Kolom Alexander F. Meliala: Konsistensi Kinikaron

1
252

alexandersanggar 2Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan dalam bertindak. Sementara kinikaron dalam hal ini diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut hal-hal positif mengenai Karo, baik dari segi seni, budaya, adat istiadat, dan lain sebagainya. Selebihnya, kinikaron juga dapat diartikan sebagai bentuk rasa kecintaan dari seseorang terhadap Suku Karo.

 

Seseorang yang memiliki rasa kinikaron selalu berupaya mengemukakan keberadaan Suku Karo ke khalayak ramai atau dunia lebih luas. Rasa kinikaron muncul bersama keinginan agar Karo semakin dikenal oleh dunia. Namun demikian, dalam rangka mengemukakan atau mengkampanyekan keberadaan Suku Karo kepada khalayak, tentu dalam hal ini diperlukan media untuk menjembataninya.

Dalam hal mengemukakan Karo, lalu media apakah yang kerap digunakan oleh para penggiat kinikaron? Bila kita mencermati secara teliti, maka kita akan melihat sebuah fenomena, dimana kalangan penggiat kinikaron ternyata telah memanfaatkan sosial media sebagai sarana mengemukakan Karo sejak tahun 2000.

Mengapa saya katakan ini sebagai fenomena?

Ketika masyarakat Indonesia secara umum baru memanfaatkan secara luas keberadaan sosial media sejak tahun 2010an, justru penggiat kinikaron telah memanfaatkan media ini 10 tahun lebih dini.

 

herlan
HERLAN SEMBIRING BERSAMA KELUARGA. Herlan adalah pendiri (owner) milis TanahKaro. Milis ini awalnya dimeriahkan oleh para alumni Politeknik USU (sekarang Polmed) seperti Herland sendiri, Terbit Sembiring Meliala, Rayendra Ginting, Maja Sembiring, Ita Apulina Tarigan (sekarang Pimred Sora Sirulo) dan juga Ira Munthe dari FISIP USU. M.U. Ginting adalah penggiat pertama dari luar negeri yang kemudian disusul oleh Juara R. Ginting dan Pa Canggah Ginting (Ululau Galoh). Hampir semuanya mereka ada di grup facebook Jamburta Merga Silima (JMS) yang didirikan oleh Sada Arih Sinulingga dan hampir semuanya aktif mendukung www.sorasirulo.com yang didirikan oleh Ita Apulina Tarigan dan Juara R. Ginting atas dukungan Pa Canggah Ginting.

Sebagai bukti sosial media telah dimanfaatkan oleh penggiat kinikaron sejak tahun 2000, dapat dilihat melalui beberapa mailing list (milis) Karo yang memang telah berdiri pada tahun-tahun tersebut. Salah satu milis Karo yang paling awal muncul adalah milis Forum Karo yang telah berdiri sejak tahun 1999 (https://groups.yahoo.com/group/forumkaro). Milis Karo lainnya yang kemudian muncul adalah TanahKaro yang berdiri tepat pada tahun 2000 (https://groups.yahoo.com/group/tanahkaro).

Setelah kemunculan kedua milis Karo di atas, maka kemudian semakin banyak muncul milis-milis Karo lainnya yang tak dapat disebutkan satu per satu melalui tulisan ini. Namun satu hal yang unik, dengan konsistensi beberapa penggiat kinikaron, salah satunya sebut saja seperti kila Malem Ukur Ginting (M.U. Ginting), keberadaan milis Karo yang sudah hadir sejak tahun 2000 hingga kini masih eksis dan tetap menyuarakan Karo.

 

sanggar
Sanggar Seni Sirulo didirikan oleh Juara R. Ginting dan Ita Apulina Tarigan untuk lebih menyuarakan kinikaron di lapangan setelah tumbuh subur di dunia maya.

 

Kehadiran milis Karo sebagai media awal yang digunakan penggiat kinikaron untuk mengemukakan Suku Karo di media online berlanjut ke media sosial lainnya. Kehadiran Blogger, WordPress, Youtube, Friendster (situs jejaring sosial yang pernah mengemuka dan digemari hingga tahun 2008), Twitter, Facebook, bahkan Istagram juga tak luput digunakan para penggiat kinikaron untuk mengkampanyekan keberadaan Suku Karo.

M.U. Ginting
M.U. Ginting yang terus menerus aktif menyuarakan kinikaron dari Swedia.

Antusiasme penggiat kinikaron berupaya memanfaatkan sosial media dalam rangka memperkenalkan Suku Karo. Kita patut berbangga, sebab di sana kita dapat menyaksikan begitu banyaknya orang-orang Karo yang ternyata sangat peduli dengan keberadaan sukunya, sehingga pada akhirnya kita optimis bahwa Suku Karo semakin mengemuka, serta tak akan tergilas oleh arus globalisasi yang kian mengemuka.

Pada akhirnya, kita patut mengapresiasi para penggiat kinikaron awal yang telah banyak menginspirasi generasi-generasi berikutnya dalam rangka mengemukakan kinikaron di ranah media sosial, khususnya kepada mereka yang hingga kini tetap konsisten menyuarakan kinikaron.

Salah satu orang yang paling patut kita apresiasi dalam hal ini adalah M.U. Ginting.




