Kemanusiaan yang Terperangkap

1
165

Oleh: Nancy Meinintha Brahmana (Kabanjahe)

 

nancy
Nancy M. Brahmana

Seolah-olah ada sisi lain yang membatasi satu dengan yang lainnya yang tidak dapat dielakkan ataupun dilepaskan  sehingga ada kata terperangkap.  Ruang gerak manusia sesungguhnya tidak dapat dibatasi dengan fisik yang terbatas dalam ruang dan waktu.  Pikiran juga merupakan benda yang bergerak.

Gerakan pikiran dapat menggerakkan benda yang nyata terlihat dalam dunia metafisika.  Dunia metafisika tidak dapat disamakan dengan mistik yang mempengaruhi kejiwaan yang seolah dari sesuatu yang gaib, melainkan suatu rumusan yang teruji akibat analisa dan pengkajian unsur-unsur alam dalam segala geraknya.

Manusia terperangkap dalam tubuh bukan dalam pikiran.

Telah 5 tahun lamanya Sinabun, Gunung yang elok di Dataran Tinggi Karo, mempermainkan hati saudara-saudaranya.  Banyak keluhan, tangisan, kekecewaan, kematian yang telah terjadi mengikuti perkembangan hati Sinabun.  Melalui itu pula jalur-jalur kemanusiaan mulai terentang di Kabupaten Karo. Lembaga-lembaga telah terbentuk dan keperdulian untuk saling membantu  semakin ditingkatkan.  Mata manusia dibukakan untuk melihat penderitaan saudara-saudaranya.  Tidak sedikit dari masyarakat yang terkena bencana menjadi kehilangan kewarasannya.  Pemenuhan kebutuhan kemanusiaan  semakin diperhatikan.

Kegiatan kemanusiaan adalah kegiatan hati yang seharusnya terus menerus dilakukan bukan sebagai jembatan pribadi untuk tujuan pribadi. Kegiatan kemanusiaan bukan dalam skala yang naik turun mengikuti arus agar turut terlihat oleh orang lain. Kegiatan kemanusiaan tidak untuk dipermainkan.  Pengolahan segala kebutuhan kemanusiaan harus berakar dari diri sendiri bahwa apa yang saya butuhkan sebagai kebutuhan primer adalah juga yang mereka butuhkan.  Sandang, papan, pangan adalah yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

nancy 9
Sanggar Seni Sirulo yang saat itu (2010) langsung dikoordinir oleh Juara R. Ginting menghibur para pengungsi Sinabung di Kabanjahe.

Sekarang, saudara-saudara yang sedang mengungsi merasa terperangkap tiada daya.  Kita melihat banyak sekali bantuan-bantuan yang membuat saudara-saudara pengungsi tercukupi segala kebutuhannya. Namun saya melihat kurang sekali atau tidak ada yang membuat seminar-seminar untuk saudara-saudara pengungsi. Seminar ini perlu sekali untuk membuka pola pikir dan membangkitkan hasrat mereka agar terbangun dan tidak merasa diri terperangkap oleh kondisi.

Mungkin seminar tidak menjadi trend ataupun kerinduan bagi saudara-saudara pengungsi.  Namun seminar sebenarnya sangat diperlukan untuk memberi  pencerahan baru dan memotivasi agar hati bangkit kembali.  Sesungguhnya sudah banyak sekali modal ataupun tabungan para lembaga yang terhormat dalam gerakan kemanusiaan ini namun lebih sering terlihat sebagai pertolongan yang habis.

Saya pikir bahwa patut kita pertimbangkan agar pertolongan lebih dari lingkup fisik, namun agar rasa kemanusiaan tidak lagi terperangkap oleh situasi dan kondisi.  Seperti yang kita tahu para  filsuf berkata, ‘aku ada maka aku ada’ , ‘aku berpikir maka aku ada’, ‘yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada’, semua perkataan ini lahir dari pikiran yang bergerak.  Banyak sekali penggerak yang tidak menggerakkan badannya karena keterbatasan ruang ataupun fisik namun menggerakkan dunia.

Sebaiknya cara kita menolong mereka yang ingin bangkit haruslah kita menolong pikirannya untuk bergerak dan mendorong pergerakannya agar optimal sehingga pelayanan kemanusiaan kita menjadi gerakan kemanusiaan yang holistic.

Demikianlah kiranya. Salam.




1 COMMENT

  1. “Seminar ini perlu sekali untuk membuka pola pikir dan membangkitkan hasrat mereka agar terbangun dan tidak merasa diri terperangkap oleh kondisi.”

    Ide yang bagus menurut pendapat saya dan betul “sangat diperlukan untuk memberi pencerahan baru dan memotivasi agar hati bangkit kembali.”

    MUG

Leave a Reply