebagai kultur/ suku dan daerahnya. Jangan sampai bernasib seperti Indian dan Aborigin. Jangan sempat orang Karo ditaruh ke reservat dan tinggal ambil saja tanahnya dan daerahnya bagi suku-suku pesaing dalam ethnic competition yang tak terelakkan itu.

Omongkan, Tuliskan, Lakukan. Ini tak pakai biaya tetapi mujarab sebagai taktik SURVIVAL suku/kultur dalam abad elektronik ini. Kalau tak mau ngomong, kita diomongkan. Kalau tak bikin apa-apa, orang lain bikin untuk kita, dan jangan tanya apa dia bikin. Kekuasaan diambilnya, pusat dilobbinya, itulah yang terpenting sudah terjadi di Deliserdang. Ingat 9 desa  Bangunpurba. Awas dengan pemindahan ke pasar induk Delitua, diúbah jadi ‘nasional’ bukan lagi Karo. Berangsur-angsur dikeluarkan dari Karo, padahal daerah ulayat Karo.

Ayo maju terus anak-anak muda Karo  Berikan dukungan kepada semua pemuda yang lain yang sudah mulai bertindak.


[one_fourth] Omongkan, Tuliskan, Lakukan![/one_fourth]

Kalau tak bisa lakukan, omongkan. Kalau tak bisa omongkan, tuliskan, umumkan ke seluruh dunia. Itulah abad keterbukaan, transparansi. Itulah bagian penting penyelesaian soal kemanusiaan abad ini. Tak ada jalan lain. Jalan gelap-gelapan era komunisme atau era intelijen mata-mata rahasia sudah berlalu.

 


Leave a Reply