Doa Malam untuk Anak Sinabung

0
164

Rikwan Sinulingga (Kabanjahe)

 

rikwan sinulinggaevakuasi 1Pukul 00:47 wib, saat memulai doa tidur malam. Tiba-tiba dalam pejaman mata muncul bayangan tadi sore. Para pengungsi Sinabung diangkut dengan truck & mobil-mobil pick up. Wajah yang sedih dengan tatapan kosong tanpa langkah pasti dibawa ke mana, pasrah….!!

Bayanganku fokus ke sosok wajah seorang IBU setengah baya. Dia duduk paling belakang mobil pick-up. Menghadap ke belakang tepat ke arahku yang mengikuti dari belakang sambil berjalan sepulang dari kantor. Si ibu dengan memeluk gulungan kain seadanya dan mengelus rambut putranya yang berusia sekitar 3-4 tahun.

Dia melempar senyum untuk menutupi kegalauan dan kecemasannya. Sang anak membalas tatapan dan senyuman sang ibu dengan sejuta pertanyaan:

Kita dibawa ke mana, mak?

Kita akan tidur di mana, mak?

Kita akan makan apa, mak?

Kapan kita akan pulang, mak?

Rumah kita di kampung siapa yang jaga, mak?

Anjingku si Mopi dan ayamku si Jago siapa yang kasih makan, mak?

Tanaman di ladang kita.

Kol kita, kentang kita, sayur kita, kopi kita, tomat kita, cabe kita …

Siapa yang akan memanennya untuk dibawa ke pasar, mak?

Aku mau sekolah kan, mak?

Kalau tanaman kita sudah dipanen kan uangnya bisa untuk daftar TKku, mak.

Beli baju dan sepatu TKku, beli tas yang gambar “angry bird”, mak?

Ayolah mak kita pulang saja ke rumah kita, mak.

Walaupun rumah kita dari bambu tapi aku lebih suka tidur di rumah kita, mak.

Daripada ramai-ramai tidur di Posko pengungsi, mak.

Ayo kita pulang ke rumah kita mak … ayo mak….!!!??

evakuasi
Sebuah kesibukan saat mengevakuasi warga Mardinding. Foto: Leopold Kennedy Adam.

Sang ibu hanya diam terdiam dengan tatapan kosong sambil terus mengelus-elus rambut anaknya. Sesekali menoleh ke arah semburan awan panas Sinabung yang kian mendekat. Si ibu kembali menoleh ke arahku yang persis mengikuti dari belakang, dengan tatapan kosong seakan meminta: “Dek, tolong bantu saya untuk menjelaskannya.”

Dalam hatiku: “Maaf, ibu. Saya juga tidak sanggup menjelaskannya!”

Tanpa sadar air mata jatuh sambil menancap gas mendahului iringan kendaraan pengungsi Sinabung. Tanpa berani lagi menoleh ke arah mereka. Saat-saat ini teori “Mestakung” (Semesta Mendukung) tak lagi berlaku kecuali “Mestatalakung” (Semesta Tak Lagi Mendukung).

Tanpa sadar Doaku malam ini hanya untukmu saudaraku pengungsi Sinabung, terutama buatmu ANAK SINABUNG. Semoga kondisi ini bisa normal kembali dan anak-anak Sinabung bisa kembali ke rumah yang kau rindukan. Bisa bermain di tengah ladangmu yang berhamparan hijau sayuran di saat kedua orangtuamu bekerja di ladangmu dan harapan untuk sekolahmu kelak.

Itupun jika tak hancur dihempas awan panas Sinabung. Untuk kembali bermain bersama Si Mopi dan Si Jago yang kau sayangi. Itupun jika masih bertahan dari terjangan awan panas Sinabung.

Teruslah mengukir masa depan yang kau impikan . Yakinlah, Tuhan Punya Jalan, Amin!


Leave a Reply