Kolom M.U. Ginting: Dari Pa Timpus ke Roy F. Ginting (425 Tahun Medan)

0
170
roy fachraby 4
Adu perkolong-kolong (Arus Perangin-angin dan nelly br Sembiring) di Kerja Tahun Medan 2015

M.U. Ginting 2Dalam kata sambutannya sebagai Ketua Umum Panitia Penyelenggara, Roy Fachraby Ginting mengungkapkan, Kerja Tahun Kota Medan mengajak seluruh komponen masyarakat Karo dan Melayu agar secara bergandengan tangan membangun Kota Medan.

Kerja Tahun Kota Medan diadakan sebagai acara tradisional Karo. Kali ini dalam rangka perayaan 425 tahun Kota Medan yang pada mulanya dibangun sebagai sebuah kampung oleh Guru Pa Timpus yang kebetulan seorang Karo pula.

Dia bangun kota ini  tepat di daerah pertemuan dua aliran sungai terbesar Kota Medan, Sungai Babura dan Sungai Deli. Daerah pertemuan aliran sungai-sungai ini kemudian berkembang hingga seperti sekarang. Tepat juga dalam menggambarkan pertemuan banyak ragam aliran ideologi, politik dan berbagai kultur di kota Pa Timpus ini.

Berbagai aliran ideologi/politik dan kultur/etnis telah berkembang bersama dan bersaing di kota Pa Timpus ini sejak era Haru, perang dengan pasukan Gajah Mada, sampai ke era Pa Timpus perang dengan Islam Aceh, ke era Kolonial dimulai perang panjang perlawanan Datuk Badiuzzaman Surbakti, sampai ke era Perang Kemerdekaan dengan diangkatnya Kiras Bangun dan Jamin Ginting sebagai Pahlawan Nasional.

Harus dicatat juga bahwa Pemerintah RI masih melupakan Badiuzzaman Surbakti. Patutlah diangkat dan diresmikan anak Surbakti mergana ini jadi pahlawan kemerdekaan mengingat perang jangka panjangnya dan juga hampir semua anggota keluarganya ikut berjuang, terbunuh atau diasingkan oleh pemerintah kolonial. Badiuzzaman sendiri dan seorang saudaranya diasingkan ke Jawa seumur hidup dan meninggal di pengasingan.

Sebagai lanjutan dan akibat yang logis dari berbagai aliran itu, kota Pa Timpus ini telah menjadi pusat kontradiksi berbagai aliran. Abad lalu terdapat kontradiksi tajam antara golongan kanan dan kiri sebagai pencerminan kontradiksi pokok dunia antara Blok Barat yang disebut negeri ‘bebas demoratis’ dan Blok Timur yang dinamai negeri diktator tirai besi atau negeri sosialis/ komunis.

roy fachraby 2
Sepasang peserta (Alexander F. Meliala dan kemberahenna) menari Karo di atas panggung di Kerja Tahun Medan 2015

Di Indonesia, kontradiksi ini ditandai dengan penyembelihan 3 juta orang ‘kiri’/ komunis oleh diktator militer Soeharto. Di Karo, orang-orang ‘kiri’ (komunis) banyak ilaubiangken, artinya disembelih dan dibuang ke Sungai Lau Biang. Ini telah menjadi rahasia umum bagi orang Karo, artinya semua merahasiakan, tetapi semua juga mengetahui. Kombinasi “act of killing” dan “silence” Joshua Oppenheimer. Semua tahu, semua ‘senyap’ tak bersuara.

Siapa yang salah? Begitulah sudah jalannya proses sejarah kita, sejarah kota Medan dan sejarah Lau Biang Karo dan Indonesia, sejarah perjalanan kontradiksi dunia di negeri ini. Abad ini adalah abad besar pencerahan, dengan semua jaringan internet media sosial jutaan manusia seluruh dunia. Tak ada yang luput dari aliran informasi dan pencerahan.

Pencerahan dan Pengetahuan tentang kegelapan masa lalu serta pengetahuan yang semakin tinggi tentang saling hubungan (sosial) sesama manusia. Pencerahan dan Pengetahuan yang bikin manusia gembira dan merasa lega, karena sudah lebih memahami saling hubungan kultural sesama manusia dengan latar belakang kultur/ budaya yang berlainan atau jauh berbeda.

Sejarah kontradiksi dengan munculnya kapitalisme dan munculnya gerakan ‘kiri’ yang mengikutinya yang dimulai oleh Karl Marx, seorang Yahudi yang juga ingin menyelesaikan ‘Jewish question’ dengan menghilangkan kapitalisme. Menurut Marx, Jewish question hanya bisa selesai dengan hilangnya kapitalisme. Dan, kapitalisme bisa dihilangkan dengan diktatur proletar. Itulah resep Marx dan orang kiri dimulai pada pertengahan abad 19.

Di akhir abad lalu, sampai permulaan abad Reformasi, kontradiksi pokok dunia berubah. Tak ada lagi kontradiksi ‘kiri’ dan ‘kanan’. Sebagai gantinya ialah ‘the clash of civilization’.  Kontradiksi antar suku dari berbagai kultur/ budaya yang sering juga sangat berlainan sehingga sering diselesaikan dengan perang etnis termasuk di Indonesia. Perang ini paling kejam dan paling tak berprikemanusiaan. Anak-anak dan wanita tak peduli, semua jadi korban.

Kerja tahun tradisional Karo 2015 yang diselenggarakan di Medan dengan menghadirkan juga suku-suku lain seperti Melayu merupakan titik tonggak sejarah baru perkembangan Kota Medan dalam prinisp saling mengakui dan menghargai tiap kultur suku bangsa negeri ini. Itulah prinsip dasar yang telah dikatakan juga oleh Wali Kota Medan Dzumi Eldin dalam pertemuannya dengan HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia) bulan lalu dengan kalimat ‘saling menghormati dan saling menghargai sesama suku’ dalam hubungannya dengan penerapan kearifan lokal di tiap daerah, termasuk juga kota Pa Timpus ini tidak terkecuali.

roy fachraby 3
Roy Fachraby Ginting menari mengimbangi perkolong-kolong Nelly br Sembiring

Tepat sekali juga seperti yang dikatakan oleh ketua penyelenggara Kerja Tahun Roy Fachraby Ginting.

“Mari meningkatkan partisipasi kita lebih hebat lagi, sehingga betul-betul Melayu dan Karo dapat diperhitungkan dalam pembangunan Kota Medan dan Indonesia,” ujarnya.



Leave a Reply