Kolom M.U. Ginting: Ahok Hadapi Bisnis Busuk

0
195

M.U. Ginting 2busway 3Soal bus Trans Jakarta kemarin Ahok bilang: “Saya nggak bisa jelasin lah. Sekarang mau bukti apa? Kemarin beli bus baru dari Tiongkok bermasalah. Artinya apa, mark up ada permainan anggaran, ya udahlah kita mau bilang apa, barang udah jadi.” (merdeka.com).

Kepandaian di China bikin bus dan kepandaian di Indonesia apa beda? Saya kira tidaklah jauh bedanya. Yang sangat berbeda ialah ‘bisnisnya’. China tak terlawan. Sekarang kekuatan China ialah memproduksi besar-besaran dengan harga rendah tak tertandingi oleh siapapun. Tak ada negeri yang bisa menandingi.

Kita masih ingat ketika China memproduksi sepeda motor kayak fabrik kacang goreng. Dan lakunya juga kayak kacang goreng bukan hanya di negeri berkembang tetapi juga di Eropah dan banyak negeri maju dunia. Tak usah dianalisa mengapa, karena produksi dan harga kacang goreng tadilah.

Kalau anak-anak muda atau ahli-ahli muda Indonesia mau bikin produksi bus, atau trem atau mobil, tidaklah kurang orang pandai bangsa ini, tak akan kalah dari negeri manapun. Bikin pesawat terbang saja tak kalah kwalitasnya dari negeri maju (Pak Habibie). Tetapi, adanya ‘organisasi bisnis busuk’ yang tak pernah bikin bisnis sesungguhnya itulah yang selalu menghalangi produksi dalam negeri, tak luput di Eropah juga.

Produksi pesawat Pak Habibie juga tak mungkin lepas dari pengaruh itu. Pengaruh ini bisa hilang kalau jutaan dan jutaan rakyat bisa ngomong dan membentangkan persoalannya di atas meja internet. Di situlah nanti bisa terlihat perubahan. Jutaan dan jutaan manusia harus aktif memaparkan bisnis busuk ini, karena soal ini adalah fenomena dunia yang Ahok katakan ‘mark up’ atau ‘permainan anggaran’.

Barang-barang seperti bus, trem, mobil, walaupun harga kacang goreng masih belum mungkin laku di Eropah. Siapa yang mau beli bus ‘kacang goreng’ selain anak buah Ahok? Ahok sudah ngerti tak mau pakai bus ‘kacang goreng’. Tetapi apakah dia mungkin bikin putusan lain?

busway 2Sekelilingnya semuanya ‘bajingan’ seperti dia katakan sendiri soal air Jakarta. Organisasi pembeli ‘kacang goreng’ ini bukan organisasi sembarangan. Mereka sangat rapi, dan sangat pandai dalam menghadapi manusia lain secara psikologis. Sama halnya ketika Presiden Mega jual Indosat, bukan karena Mega lebih bodoh tetapi karena pebisnis busuk soal Indosat lebih mengerti bagaimana menghadapi Megawati. Sama halnya kalau mereka ini menghadapi pejabat-pejabat lain semua negeri. Mereka ini ada di mana-mana terutama di negeri berkembang, tetapi juga di Eropah.

Swedia adalah negeri industri maju di Eropah, bisa bikin apa saja dengan kwalitas Swedia pula, artinya kwalitas tinggi dalam produksi bus, trem, kereta api mobil, dsb.  Ketika satu waktu mau memperbaharui trem di salah satu kota, organisasi ‘bisnis busuk’ ini bisa bikin sedemikian sehingga trem kota dibeli dari Italia, tak dibeli dari produksi dalam negeri. Beberapa tahun sudah karatan. Dan lebih mengerikan lagi ialah remnya tak jalan, dalam satu turunan keluar dari rel dan nubruk mobil-mobil dan gedung di pinggir jalan. Banyak korban.

Kepintaran bisnis orang-orang ini ialah mengatur pejabat atau presiden atau gubernur kayak Ahok. Bisnis busuk ini harus dibedakan dengan bisnis orang China, yang pada umumnya berusaha adil dalam tiap transaksi dagang. Kalau busnya berkarat tak tahan lama bukan karena mereka menipu, mereka tak sembunyikan kwalitas produk mereka dan bisa dinilai sendiri juga. Harganya selalu menggiurkan dibandingkan dengan produksi negeri lain. Tetapi ‘organisasi bisnis busuk’ tadi yang selalu cari untung dari situ dengan ‘mengatur’ pejabat yang mereka sudah hafal watak dan kemampuannya dan kekuatannya, seperti terjadi juga di Eropah kayak di atas.

Di Jakarta, Ahok bilang namanya ‘mark up’ atau ‘permainan anggaran’. Dalam soal Indosat mungkin tak cocok dengan nama ini. Indosat sudah direncanakan akan dijual lagi ke Indonesia dengan harga setinggi langit, atau kalau tak mampu beli, sewalah. Rencananya sangat briliant memang.


Leave a Reply