Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat Kabupaten Karo

1
215

foto nggunturgotong 2NGGUNTUR PURBA. KABANJAHE. Kegiatan yang melibatkan masyarakat merupakan salah satu cara mempercepat pembangunan. Dengan keterlibatan semua elemen masyarakat dalam suatu daerah, yang meliputi proses pengerjaan sampai dengan pengawasan, maka pembangunan bisa lebih terarah dan tertata lebih baik.

Demikian dikatakan oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana SH saat mencanangkan bulan bhakti gotongroyong di Desa Kaban (Kecamatan Kabanjahe) [Kamis 10/7]. Dalam mengatakan itu, Terkelin didampingi oleh Asisten I Suang Karo-karo, Asisten III Andre Tarigan, Kepala BPMPD Susi Iswara, Kepala BKD Benyamin Sukatendel, Kepala Dishub drs. Lesta Karo-karo, Kapolres Karo Viktor Togi Tambunan, Dandim 0205/TK Letkol Inf Asep Sukarna, Danyon 125 Simbisa, Pengurus Tim Penggerak PKK se-Kecamatan Kabupaten Karo, para Camat dan Kepala Desa, serta ratusan warga desa Kaban dan desa-desa sekitarnya.

Bupati Karo kemudian mengingatkan warga akan pentingnya keluarga sebagai pranata sosial utama dalam mengembangkan fungsi keagamaan, cinta kasih, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, perlindungan, dan pembangunan. Karena itu, penanaman nilai-nilai sosial budaya khususnya dalam aspek kegotongroyongan sangat perlu ditanamkan mulai dari kehidupan di dalam keluarga untuk mewujudkan Keswadayaan Masyarakat dan Ketahanan Nasional. Dengan begitu, keluarga bisa memperbaiki kualitas kesejahteraan dan kehidupannya dengan bergotongroyong dan berkelanjutan.

“Hal itu hanya dapat dicapai dengan tekad yang gigih secara bersama dan kerja keras yang nyata,” kata Terkelin.



Acara dilanjutkan dengan penyerahan sarana kebersihan berupa sorong beko, sapu lidi dan cangkul kepada masing-masing kepala desa yang melaksanakan Bulan Bakti Gotong Royong.

Adapun desa-desa itu adalah: Kutagerat (Kecamatan Munthe), Kaban (Kecamatan Kabanjahe), Ketaren (Kecamatan Kabanjahe), Lau Mulgap (Kecamatan Mardinding), Peranggunen (Kecamatan Laubaleng), Raya (Kecamatan Berastagi), Lingga (Kecamatan Simpang Empat), Sugihen (Kecamatan Dolatrayat), Lepar Samura (Kecamatan Tigapanah), Kutagugung (Kecamatan Juhar), Simpang Pergendangen (Kecamatan Tiga Binanga), Siabang-abang (Kecamatan Kutabuluh), Naga Lingga (Kecamatan Merek), Jaranguda (Kecamatan Merdeka), Tanjungbarus (Kecamatan Barusjahe), Gung Pinto (Kecamatan Naman Teran), Tanjung Mbelang (Kecamatan Tiganderket), dan Payung (Kecamatan Payung).

Pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat XII Kabupaten Karo (2015) ini merupakan wahana strategis menggelorakan nilai-nilai semangat gotong royong serta kearifan lokal dan keswadayaan masyarakat Kabupaten Karo dalam menjaga dan meningkatkan kebersihan.

Dapat ditambahkan, Kabupaten Karo terdiri dari 259 desa dan 10 kelurahan.

1 COMMENT

  1. Kalau semua penduduk lokal ikut gotong royong atau kerja bakti bersama dalam membersihkan tempat tinggal dan sekitarnya, berarti semua akan ikut merasa bertanggung jawab dalam kebersihan. Yang mengotori bikin tak bersih kan orang-orang itu juga. Kalau mereka ikut membersihkan tentu merasa dan mengetahui nanti siapa diantara kita-kita itu yang bikin kotor. Itulah pengawasan besama karena membersihkannya juga bersama. Dengan sendirinya juga ‘pendatang’ yang singgah juga tak berani bikin kotor karena banyak mata melihat dan mengawsi. Begitu juga copet dan begal harus pikir dulu. Semua mengenal semua adalah mungkin. Ini contoh kearifan lokal yang bisa dilaksanakan dalam era modern.

    Saya punya pengalaman bikin saluran air di satu kampung. Semua ikut kerja dan semua ikut merasa bertanggung jawab atas kerusakan yang mungkin. Itu jaman dulu. Sekarang kita modernisasi, karena way of thinking sudah semakin tinggi juga. Dulu tak ada yang menghubungkan dengan kultur dan tradisi, karena sudah otomatis begitu menurut pikiran masyarakat yang ada dalam kultur yang masih homogeen. Sekarang kita harus membicarakan soal penting ini dari segi kultur dalam lokasi yang masih didominasi oleh satu kultur tertentu, artinya memanfaatkan kembali kearifan lokal yang sudah pernah hilang karena pengaruh kolonial atau pengaruh demokrasi barat atau demokrasi siosialis/komunis. Kita kembali ke demokrasi kita, kebiasaan gotong royong tiap kultur dan budaya lokal tiap suku bangsa. Tidak soal kalau ada pendatang yang belum paham kearifan lokal tertentu, tetap bagi orang-orang pendatang ini berlaku ‘dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung’. Penduduk asli harus berani melihat bahwa pepatah ini yang juga termasuk dasar kearifan lokal, supaya dilaksanakan, jangan dibiarkan orang pendatang tak menghormati kebijakan lokal ini.

    MUG

Leave a Reply