ASOSIASI KOPI TANEH KARO (AKTK) (2)

0
156

Harapan baru itu harus dibarengi peningkatan kualitas Kopi Karo. Ingat, tanpa Kimia !!!

kopi karo 4
Petani kopi Karo. Foto: ITA APULINA TARIGAN.

 

Laporan Wartawan Sora Sirulo: Rikwan Sinulingga (Kabanjahe) 

 

rikwan sinulinggaPentingnya pembentukan Asosiasi Kopi Taneh Karo (AKTK) dapat kita telusuri ke kisah yang dituturkan oleh Bandar Riantono Brahmana yang merupakan satu diantara beberapa narasumber dalam diskusi pembentukan AKTK di Gedung Aula Kecamatan Kabanjahe beberapa hari lalu [Selasa 16/6]. Dia punya pengalaman pahit 2.

2 tahun lalu ada temannya yang menganjurkan agar kopi dari Taneh Karo disertakan masuk pabrik penggilingan bubuk kopi saat itu. Sekitar 10 ton banyaknya untuk diekspor.

“Begitu masuk pabrik dan diuji kualitasnya, langsung ditolak. Rugi besar saya. Mulai saat itulah saya tidak berani lagi memasukkan kopi Taneh Karo untuk pasar ekspor,” tuturn ara sumber ini.

Selanjutnya, Brahmana mergana ini mengatakan bahwa kata kunci dari kisahnya adalah agar kualitas kopi dari Taneh Karo ditingkatkan.

“Hindari penggunaan pestisida dan kimia yang berlebihan dalam perawatannya. Petani harus belajar bagaimana mengolah hasil panen kopi sehingga kualitasnya bisa diterima pasaran dunia. Saya siap membantu pemasarannya jika kualitasnya sudah memenuhi syarat. Bila jumlah produksinya minimal 2 ton/ bulan dengan kualitas baik, saya siap membantu memasarkannya,” paparnya.

kopi karo 5
Foto ITA APULINA TARIGAN

Kita memang harus mengingat kembali rentetan sejarah pertanian Taneh Karo yang dari dulu dikenal sebagai penghasil sayur-mayur dan buah-buahan. Memang banyak permintaan dari negara-negara luar. Namun, sebagaimana diamini para nara sumber lainnya dan beberapa peserta diskusi itu, sejak tahun 1990an sayuran dan buah dari Taneh Karo banyak ditolak karena tingginya residu pestisida dan kimia.

Ingat, pasar ekspor kopi, sayuran dan buah tidak lagi menerima hasil pertanian yang mengandung pestisida. Kita bisa mencontoh Lintong dan Aceh dengan 100 Ha lahan kopi sudah bisa dibangun pabrik langsung di daerah itu karena kualitas dan produksinya jelas.

“Jika petani Taneh Karo mau memahami ini, saya yakin Kopi Karo akan berjaya kembali,” seru Bandar Riantono Brahmana.

BERSAMBUNG


Leave a Reply