Mengapa Ekowisata Karo? (2)

0
245

Oleh: Esra Barus (Medan)

 

sibuaten 6
Tanaman anggrek di hutan Sibuaten.

Esra BarusDewasa ini banyak bermunculan jiwa-jiwa konservasionis dan trend wisata petualang. Masyarakat mulai beralih dari wisata “manja” yang bisa dibeli oleh siapapun ke arah wisata petualang yang tidak hanya butuh biaya tetapi juga membutuhkan kesehatan rohani dan mental untuk melakukannya. Wisata alam juga lebih murah dan lebih alami karena minikmati kreasi Tuhan dan gejala alam.

Mengapa dengan Karo?

Karo berada di dataran tinggi dengan biodiversity yang tinggi, suhu yang lebih sejuk, topografi yang beragam; mulai dari landai sampai sangat curam. Masyarakat memandang hutan sebagai pendukung kehidupan utama mereka. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan di hutan sebagai obat bukan mengambil pohonnya.

Dosen saya suatu kali bertanya apa perbedaan cara pandang orang Karo dengan orang Batak dalam pengelolaan hutan. Menurutnya, orang Karo lebih bijak dalam menilai hutan. Mereka hanya mengambil tumbuhan obat dan kompos untuk jagung mereka. Berbeda dengan orang Batak yang menebang hutan untuk menanam jagung.

Kam tentu paham maksud saya. Potensi alam dan pola pikir masyarakat Karo yang bijak tentu sangat mendukung dalam pengelolaan ekowisata. Mengapa harus mahal-mahal membenahi wisata di kota kalau wisata alam lebih menarik?

Di sini, saya jabarkan jalur wisata yang saya tahu untuk dikembangkan dan mungkin bisa kam tambahi:

Jalur Wisata Penatapen Sikulikap. Di Sikulikap, kam bisa menikmati jalur hutan alami dan pemandangan air terjun Sikulikap.

sibuaten 5
Rimbapala (Mapala Kehutanan USU) melakukan kegiatan berkemah di Sikulikap

Di sebelah Sikulikap kam bisa melakukan panjat tebing dan berkemah di hutan Sikulikap. Hutan di sini sangat rimbun dan menyediakan kayu bakar dari cabang pohon yang bisa digunakan untuk bakar-bakar.

Perlu dilakukan penelitian terhadap wisata Tubing (jeram melakukan ban). Kam bisa dekat dengan satwa monyet. Kendalanya, sampah yang berserakan di bawah air terjun.

Jalur Wisata Air Terjun di Hutan Pendidikan USU di Tahura. Sebelah kiri dari Medan terdapat Hutan Pendidikan USU yang di dalamnya ada air terjun setinggi 4 meter. Airnya sangat jernih. Jalur ini memiliki topograpi yang landai sampai sangat curam.

Jalur Wisata 54 Sibayak, Jalur Wisata Doulu Sibayak, Jalur Wisata Sibuatan, Jalur Wisata Gunung Sipiso-piso, Jalur Wisata Air Terjun Sipiso-piso, serta Jalur Wisata Berkemah dan Memancing di Laukawar. Masih banyak lagi lainnya.

Perlu dilakukan pemetaan di jalur ekowisata untuk mengetahui titik potensi wisata untuk memudahkan wisatawan memilih destinasi serta memudahkan pengelolaannya bagi pemerintah. Dari kegiatan pemetaan dapat diperoleh data tumbuhan obat, satwa, potensi wisata, bentang alam, jalur wisata dan lain-lain. Mari kita ekowisata di Karo. Mejuah-juah! (SELESAI)



Leave a Reply