Kebebasan Berbicara di Bali dan Karo

0
155

Oleh: Daud S. Sitepu (Papua)

 

mangku 2
Gubernur Bali

daud  sitepuBebas bicara ini saya pikir sangat menarik dan terobosan baru yang dipelopori oleh Mangku Pastika gubernurnya Bali. Dulu beliau pernah di Papua. Bebas berbicara, katanya, tentu untuk hal-hal yang baik seperti kasus Angeline ini.

Masyarakat Bali merasa tercemar dan tersakiti dari sisi kemanusiaan dan keadilan. Pantas jugalah mereka meneriaki karena kesal dan sedih. Citra dan nama baik Bali akan dipertaruhkan di dunia internasional yang bisa berdampak kepada citra Bali jika kondisi kekejaman seperti kasus ini terjadi.

Masyarakat Bali menjaga image dengan baik agar jangan ada yang buruk terjadi, sebisa mungkin. Ini adalah cara bijak masyarakatnya yang telah lama dalam alam keterbukaan terhadap banyak suku bangsa. Berfikir luas dan menjaga citra baik nama baik Bali.


[one_fourth]Bagaimana kita Karo?[/one_fourth]

Kearifan lokal dan kekinian Karo perlu mencontoh masyarakat Bali ini. Kearifan lokal Bali tampak jelas, berwana jelas dan tidak abu-abu. Kearifan lokal dimaksud bukanlah sebuah kebijaksanaan untuk diri sendiri atau pintar sendiri dan bijak sendiri, tetapi sangat memahami apa yang pantas untuk dilakukan dalam masyarakatnya dan lingkungan lokal serta dunia internasional umumnya.

kinikaron 3
Tarian Karo di sebuah pesta tahunan tradisional )Kerja tahun’. Foto± Darul Kamal Lingga Gayo

Kekinian Karo sudah dimulai baik di dalam kultur maupun kehidupan lain-lainnya, tapi masih perlu ditingkatkan lagi atau lebih diperbaharui cara-caranya sehingga Karo bisa melesat ke dunia internasional seperti Bali.

Budaya keterbukaan dan saling menghormati di Bali sangat kental selain ramah tamahnya. Semoga Karo tetap melesat ke depan dengan caranya sendiri yang memang juga orangnya ramah-ramah, cinta persahabatan dan persaudaraan.
Jangan lupa untuk tetap bebas berbicara, bicara yang membangun dan bermakna tentunya.

Salam Mejuah-juah.


Leave a Reply