Merayakan “Bunga Dawa”

0
238

Oleh: Edi Sembiring

 

edi sembiringbunga dawa 5Dihadiri lebih 100 orang undangan, bedah buku Bunga Dawa (Pincala II) Antologi Puisi Karo Indonesia karya TariganU dilaksanakan di Medan Club Jl. R.A Kartini, Medan, Kamis, 23 Juli 2015.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Bahasa Ibu (KPBI) bekerjasama dengan Program Studi Masgister (S2) Penciptaaan dan Pengkajian Seni, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU) dengan menghadirkan 3 narasumber; Egia br Sitepu MSi (Antropolog UI), Dr. Asmyta br Surbakti MSi (Akademisi USU) dan drs. Irwansyah Harahap MA (Ketua Prodi S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni USU).

Sastra adalah jagat cermin. Cermin hidup yang memantulkan : bayangan realitas kemanusiaan bahkan buruk rupa wajah zaman. Pena-pena sastarawan bebas meliuk-liuk.

296 puisi dalam bahasa Karo terangkum dalam Bunga Dawa (Pincala II). Usaha Kita Tarigan atau TariganU (umur 77 tahun), sang penyair, mencatat peristiwa dengan puisi.

Akan kehebatan Guru/Dukun Saman disandingkan dengan ganjilnya kematian Munir.

…..
ise pegeluhsa Guru Saman
munuh Munir i tengah dalan?
(puisi Pulu Kontras)

Tentang copet di Oplet. Tentang gambar-gambar Presiden. Tentang “Silih Munir.” Tentang Pramoedya. Tentang Sukarno “anak matawari.” Tentang tak adanya penari perempuan di atraksi Kuda Kepang. Tak ada perempuan yang seluk.

…….
Jinunjung deleng Semeru
Ngepar pulo mengkat-engkat
Si landek la lit diberu
Si diberu taban bas adat
(puisi Kuda Kepang)

Atau ungkapan kepedihan yang sangat mendalam untuk berbagai peristiwa kematian :

….
Sebut kerina simate sada wari
simate terdareh-dareh
bas 27 Juli, bas Trisakti, bas Semanggi
bas 911 WTC, bas bom Bali
je kap aku
tangis teriluh terisang
kesi-kesi cigargar!
……
(puisi Je Aku)

Inilah Indonesia dalam kacamata penyair Karo dan dituliskan pula dari pandangan sebagai orang Karo.

Lalu sang penyair bercerita melalui puisi-puisinya akan peran orang-orang Karo, tidak saja mempertahankan Karo tapi juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ada puisi berjudul Parang Simbisa. Satu puisi yang berisi 3 paragrap yang sebenarnya mengambarkan 3 tokoh hebat Karo : Letjen. Djamin Ginting dari Kesain Rumah Pengulun Kuta Suka, Selamat Ginting “Pa Kilap” (Komandan Napindo Halilintar) dari Kesain Rumah Duri Kuta Bangun, dan Payung Bangun (Komandan Barisan Harimau Liar atau BHL)

Ada surat dari kampong di masa revolusi :

……
“La kerbona jelmana” nina bage
sengget tersintak aku tumbuk lada
pemere mama tengah ndube

La niarap terdareh-dareh sada
cengkah-cengkah kiamken temanna
Papagina rehen upas melala
……
(puisi Surat Kuta Nari)

Bunga Dawa sebagai antologi puisi seperti merayakan sebuah pesta Kerja Tahun. Pesta tahunan yang lebih meriah dari pada mudik saat Lebaran dan Natalan. Semua berkumpul.

Puisi-puisi berkumpul. Yang datang dari perantauan bercerita tentang tanah pengembaraannya. Yang tinggal di kampong bercerita perkembangan kampong.

