Kolom M.U. Ginting: Karo Jahe adalah Taneh Karo

0
199
gayo
Sumber foto: facebook Gayo Discover

M.U. Ginting 2Bahwa Karo Jahe bukan suku pendatang di Pesisir Timur Sumatra semakin susah untuk membantahnya memang. Penemuan terakhir arkeologi USU (2010-2011) di bawah pimpinan Ketut Wiradnyana di Ceruk Ujung Karang, Dataran Tinggi Gayo, ditemukan beberapa fosil ber-DNA Karo dan Gayo, juga dengan barang anyaman yang sudah berumur 7.400 tahun. Penemuan arkeologi ini menunjukkan bahwa orang Karo dan Gayo adalah penduduk Sumatra yang tertua dan juga sudah berkebudayaan relatif tinggi dengan kepandaian bikin anyaman.

Budaya yang sudah relatif tinggi ini juga menandakan bahwa dialektika alam yaitu Pantarei Karo ‘aras jadi namo, namo jadi aras’ dan dialektika pikiran tesis – antitesis – syntesis Karo ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ adalah gambaran dialektika yang sudah relaitif tinggi dan sudah berumur tua dalam kehidupan alamiah Karo.

Budaya dan pemikiran yang sudah ribuan tahun ini menandakan bahwa penemu pertama dialektika pastilah bukan Yunani Kuno (Heraklitos, 500 BC) sebagaimana umumnya digambarkan oleh pemikir orang-orang Barat. Karena itu, penemu pertama dialektika adalah orang Karo.

Dengan penemuan arkeologi ini maka tesis perpindahan ‘dari Selatan ke bagian Utara Sumatra’ otomatis tak berlaku. Yang lebih masuk akal ialah dari Utara (Dataran Tinggi Gayo ke bagian yang lebih Selatan Sumatra. Dugaan bahwa Karo atau Gayo adalah perpindahan dari Selatan (Batak) ke Utara jelas tidak benar dan tak mungkin karena juga Batak itu sendiri baru berusia 500-700 tahun berdasarkan hasil galian arkeologi di Sianjur Mula-mula, di kaki Gunung Pusuk Buhit yang diaktakan sebagai kampong tertua orang Batak.

Penemuan ini dilakukan oleh arkeolog yang sama, Ketut Wiradnyana.

gayo 2
Ceruk Mendale di Takengon (Dataran Tinggi Gayo) dimana ditemukan tulang-belulang dan kerajinan tangan yang berumur lebih dari 5.000 tahun lalu. Foto: Ketut Wiradnyana.

Pergeseran semula grup orang Karo/ Gayo ribuan tahun lalu, ke Selatan dari Dataran Tinggi Gayo ke Dataran Tinggi Karo atau juga ke Dataran Rendah pesisir Timur Sumatra, adalah logis karena orang Karo hanya mencari daerah yang bisa ditempati dan bisa hidup dari hasil alam (ngerabi) dan bisa tinggal aman. Berangsur-angsur mereka memanfaatkan tanah-tanah subur setelah munculnya ide bercocoktanam untuk bisa hidup yang jauh lebih baik dari pada mencari hasil alam belaka.

Dengan perpindahan yang sudah dimulai oleh orang Karo sejak ribuan tahun ini, tidak diragukan bahwa orang Karo sudah mendiami Dataran Tinggi maupun Dataran Rendah Sumtim sebagai sasaran perpindahan utamanya.

Kerajaan besar Haru adalah bentuk pertama kekuasaan orang Karo setelah hadirnya di daerah ini berbagai suku dan nasionalitas yang terutama yang bersamaan dengan  Hindu/ Buddha dan Islam. Kerajaan/kekuasaan ini tumbuh dan membesar bersamaan dengan tumbuhnya kekuatan-kekuatan sosial lainnya dari berbagai kultur, agama dan nasionalitas yang semakin banyak datang ke daerah ini.



Kerajaan Haru adalah kerajaan ‘kafir’ dengan agama Pemena Karo, sehingga sangat tak disukai oleh semua musuh-musuhnya yang tidak kafir seperti Islam dan Hindu maupun Kristen dari Eropah. Puncak kebesaran Haru bersamaan waktunya dengan puncak kebesaran Gajah Mada (Majapahit) terbukti dari cita-citanya menghancurkan Haru tertulis dalam Sumpah Palapanya.

haru 3
Sisa-sisa Benteng Putri Hijau (Kerajaan Haru) di Delitua (Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deliserdang) yang dikelilingi oleh pemukiman Suku Karo. Foto: ITA APULINA TARIGAN.

Perang Gajah Mada untuk menaklukkan Haru tak pernah berhasil seperti yang dicita-citakannya, tetapi kemudian dengan kombinasi pasukan-pasukna Islam dari Aceh, Malaka dan sebagian pasukan laut orang Portugis, kerajaan Haru ditundukkan, dengan benteng pertahanan terakhir di Delitua. Benteng ini masih ada sisanya sampai sekarang. Dengan kekalahan Haru, orang-orang Haru jadi buronan, sebagian besar jadi I(slam, sebagian lagi terpaksa hijrah ke daerah kaki pegunungan.

Fotohead cover: Antropolog Juara R. Ginting (depan) bersama seorang mahasiswa antropologi sedang meninjau situs Benteng Putri Hijau (sekitar 15 Km dari Medan)


Leave a Reply