Seni Karo Tumbuh di Anak-anak Perantau

1
326
riau 3
Para pemusik dari Klasis Riau-Sumbar di PIARA 2015, Retreat Centre GBKP, Sukamakmur (Sibolangit).

ricky mainaki karo purba 5RICKY MAINAKI PURBA. PEKANBARU. “Kerja Tahun i Taneh Karo, salih laguna ku kacang koro, gia kami mbelin i taneh ranto,  upssssssssss….!!!! ula salah, kami tetap nge kalak Karo,” sebuah pantun yang dilantunkan oleh Adriel Perangin-angin. Adriel adalah salah seorang peserta PIARA 2015 dari Klasis Riau-Sumbar saat acara Malam Budaya di panggug Go Green, Retreat Centre GBKP, Suka Makamur (Sibolangit). Pantunnya  mengundang tepuk tangan semarak peserta dari berbagai klasis lainnya.

Dalam acara malam  itu, Klasis Riau-Sumbar menampilkan gabungan tarian Melayu dan Karo. Tarian Melayu dihantarkan musik dengan lagu Lancang Kuning, dan tarian tarian Karo Mbuah Page. Penampilan ini ditutup dengan lagu dari PEE No 45 Siberitaken Berita Simeriah. Penari terdiri dari 4 penari Melayu dan 6 penari Karo.

Menariknya dari penampilan kali ini, selain dari tarian serta pakaian adat Melayu dan Karo yang dikenakan oleh para penari, adalah di musiknya. Peserta PIARA 2015 dari Klasis Riau-Sumbar menggunakan alat-alat musik ini: 4 marwas, keyboard (acorrdeon), kulcapi, keteng-keteng, gendang si nganaki dan penganak serta vokalis Nasya Br Kaban.

riau 2

Semua alat-alat musik itu dimainkan oleh anak-anak Karo yang memang  lahir dan tumbuh di Tanah Lancang Kuning.  Mereka senang dengan musik dan tari yang mereka  pelajari. Mereka bertekat mempelajari musik tradisional Karo tidak hanya sampai di sini saja.

Ide ini terfikir saat ngumpul-ngumpul di tahun 2014 lalu. Pemberi ide pertama adalah Pdt. Jepri A. Keliat. Mix budaya antara Melayu dan Karo karena klasis terletak dan berkembang di daerah Melayu.


1 COMMENT

  1. Contoh konkret dimana kultur/budaya sebagai faktor pemersatu dan kerja sama antara berbagai kultur. Antara Karo dengan Melayu memang juga punya sejarah indah tersendiri terutama didaerah Deli.

    MUG

Leave a Reply