Orang Toba dengan Tarombo Sianjurmula-mula

1
259

Oleh: Edward Simanungkalit

 

edward simanungkalitOrang Toba terkenal suka martarombo (menelusuri silsilahnya). Mereka mengurut tarombonya dari ompungnya atau dari pembawa marganya. Belakangan ini sudah sampai kepada pembuatan nomor sebagai nomor urut generasi. Penulis bermarga Simanungkalit dengan nomor 14, yang artinya generasi keempatbelas dari nenek-moyang Simanungkalit, yang bernama Ujung Tinumpak. Kemudian ketika bertemu dengan marga Simanungkalit lain, katakanlah dia itu nomor 14 juga, maka mulai diurut ke bawah ompung mulai dari anak Ujung Tinumpak Simanungkalit.

Penulis menyampaikan bahwa penulis adalah keturunan dari Ompu Raja Natangkang, anak dari Ujung Tinumpak Simanungkalit. Kemudian apabila ada kesamaan dengan orang itu, maka penulis akan memperkenalkan diri sebagai keturunan berikutnya, yaitu Bahara Tunggal, sebagai generasi ketiga. Selanjutnya, apabila ada kesamaan lagi, maka akan dilanjutkan kepada ompu yang di bawahnya lagi, yaitu Marbunga Raja. Apabila dia ternyata keturunan Marbunga Raja juga, maka biasanya terakhir kami bertanya keturunan Marbunga Raja yang mana: Simanjanganjang, Siasohuring, atau Datu Nageduk. Biasanya akan ketahuan, apakah penulis memanggil abang atau memanggil adik kepadanya. Demikianlah gambaran martarombo sekilas lintas di dalam perkenalan dengan sesama teman semarga dalam lingkungan Orang Toba.

tarombo 3Itulah makanya buku W.M. Hutagalung: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) demikian larisnya atau laris manis. Di dalam buku tersebut dapat dilihat tarombo Raja Ihatmanisia sampai kepada Si Raja Batak dan kemudian keturunan Si Raja Batak sampai marga-marga yang ada  di sekitar Sumatera Utara daratan. Dengan cara membuat tarombo seperti itu, maka Orang Pakpak, Orang Karo, Orang Simalungun, dan Orang Mandailing menjadi keturunan Si Raja Batak. Si Raja Batak ini kampungnya di Sianjurmulamula, di lereng Pusuk Buhit. Artinya, mereka itu semuanya dianggap berasal dari Sianjurmulamula dan merupakan keturunan Orang Toba juga.

Uniknya, mereka selalu menyanggahnya, karena mereka tidak merasa berasal dari Sianjurmulamula sebagai keturunan Si Raja Batak. Akan tetapi, Orang Toba selalu berusaha menyadarkan mereka bahwa mereka berasal dari Sianjurmulamula sebagai keturunan Si Raja Batak. Inilah yang biasa terlihat dan tak jarang terjadi debat di internet akibat dari masalah ini. Sedang orang Angkola tidak begitu terlihat penolakannya, tetapi ketika Orang Angkola mendirikan gerejanya, maka mereka beri nama GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola) tanpa ada kata Batak di sana.

Orang Pakpak, Orang Karo, Orang Simalungun, dan Orang Mandailing merasa bahwa mereka merupakan keturunan Orang India seperti Orang Pakpak dan Orang Simalungun. Sedangkan Orang Karo dan Orang Mandailing merasa punya kaitan dengan India, sehingga berbeda dengan Orang Toba. Belakangan ini ternyata telah jelas bahwa penghuni awal Sianjurmulamula adalah Orang Taiwan. Sehingga, berbeda rasnya,  yang mana Orang Taiwan merupakan ras Mongoloid,  sedang ras mereka yang menolak disebut Batak itu rata-rata dari India Selatan meskipun masih sama-sama penutur bahasa Austronesia. Kalau rasnya berbeda, maka DNA-nya pun pasti berbeda juga.

Yang pasti bahwa DNA Orang Toba ada perbedaannya dengan DNA Orang Karo, karena sudah ditest DNA keduanya oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Indonesia. Belum lagi melihat sejarahnya, kalau dilihat dari segi waktu, maka penghuni awal Sianjurmulamula sampai di sana sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu, sementara mereka yang menolak tadi sudah lebih dari 1.000 tahun kehadirannya di kampung mereka. Oleh karena itu, ada dua perbedaan antara Orang Toba dengan Orang lain yang menolak disebut Batak itu, yaitu: perbedaan sejarahnya dan DNA-nya.