1 COMMENT

  1. “Salah satu orang yang paling patut kita apresiasi dalam hal ini adalah M.U. Ginting” (AFM).
    Tidak kalah patutnya atau dalam hati saya yang paling patut diapresiasi ialah anak-anak muda, pemuda dan mahasiswa serta wanita Karo yang tak pernah lelah dan dengan semangat tinggi terus menerus memantapkan kinikaron itu. Tanpa dorongan semangat dari jiwa-jiwa muda ini tak mungkinlah kita meneruskan dan mengembangkan kebenaran Karo yang tersirat dan tercantum dalam kinikaron itu. Perubahan dan perkembangan kinikaron sangat saya rasakan sendiri dalam kehidupan saya. Terasa sudah berlaku umum bagi semua Karo memahami dan mengakui identitas/jatidirinya sebagai suku Karo, bukan sebagai sub-etnis Batak. Diantara orang Batak sendiri terlihat adanya ‘kesungkanan’ untuk mengatakan bahwa Karo adalah bagian dari suku mereka, jadi sangat berlainan dengan sikap dan perlakuan mereka sebelumnya dalam menghadapi suku Karo dan orang Karo pada umumnya. Ini menandakan bahwa respek dan saling mengakui sudah mulai tumbuh dikalangan orang Batak dan Karo sesamanya. Ini sesuai dengan tujuan utama KBB untuk mempertinggi dan menguatkan saling mengakui, saling menghormati dan saling mengharga sesama semua suku negeri ini dan juga dunia.

    Diantara orang Karo yang tadinya sangat yakin dan sangat bangga jadi Batak Karo, sekarang tak ‘penuh’ lagi pengakuan itu. Dulu dibilang terus terang dihadapan saya, tetapi sekarang “jangan bilang gitu, ada kila” katanya. Sambil berkelakar tetapi saya yakin dalam rangka meluruskan, atau setidaknya telah terjadi proses perubahan dan perkembangan dalam pikiran permen-permen itu.

    Jarang saya temui sekarang diantara orang Karo yang lancang dan kelihatannya yakin 100% kayak dulu bilang Karo adalah Batak atau bagian dari Batak. Kekecualian yang masih ada ialah diantara mereka yang sangat erat kehidupannya dengan orang Batak, secara famili atau kedudukan yang diyakini akan goyah kalau pisah dengan Batak secara terang-terangan. Disini sepertinya merupakan dilema kehidupan pribadi, bukan secara suku, dan yang biasa juga kita sebutkan dimilis Karo dengan istilah ‘zona aman’. Tetapi bisa juga dikaitkan dengan kepercayaan diri, soal mana belakangan banyak perubahan berkat imbas besar arus kuat KBB yang semakin dalam, semakin luas serta semakin ilmiah dalam mempelajari dan mengkedepankan semua argumentasinya, dan dengan terlibatnya generasi muda Karo (juga akademisi Karo) yang semakin tambah banyak berlipat ganda tiap harinya.

    Media internet dan media sosial Karo tak ternilai pentingnya berperan dalam soal ini. Dan karena itu juga bisa dikatakan bahwa era internet adalah era Karo dan kulturnya. Era loud mouth braggarts atau era extroversi dunia abad lalu sudah berubah jadi era introversi abad 21, bersamaan dengan munculnya abad Quiet Revolution Susan Cain dan Revolusi Mental Jokowi.

    KBB adalah enlightenment, pencerahan bagi suku Karo dan Batak dalam kaitannya dengan pembatakan Karo yang sudah dimulai sejak era kolonial dimana pada mulanya adalah dalam rangka ‘pecah belah dan kuasai’ bagi pemerintah kolonial. KBB adalah pencerahan bagi semua suku bangsa, dari segi kulltur dan budaya dan juga yang sangat penting ialah dari segi PERUBAHAN dan PERKEMBANGAN yang mungkin dan sangat penting bagi berbagai kultur/etnis negeri ini dan juga dunia.

    Ini artinya KBB mengkedepankan dan mengutamakan kemungkinan perubahan dan perkembangan bagi tiap suku bangsa, kultur, budaya dan daerah ulayatnya. Pedoman utamanya ialah melihat dari segi PERBEDAAN berbagai kultur/suku bangsa. Lupakan persamaannya kalaupun ada, karena persamaan tak bikin perubahan dan tak meningkatkan pikiran. Perbedaanlah yang mutlak dan itulah sumber pengetahuan bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengetahui berbagai kultur dalam nation Indonesia dan sebagai pengetahuan mutlak pula dalam menampilkan kedamaian, kerjasama dan sinergi kekuatan kultur yang bermacam-macam itu demi kemajuan bersama dan hidup bersama secara damai. Semua fenomena ini dicerminkan atau dinyatakan dalam ungkapan yang sudah terkenal: KEARIFAN LOKAL. Wali kota Medan Dzulmi Eldin dan juga wk gubsu Erry Nuradi dalam pertemuannya dengan masyarakat Karo dan dalam peringatan 425 tahun kota Medan sudah dengan tegas menyatakan dukungannya dalam soal penting ini.

    KBB tak salah dan tak keliru adalah bagian yang sangat penting dari apa yang pernah didengungkan oleh Sutradara Ginting sebagai ‘pencerahan dan harapan’.

    MUG

Leave a Reply