Kolom M.U. Ginting: DEMOKRASI SUKU

0
122

M.U. Ginting 2demokrasiDalam membuka 2 soal penting negeri ini, ternyata saling membelejeti jauh lebih baik dari pada saling melindungi. PDIP membelejeti kasus Century, Demokrat membelejeti kasus BLBI. Melihat dan meneliti persoalan dari segi-segi bertentangan. Luar biasa! Dan, pastilah akan menghasilkan sesuatu yang diinginkan rakyat kita.

Itulah perubahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan era diktator Soeharto dimana semua melindungi Soeharto dan Soeharto melindungi semua (koruptor, jagal, penculik, perambah hutan, perusak lingkungan, Petrus, dst). Indonesia sekarang dalam proses akan menjadi nomor 1 di dunia dalam pembelejetan kegelapan; termasuk korupsi (adanya KPK), soal keterbukaan dan dalam soal penting era Abad 21 yakni pemberdayaan kultur dan budaya dalam expresi KEARIFAN LOKAL.

Hanya Indonesia yang sudah maju jauh dalam soal ini. Artinya, sudah semakin banyak orang dan pejabat/ pemimpin negeri ini memahami soal ini dan semua berusaha menerapkannya.

’Indonesia Hebat’ itulah dia, kompatibilitas dengan perubahan dan perkembangan dunia. Juga sikap berdikari yang tegas dari presidennya. Ini malah ditunjukkan juga dalam upacara perkawinan Gibran sebagai anak seorang presiden. Tak ada negeri lain yang lebih maju dalam soal-soal ini.

Dengan perkembangan pikiran maju Indonesia dalam soal berdikari dan kearifan lokal, ada kemungkinan Indonesia menjadi perintis pertama DEMOKRASI ETNIS dunia (demokrasi kultur) dalam menggantikan demokrasi borjuasi/ liberal dunia yang sudah berjalan sejak revolusi borjuis Prancis.

Demokrasi etnis akan manjadi unsur penting TRISAKTI, unsur kultur budaya sebagai patokan demokrasi dalam menangani kontradiksi kekuasaan (politik). Demokrasi liberal barat import era kolonial ini sudah terlalu kolot untuk dipaksakan, karena sudah jelas tak sesuai dengan kultur dan budaya rakyat negeri ini. Demokrasi liberal Barat adalah hasil dari kultur/ budaya Barat.

demokrasi 1Demokrasi rakyat kita sudah jauh lebih tua dan lebih sesuai bagi kita daripada demokrasi Barat yang sudah banyak bikin kekacauan dan bahkan kematian. Lebih dari 3 juta orang dijagal untuk menjaga demokrasi Barat itu, serta lebih dari 70% hutan dan SDA dihabiskan demi demokrasi liberal Barat itu. Cukuplah sudah.

Mari kembali ke keaslian demokrasi kita yang jauh lebih tua dan lebih arif dari demokrasi liberal Barat. Mari bermusyawarah dan bergotong royong. Keaslian dengan keikhlasan luar biasa penduduk asli negeri ini kita hidupkan kembali. Semuanya terbuka dan transparan. Itulah survival kita. Itulah senjata kita, kita perkuat dalam melawan dan menantang semua kegelapan yang masih berkeliaran sebagai akibat pengaruh demokrasi liberal Barat itu.

Mari kembali ke leluhur kita. Di Medan sudah dimulai atas inisiatif dan anjuran walikota Medan Dzulmi Eldin dan HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia) Medan.

Bravo nation Indonesia!


Leave a Reply