Cuci Kampung

0
272

Oleh: Bastanta P. Sembiring

 

bastantapacaranCuci kampung merupakan salah satu tradisi bersih-bersih kampung pada masyarakat Melayu Jambi, terutama terhadap hal perzinahan. Jam malam pun diberlakukan. Biasanya batas jam keluar malam bagi seorang gadis Pukul 22.00. Lewat dari jam itu tidak diperbolehkan keluar malam sendirian tanpa ditemani orangtua atau seseorang yang dianggap cukup dewasa.

Sepasang muda-mudii pun dilarang berjalan berduaan lewat batas waktu yang telah ditentukan, apalagi berduaan di tempat-tempat gelap, sepi, ataupun tertutup.

Di siang hari pun jika sepasang insan berlainan jenis berduaan di tempat sepi dianggap berbahaya, karena akan berpotensi mengundang datangnya hal-hal yang tidak diinginkan, maka hal ini juga sangat tidak dibenarkan.

Pernah sekali kejadian, seorang gadis jatuh cinta pada seorang pemuda luar yang merantau ke kampung itu. Karena cinta si gadis tidak direspon oleh si pemuda, maka bersama teman-teman dan keluarganya si gadis menyusun rencana untuk menangkap mereka saat berduaan.

Tahu si pemuda sedang bekerja di kebunnya, sang gadis pun mendatangi si pemuda; beralasan kebetulan lewat dan hanya ingin menyapanya.

Dengan ketidaktahuan dan rasa tidak enak jika mengabaikan seorang wanita, pemuda itupun meladeni pembicaraan. Terjadilah percakapan antara mereka berdua di sebuah gubuk di kebun si pemuda.

Beberapa saat kemudian, segerombolan orang datang dan menangkap mereka berdua dan membawanya ke kediaman tetua kampung.

Pada dasarnya tradisi cuci kampung ini sangat baik untuk mengatur pergaulan kaula muda, menghindarkan dari kegiatan yang tidak baik dan juga menyelamatkan kampung dari aib yang kemudian dipercaya dapat mendatangkan ketidakbaikkan terhadap kampung dan isinya.

Aturannya jelas, yang kedapatan harus dinikahkan atau membayar utang adat dengan memberikan hewan (biasanya kambing) yang nantinya akan disembelih dan dibagikan, sebagai tanda cuci (bersih-bersih) kampung telah dilakukan.

Namun, tidak jarang juga hal ini dimanfaatkan untuk suatu tujuan pribadi, salah satunya seperti kasus di atas tadi.

pacaran 2Sebut saja Sri (nama samaran), seorang gadis soleha yang cantik parasnya dan rajin sembahyang juga mengaji, kembang di kampungnya. Tentunya semua mata tak tahan tidak menatap wajah cantik di balik kerudungnya itu. Banyak lelaki yang bermimpin untuk dapat mendampinginya.

Anto (nama samaran) yang telah lama menaruh hati kepada Sri dapat dipastikan cintanya bertepuk sebelah tangan, karena wanita seperti Sri banyak yang mendekatinya, apalagi prilaku Anto dan keluarganya bukan tipe Sri.

Tiap malam saat pulang dari pengajian di masjid, Anto selalu berusaha mendekati Sri. Menawarkan jasanya untuk mengantar Sri pulang dengan Sepeda Motor Kawasaki Ninjanya. Tapi hati Sri sedikitpun tak bergeming seperti kebanyakan wanita lainnya. Sebab kegemerlapan harta dan ketampanan bukaan segalanya bagi Sri.

Bukan Anto namanya kalau selekas itu menyerah dengan tantangan Sri, apalagi terlanjur hatinya sudah kecantol oleh paras kembang desa itu yang hampir tiap tidur malamnya selalu singgah di mimpi indahnya.

Malam itu hujan rintik, saat Sri dan teman mengajinya sedang berjalan pulang ke rumah. Seperti biasa Anto muncul dan menawarkan jasa untuk menghantar Sri. Namun, Sri menolak dengan halus.

Tetas hujan yang turun semakin deras saja. Sepertinya kali ini Sri harus kalah oleh cuaca, sebab teman Sri lainnya masing-masing sudah mendapat jemputan dari teman-teman pria mereka. Maka tinggallah Sri, Anto dan kedua temannya. Untuk pertama kalinnya boncengan si Ninja diduduki oleh si kembang desa, impian setiap pemuda.

Di perjalanan, hujanpun semakin deras saja. Anto memiliki alasan yang kuat untuk menghentikan si Ninja. Matanya melirik ke kedua belah bahu jalan, melihat tempat yang tepat untuk berteduh sembari semakin dekat dengan gadis pujaannya, Sri.

Antopun memilih sebuah warung yang sudah tutup. Lokasinya di pinggir jalan besar dengan penerangan yang cukup terang. Sebuah tempat yang cukup aman dan nyaman bagi kebanyakan orang yang berteduh dari sang hujan, tapi, bagi Sri tetap saja ini tidak baik.

Hujan semakin deras. Jam tangan Sri sudah menunjukkan pukul 20.35 wib. Jam malam bagi muda-mudi berduaan sudah melampaui batas. Tapi bagaimana lagi, sang hujan semakin mengamuk, seakan tidak ingin Sri kembali ke rumah malam itu.

Saat hujan mulai reda, segerombolan datang menghampiri tempat itu dan menangkap mereka berdua dan menggiring Sri dan Anto ke rumah ketua RT.

Di hadapan umumpun Anto berlagak pahlawan membela Sri, katanya, “Saya dan Sri idak ado apo-apo. Kami hanya berteduh dari ujan. Tempat itu di pinggir jalan dan lampunyo jugo terang, ndak mungkin kami melakukan hal-hal ‘dak baik.”

Padahal dalam hatinya, Anto berharap beda, namun untuk memperlihatkan dirinya seolah bersih diapun berujar demikian.

Ada juga sepasang kekasih yang saling mencintai, oleh karena tidak mendapat restu merencanakan agar mereka kena cuci kampung ini, sehingga pihak keluarga yang malu dan merasa ini sebuah aib yang tidak perlu semakin meluas akhirnya menikahkan mereka juga. Kasus yang demikian ini mungkin hampir sama hakekatnya dengan jalan pernikahan nangkih/ lompat dalam Suku Karo.

Masih banyak kejadian lainnya yang selama ini sempat dilihat oleh penulis berkaitan dengan cuci kampung ini. Penulis secara pribadi merasa ini sebuah tradisi yang unik dan baik, yang sesungguhnya harus tetap dipegang teguh oleh masyarakat.




Leave a Reply