Sirulo TV: Bedah Buku Bunga Dawa Tuai Nilai Lebih Budaya Karo

0
174

alexander firdaustbunga dawa 2ALEXANDER FIRDAUST. MEDAN. Acara bedah buku Bunga Dawa (Pincala II) yang berisikan Antologi Puisi Karo Indonesia karya Usaha Kita Tarigan atau yang lebih dikenal TariganU telah dilaksanakan di Medan Club, Jl. R.A Kartini, Medan, sore kemarin [Kamis 23/7].

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Bahasa Ibu (KPBI) bekerjasama dengan Program Studi Masgister (S2) Penciptaaan dan Pengkajian Seni, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU) dengan menghadirkan 3 narasumber; Egia br Sitepu MSi (Antropolog UI), Dr. Asmyta Surbakti MSi (Akademisi USU) dan drs. Irwansyah Harahap MA (Ketua Prodi S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni USU).

Egia br Sitepu yang tampil sebagai narasumber pertama menyebutkan buku ini berisikan puisi-puisi yang bercerita tentang rasa syukur ketika telah memberi.

bunga dawa
Dari kiri ke kanan: Egia br Sitepu, Irwansyah Harahap, Ahmad Arief Tarigan (moderator), dan Asmyta br Surbakti

“Saya memaknai Bunga Dawa, bahwa itu meliputi rasa syukur dari memberi. Petani desa beserta keluarga bisa menuai lebih dari pada padi saja. Bahkan nilai-nilai Bunga Dawa tersedia dapat diolah menjadi makanan lagi, walaupun kemarin hanya ditanam untuk diberikan kepada burung-burung. Bunga Dawa di sini menjadi judul buku Antologi Puisi Karo Indonesia TariganU. Makna Bunga Dawa yang begitu melekat kepada orang Karo membuatnya diingat mewakili puisi beliau,” papar antropolog yang menulis thesis masternya mengenai ornamen tradisional Karo ini.

Sementara pemateri kedua Dr. Asmyta br Surbakti menyebutkan buku Bunga Dawa berisi tentang berbagai filosofi hidup Suku Karo. Mulai dari ornamen, pedah-pedah, anding-andingen, dan juga kata-kata kuno Karo yang dapat ditemukan di dalamnya.

“Buku Bunga Dawa Antologi Puisi Karo Indonesia ditulis dalam bahasa Karo dan berisi tentang filosofi hidup masyarakat Karo, filosofi ini dapat dilihat dari ornamen, pedah-pedah, anding-andingen, dan kata-kata kuno yang kita sepakat memang ini sudah banyak kita tidak mengetahuinya lagi sekarang dan kesemuanya memang dapat dipetik sebagai pelajaran dalam penerapan kehidupan sehari-hari,” paparnya.

bunga dawa 3
Sampul depan buku Bunga Dawa

Tampil sebagai pemateri ketiga, drs. Irwansyah Harahap MA, Ia berpendapat bahwa isi buku Bunga Dawa merupakan sebuah kekuatan berupa simbolik yang diungkapkan secara verbal. Lebih lanjut Harahap mengatakan bahwa isu buku Bunga Dawa adalah sebuah misteri yang dapat merasuk ke dalam jiwa sehingga bagi mereka yang tak mengerti artinya sekalipun, seolah-olah akhirnya bisa mengerti apa yang kemudian hendak disampaikan penulis melalui puisi-puisi yang tertulis di buku tersebut.

“Saya mencoba menafsir buku Bunga Dawa sebagai sebuah kekuatan, seperti bunyi-bunyian simbolik. Meski banyak kata-kata yang tidak saya mengerti di dalamnya, namun ini kemudian menjadi sebuah misteri yang merasuk ke dalam jiwa saya, sehingga pada akhirnya saya seolah-olah menjadi mengerti apa yang hendak disampaikan melalui puisi-puisi yang tertulis di dalamnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia penyelenggara Bedah Buku Bunga Dawa, Oki Teger Bangun ketika diminta pendapatnya terkait tujuan menyelenggarakan acara tersebut mengungkapkan agar ke depannya buku Bunga Dawa yang berisi tentang Antologi Puisi Karo dapat menjadi sumbangan dari kebudayaan Karo untuk Sastra Indonesia.

“Kita sebagai panitia berharap agar Bunga Dawa ini dapat menjadi sumbangan kebudayaan Karo untuk Sastra Indonesia. Menjadi sumbangan, sebab berdasarkan penelitian UNESCO, setiap 10 menit, satu bahasa dari seluruh dunia punah. Oleh hal tersebut, dalam buku Bunga Dawa yang dibahas adalah kumpulan kata yang sudah tidak dimengerti dan tidak dipakai lagi pada zaman sekarang,” ujarnya.

Acara bedah buku Bunga Dawa yang dilaksanakan di Medan Club ini dihadiri sekitar seratusan masyarakat Kota Medan, baik dari kalangan Suku Karo secara umum, sebagian kecil Suku Melayu dan Suku Batak.





Leave a Reply