Kalau tarombo orang Toba dari Adam dapat dilihat di bawah ini yang disusun berdasarkan Haplogroup DNA-nya sebagai berikut:

tarombo
Sumber: http://essayweb.net/biology/haplogroups.shtml

 

Orang Toba memiliki DNA Haplogroup O (lihat: huruf O yang diberi lingkaran warna merah). Orang Toba merupakan campuran ras Mongoloid dengan ras Australomelanesoid,  sehingga Haplogroup O ini disebabkan oleh karena DNA Orang Toba itu berasal dari Orang Taiwan yang merupakan ras Mongoloid sebesar 80% (Austronesia + Austroasiatik). Sedang Orang Negrito yang merupakan ras Australomelanesoid hanya sebesar 20% dan ini yang memiliki DNA Haplogroup M (lihat: huruf M yang diberikan lingkaran  merah). Pemilik DNA Haplogroup O tidak mungkin tiba-tiba melahirkan DNA Haplogroup M, misalnya Orang Toba tidak mungkin melahirkan/memiliki keturunan Orang Gayo, karena Orang Gayo memiliki DNA Haplogroup M (Lintas Gayo, 07/12-2011).

Padahal, selama ini, ada yang menyebut bahwa Orang Gayo adalah keturunan Si Raja Batak dari Sianjurmulamula, sedang penghuni awal Sianjurmulamula adalah Orang Taiwan dengan DNA Haplogroup O sepenuhnya. Ini jelas tidak ada logikanya. Malah Orang Negrito yang datang ke Humbang sekitar 6.500 tahun lalu justru datang dari Tanah Gayo.

tarombo 2Hal seperti ini patut direnungkan kembali, karena pembuatan tarombo seperti yang dilakukan dalam buku: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (W.M. Hutagalung, 1926) hanya berdasarkan marga dan turiturian. Padahal, sejarah dan rasnya (DNA) berbeda meskipun mungkin marga sama seperti marga Limbong di Toraja dan marga Tambun di Minahasa pastilah berbeda dengan marga Limbong dan Tambun dari Toba. Kemudian hal itu bukanlah menjadi dasar untuk menyatakan bahwa mereka adalah keturunan penghuni awal Sianjurmulamula. Penghuni awal Sianjurmulamula itu datang dari Taiwan berasal dari suku Ami dan suku Atayal, yang merupakan suku asli Taiwan dari ras Mongoloid. Lantas dengan siapa ini mau disamakan di daratan Sumatera?

Sepertinya harus lelah memandang untuk mencari-carinya. Memang ada di Nias yang mirip sama-sama berasal dari Taiwan, tetapi mereka datang ke Nias sekitar 4.000 – 5.000 tahun lalu, sementara yang datang ke Sianjurmulamula sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu. Jelas, rentang waktunya sangat panjang, sehingga tidak mungkin orang Nias merupakan keturunan penghuni awal Sianjurmulamula.

Ternyata jurus yang dimainkan di dalam buku W.M. Hutagalung: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) itu hanyalah jurus padomuhon langit dohot tano. *

Padomuhon langit dohot tano artinya mempersatukan langit dengan tanah  adalah perumpamaan tentang sesuatu yang tak mungkin dipersatukan, tetapi dimungkinkan hanya di dalam kata-kata walaupun tidak pernah ada dalam kenyataan.

Catatan Kaki: ORANG TOBA: Asal-usul, Budaya, Negeri, dan DNA-nya; ORANG TOBA: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito; ORANG TOBA: Bukan Keturunan Si Borudeak Parujar; PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA; ORANG TOBA DENGAN SIANJURMULAMULA; oleh: Edward Simanungkalit.

Berita-berita lainnya klik Sora Sirulo


1 COMMENT

  1. Sangat menarik artikel ES ini.
    Dia bilang:
    “Yang pasti bahwa DNA Orang Toba ada perbedaannya dengan DNA Orang Karo, karena sudah ditest DNA keduanya oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Indonesia. Belum lagi melihat sejarahnya, kalau dilihat dari segi waktu, maka penghuni awal Sianjurmulamula sampai di sana sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu, sementara mereka yang menolak tadi sudah lebih dari 1.000 tahun kehadirannya di kampung mereka. Oleh karena itu, ada dua perbedaan antara Orang Toba dengan Orang lain yang menolak disebut Batak itu, yaitu:perbedaan sejarahnya dan DNA-nya.”.