“…….
Sebingkes nipi ronggeng binge
Pinter bilangna jadi ate
Landek manggung cirem erbunga
Kucuba ngibing dalanku bene

Berem Bali i Nusa Dua
Raruna kondatang megara
Milep polana batu delima
Mayap aku ngerger rimna”

(puisi Berem Bali)

“…..
si la jadi peramaten ndube
sempedi la tama bilangen
ibas pilkada sekalenda e
soranta meherga cidahken

ngucuk-ucuk buah kaci-kaci
ngicik langkah simenci-menci
ikut milih ku kotak sora
muat lape-layar nageri
…….”

(puisi Pilkada)

Ada ratusan puisi yang bercerita. Ada ritual adat, ada nasehat, ada rayuan, ada jerit, ada tangis, ada tawa, ada kelakar dan ada yang ada. Semua dituliskan dalam bahasa Karo. Menggambarkan Karo dan Indonesia dalam bahasa Karo. Bahasa Karo Indonesia.

Ini bukan sekedar buku puisi yang dialih bahasakan ke dalam bahasa Karo. Lebih dari pada itu. Ini kerja-kerja yang lebih besar. Tak cukup dengan mencari kamus tebal bahasa Karo untuk mengartikannya.

“Kamus bahasa Karo karangan siapa yang kam (kamu) punya?” tanya TariganU di kamar 507 saat saya mewawancarainya, malam sebelum bedah buku Bunga Dawa diadakan.

“Karangan Darwin Prinst.”

“Ya….bukunya sudah benar. Hanya saja, saya masih menjumpai lebih 200 kata yang belum masuk dalam kamus itu”

Mumpung sedang membicarakan kamus, saya coba artikan apa itu “Bunga Dawa.”

Dawa adalah nama sejenis tanaman gandum kecil. Buah/biji Dawa sangat disukai burung-burung pemakan padi.

Pada kata pengantar buku Bunga Dawa, alm. Sutradara Gintings menjelaskan : untuk itu budidaya Dawa dilakukan secara sambilan pada musim tanam padi. Ditabur pada galengan-galengan sawah atau di selang-seling padi ladang gogo ranca, dengan maksud sentabi (permisi) memberi pakan burung-burung, supaya tidak mengganggu tanaman utama.

Burung-burung yang datang akhirnya tak memakan padi. Mereka lebih tertarik pada Dawa ini, karena lebih wangi dan gampang dimakan karena kecil.

Waktu panen Padi, Dawa ini masih tersisa. Burung-burung tak habis memakan biji-bijinya. Anak-anak gadis mengumpulkan biji Dawa ini untuk bahan membuat Cimpa. Cimpa Dawa namanya.

Ada lagunya kala itu :

bunga dawa lempe bulungna
bunga dawa lempe bulungna
mole ole i embus angin
mole ole i embus angin
…….

Kehadiran Cimpa Dawa menandakan panen yang melimpah ruah; menandakan burung-burung bersahabat menyisakan bagian bagi manusia. Semua wajah menjadi cerah penuh kebahagiaan.

Menurut penyair TariganU, bahasa Karo itu sangat cukup kaya untuk mengekspresikan semua perasaan dan pikiran. Kecuali bila benda-bendanya tak ada di Karo. Tidak berarti bahasa Karo itu lebih hebat dari bahasa lain. Tapi dia tak kalah dari bahasa lain.

“Kalau mengerti dan tahu bahasa Karo itu lebih dari cukup untuk tahu akan kehidupan. Untuk bisa baca alam semesta ini.” tegas TariganU.

“Cuma kita yang kadang-kadang : kita punya kita tidak kenal, orang lain punya kita belum dapat. Tapi kita sudah fanatik ke situ,” lanjutnya.

Cimpa Dawa sudah terhidang. Buku Bunga Dawa telah dibedah bersama-sama.

Tanaman Dawa telah dicabut dan dibenamkan ke tanah agar tanah subur kelak dan pada musim panen berikut hasilnya tetap melimpah. Dan bunga Dawa mekar kembali.

Puisi-puisi dari Bunga Dawa (Pincala II) semoga membawa semangat untuk mencintai sastra, sejarah dan budaya Karo. Tentunya juga mencintai Indonesia.

Semoga.

Leave a Reply