Kolom Joni H. Tarigan: TUJUAN

0
112

joni hendra tariganjoni hendra tarigan 6Dalam menyikapi setiap kejadian, sangat bijak jika kita menilai dulu motivasi dari semua peristiwa yang diberitakan atau berita yang diperistiwakan. Akan tetapi, mari kita lihat dulu perbedaan antara “peristiwa yang diberitakan” dengan “berita yang diperistiwakan”.

Peristiwa yang diberitakan artinya ada fakta atau kejadian yang kemudian disampaikan lewat media cetak ataupun media digital. Sedangkan “berita yang diperistiwakan” memiliki artian bahwa isi dari yang disampaikan itu bukanlah kejadian atau fakta yang sedang terjadi, akan tetapi dampaknya bisa membuat masyarakat bereaksi atas berita itu, barulah kemudian membentuk fakta.

Kedua hal tersebut pasti akan sama-sama mendapat reaksi pembaca yaitu masyarakat. Untuk peristiwa yang diberitakan tentunya reaksi akan beranekaragam sesuai dengan tingkat sumber daya manusia yang menanggapinya. Banyak orang yang berfikir positif dan membangun, dalam keadaan buruk sekalipun selalu bisa melihat bagian yang kemudian diolah menjadi negatif.

Ada juga orang yang mungkin memang senangnya melihat dunia ini terbalik alias pessimis. Dalam keadaan baik pun ia akan menuduh atau mencari hal yang buruk dari suatu kebaikan.  Apa pun reaksi masyarakat atas peristiwa yang diberitakan, mereka bereaksi terhadap realita atau kejadian sebenarnya.

joni hendra tarigan 5Kesia-siaan  dan sangat disayangkan, karena membuang tenaga dan fikiran, ketika masyarakat bereaksi terhadap berita yang diperistiwakan. Kerugian akan semakin besar, karena golongan pesimis  akan bereaksi nyata. Ini yang bahaya, karena reaksinya nyata, padahal penyebabnya itu tidak ada. Saya lebih menitik beratkan tingkat bahaya itu akibat dari SDM-nya yang memang sengaja membuat kegaduhan, atau media yang mampu menggiring kekurangtahuan pembaca atau pemirsa.

Ini artinya jika kita memang ingin berada di posisi bereaksi yang tepat terhadap suatu berita, maka kewajiban kita adalah memastikan secara utuh kebenarannya. Bukan bereaksi tanpa menelaah dahulu dan bisa berdampak negatif di tengah masyarakat.

Ahirnya, saya sebagai seorang rakyat Indonesia akan berkata begini: “Wahai orang-orang yang mendiami negeri ini, kita punya satu tujuan, yakni kecerdasan dan kemajuan bangsa dan terlibat aktif dalam perdamaian dunia.”

Maka:

Jika malas bisa mewudkannya, malaslah selamanya. Jika memfitnah itu bisa mewujudkannya, teruslah memfitnah. Jika sikap benci bisa mewujudkannya, peliharalah kebencianmu. Jika pessimis bisa menjadikannya nyata, bertahanlah dengan pessimis.

Belajar dan bekerjalah, karena itu adalah bagian usaha menggapainya. Optimislah terhadap diri sendiri, barulah orang lain ikut optimis untuk mewujudkannya.

Yakini apa yang kita lakukan untuk satu tujuan.

Leave a Reply