    Sudah tak banyak lagi diantara orang Toba ini yang terus terang membatakkan Karo atau membatakkan etnis-etnis lainnya seperti Gayo, Pakpak dsb. Orang Toba ini yang tadinya secara keras ngaku Batak, si raja Batak dsb, kelihatan sekarang sebagian cenderung ngaku Toba atau lebih masuk akal begitu.

    Politik pembatakan pada pokoknya sudah berakhir disini. Secara ilmiah sudah tak bisa diteruskan karena tak ada gunanya lagi sebagai strategi politik, artinya tidak lagi memberikan untung politik, bisa malah merugikan. Karena itu bagi orang Toba sendiri muncul pertanyaan apakah orang Toba sendiri perlu teruskan mengaku sebagai Batak.

    Salah satu sifat orang Batak menurut DR RE Nainggolan ialah mereka suka berterus terang termasuk mengakui kesalahan kalau memang sudah jelas salah dan mengakui yang benar seperti dalam hal Karo dan Batak ini karena telah banyak dijelaskan secara ilmiah oleh ahli-ahli dalam bidang-bidang arkeologi, antropologi dan juga bidang sejarah. Ini memang betul terlihat belakangan terutama setelah adanya penemuan ilmiah yang baru dalam bidang arkeoologi dan DNA grup manusia (berbagai etnis).

    KBB adalah gerakan pencerahan dari pihak Karo telah ada jauh sebelum munculnya penemuan-penemuan baru dalam bidang arkeologi, barang anyaman dan fosil tua 7400 tahun ber DNA Karo dan Gayo di dataran tinggi Gayo. Penentangan keras terhadap KBB mulanya bukan hanya dari pihak orang Batak sendiri tetapi juga dari pihak sebagian orang Karo. Orang Batak atau sekarang ngaku Toba tak akan meneruskan penentangannya kalau sudah jelas salah. Ini tak luput juga dari sifat/karakter mereka yang extrovert (stimulasi luar). Berlainan dengan orang Karo yang introvert (stimulasi intern) yang tidak begitu langsung untuk mengakui terus terang kalau pengertian ‘Batak Karo’ itu telah terbukti salah total.

    Ini terlihat juga dalam pemakaian istilah ‘Batak’ dalam gereja GBKP orang Karo. Persoalan stimulasi intern tadi . . mengakui secara cepat kekeliruan peninggalan kolonial . . lebih disukai oleh orang-orang extrovert stimulasi extern. Tetapi bukanlah berarti bahwa orang introvert tak mau mengakui keilmiahan perkembangan dan penemuan baru, sama sekali tidak demikian.

    Itulah peninggalan persoalan bagi sebagian orang Karo yang tadinya mengaku ‘Batak Karo’. Bagi orang Toba persoalan yang tinggal ialah apakah akan terus mempertahankan Batak atau lebih baik ngaku Toba saja. Batak itu hanya buatan kolonial atau julukan kanibal/primitif bagi penduduk pedalaman di Asia Tenggara, mulamya dari pihak islam dan kemudian dari pihak kaum kolonial eropah.

    Dengan selesainya politik pembatakan dan hilangnya ‘suku’ Batak yang berangsur berubah jadi suku Toba, fungsi KBB sebagai pelopor keadilan kultural dan pejuang kearifan lokal berdasarkan kultur dan budaya daerah, KBB akan terus maju dan menyesuaikan perjuangannya dengan situasi konkret perubahan dalam masyarakat dari segi pemikiran dan dari segi tingkat kesedaran.

    Perjuangan KBB adalah perjuangan terus menerus dalam arti jaminan survival semua kultur. Tidak ada kultur yang harus punah dari satu daerah ulayat yang sudah berabad-abad bahkan ribuan tahun jadi pemilik daerah bersangkutan seperti daerah Karo dan Gayo. Keduanya sudah terbukti berumur ribuan tahun.

    Indonesia terdiri dari beragam kultur Bhinneka Tunggal Ika. Entah apa jadinya Indonesia ini kalau hanya ada satu kultur. Karena itu KBB akan terus berjuang didepan jadi pelopor survival semua kultur di Indonesia maupun di dunia. Trend yang terlihat sekarang juga ialah bahwa tiap kultur semakin jelas menyatakan dirinya dalam Jati Dirinya (identitasnya) dan juga Daerahnya dimana kultur itu bisa bertahan dan berkembang. KBB sepenuhnya mendukung perkembangan ini.

    MUG

Leave a Reply