Kekerasan Domestik

0
176

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Jambi)

bastantakekerasan domestik 4Sebuah akun gadis cantik di jejaring sosial facebook belakangan tanpa sengaja menjadi pengamatan saya. Setiap pagi, akun tersebut up-date status dan upload foto wajahnya yang cantik dan ceria.

Status-statusnya sedikit sombong dan menempatkan dirinya sebagai seorang perempuan yang paling beruntung di dunia ini karena memiliki kehidupan yang sempurna dengan pacar yang tampan, baik dan setia. Pujian dan sanjungan yang berlebihan tak jarang dilontarkan kepada pasangannya.

Demikianlah yang saya baca dari rangkaian kata-kata pada statusnya.

Namun, dengan berlalunya hari, status dan foto yang diupload pun berubah drastis. Dari kebahagian dan keceriaan berubah menjadi galau, sial, dlsb. Sanjungan pun berubah menjadi hujatan yang lebih tajam dari mata pisau. Pokoknya semua hal-hal yang buruk. Ini dilakukannya berulang-ulang.

Saya tidak mau berasumsi apa yang terjadi terhadap pemilik akun tersebut. Tetapi, saya yakin pasti hal-hal demikian sering terjadi terhadap masyarakat di sekitar kita. Ini kemudian mengingatkan saya kepada sosok Dianne Schwartz seorang mantan miss Arizona yang pernah menjadi korban kekerasan domestik.

Bertahun-tahun hidup dalam rasa bersalah dan merasa patut untuk diperlakukan buruk. Namun, kemudian bangkit dan melalui bukunya Whose Face is in the Mirror menginspirasi banyak perempuan di dunia ini yang kemudian membuka mata dunia bahwa kekerasan kapan dan dimana saja serta kepada siapa saja dapat terjadi.

Berbicara tentang kekesaran domestik, saya sependapat dengan komentar yang disampaikan Ita Apulina beru Tarigan di JMS (Jamburta Merga Silima): bahwa kekerasan domestik adalah seperti sebuah gunung es. Karena korbannya tidak akan mau berbicara sebab tekanan nilai-nilai masyarakat yang dianut.

kekerasan domestik 2Dalam bukunya Dianne Schwertz, ada sebuah kalimat yang mengatakan, “syndrom prilaku lazim.” Artinya, sikorban selain takut karena tekanan nilai-nilai di masyarakat tadi, juga menganggap dirinya layak dan patut untuk disiksa. Ini akan terus berulang-ulang terjadi, membuat korban kemudian seakan meninkmati kekerasan dan pelecehan terhadap dirinya dan sipelaku juga demikian: merasa layak dan berhak untuk memberi hukuman. Kesalahan yang sama terus diulang sebagai sebuah rutinitas yang patut.

Lebih lanjut Ita mengatakan, “Yang kerap terjadi adalah, tanpa sadar justru pendidikan di rumahlah sumber kekerasan yang kelak terjadi setelah si anak dewasa. Banyak kisah-kisah masa kecil yang kemudian memicu seorang anak menjadi seorang yang mati rasa.”

Pendapat di atas sangat sesuai sebagai mana yang pernah dirasakan oleh Dianne dan tentunya perempuan-perempuan lainnya. Oleh karena ketakutan kehidupannya menjadi sumber masalah, mengecewakan orangtua, keluarga dan sahabat, diapun kemudian bungkam dengan kehidupan pribadinnya dan menikmati setiap kekerasan dan pelecehan baik fisik dan ferbal yang ditujukan kepadanya.

Pada masyarakat Timur, seperti contoh pada masyarakat Karo, saya sangat berkeyakinan hingga saat ini masih banyak sekali kasus-kasus kekerasan domestik ini yang mungkin karena malu sehingga ditutupi. Padahal itu sangat berbahaya. Sebab dengan menutupi dan membiarkan kekerasa itu terjadi, maka sipelaku akan semakin merajalela dan bertambah. Bahkan kemudian akan berkembang anggapan kalau itu hal yang wajar. Misalkan, seorang suami yang melecehkan istrinya atau bahkan memukulinnya.

“Orangtua harus mengajari anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan tentang kesetaraan. Artinya, setiap manusia apapun gendernya mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan kebahagian dan saling melindungi sesama,” kata Ita Apulina Tarigan mengakhiri komentarnya.

Artinya, perlu ditanamkan dalam diri setiap manusia, bahwa: “Saya sangat berharga. Kamu tidak berhak menyiksa saya, bahkan untuk menyentuh saya sekali pun.”

Sebab hanya korbanlah satu-satunya orang yang sanggup mematahkan rantai kekerasan domestik ini. Namun, untuk sampai di sana, jarang sikorban memiliki keberanian dan energi yang cukup untuk melawan. Oleh sebab itu, sebagaimana disampaikan dalam komentarnya Ita Apulina Tarigan, bahwa peran dan dukungan orangtua menjadi ujung tombak untuk memutus mata rantai kekerasan domestik dan tentunya dukungan dari orang sekitar.



Leave a Reply