Kolom M.U. Ginting: DEMI JAKARTA

0
118
senayan
SENAYAN DI PAGI HARI. Drone Photo: Nefo Ginting

M.U. Ginting 2Ahok memang luar biasa keteguhan dan kegigihannya untuk memperbaiki dan memajukan Jakarta. ‘Pusing’ juga memang bagi Ahok menghadapi bawahan orang Indonesia. Kalau dia bekerja sebagai bos perusahaan bisnis orang China tentu semua  jalan lancar. Watak dan sikap orang China dalam menghadapi tugas (apalagi bisnis) tak ada lawannya dalam soal disiplin kerja. Tetapi, di Jakarta sebagai gubernur, Ahok hadapi orang Indonesia yang sifatnya bertolakbelakang.

Memanfaatkan BPK dengan cara berliku. Itu juga dicoba, dan berhasil dalam tingkat tertentu. Intinya kontradiksi kultur; antara kultur yang dianut dan dimengerti oleh Ahok di satu sisi dengan kultur korupsi (uang dan waktu) yang sudah mendarah daging bagi PNS pribumi sejak Kemerdekaan di sisi lain. Ahok mengerti ini, dan dia berusaha mengatasinya dengan segala jalan.

“Saya perintah dinas, enggak dikerjain. Perintah enggak dikerjain,” tukas dia.

“Lebih baik enggak ada orang kerja daripada kerja bohongin kita. Capek kita. Iya-iya, tapi tidak dikerjakan.”

Memang betul juga mengapa harus banyak pekerja kalau tak mau bekerja, atau datang ke kantor hanya gosok batu akik seperti dia juga pernah katakan. Atau dalam soal air bersih dia bilang semua ‘bajingan’ yang dia hadapi.

banjir 3
Banjir di Jakarta. Foto: Priska Natalia Meliala.

Gejala tak bekerja atau tak ada kerjaan di kantor-kantor pemerintahan di pusat maupun di daerah memang sangat biasa sejak Kemerdekaan, salah satu mata pencaharian atau sumber duit bagi ‘mafia calon’ PNS.  Berapa banyak duit diperoleh dari tiap ‘pencalonan’ PNS. Kebanyakan dari kursi ini juga tak dibutuhkan. Semakin giat mafia ini semakin banyak PNS yang tak dibutuhkan.

Keistimewaan lainnya dari Ahok ialah dia letakkan semua persoalan di atas meja. Ini tentu tak disukai oleh tukang koruptor penggelap anggaran atau tukang gosok batu akik di kantor. Perlawanan yang nyata dari gerombolan ini bikin ialah tak laksanakan perintah dari Ahok dalam tugasnya. Ini menghambat penyelesaian pekerjaan dan sabotase perubahan dan kemajuan Jakarta.

Tetapi arus keras transparansi dunia dan keterbukaan sangat banyak membantu Ahok. Dia juga berusaha mengarahkan semua soal ke arah keterbukaan dan melibatkan sebanyak mungkin termasuk BPK.

Dalam membantu tugas mulia Ahok, marilah semua penduduk Jakarta angkat bicara belejeti yang tidak beres dan  orang-orang yang tidak beres dan berikan pujian atas tiap pekerjaan yang sukses. Kalau jutaan penduduk Jakarta ikut aktif bikin pengawasan dengan semboyan: Omongkan apa yang harus diomongkan, tuliskan apa yang harus dituliskan dan bikin apa yang harus dibikin.

Semuanya demi kemakmuran Jakarta.




Leave a Reply