Kolom Nancy M. Brahmana: MENYENDIRI

2
290

nancy 10nancy 12Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan. Ini adalah kalimat yang ditulis oleh Salomo (Sulaiman).


Mengawali dari pemikiran terhadap ‘orang yang menyendiri’ saya jadi teringat akan kehidupan seniman. Seniman yang sedang mencari ide, inspirasi, cenderung mengasingkan dirinya agar mendapat apa yang diinginkannya dari hasil ide. Situasi menyendiri dalam pikiran yang fokus terhadap sesuatu. Jangan coba-coba mendekati atau mengganggu konsentrasi seniman apabila wangsit sedang menghampiri kalau tidak mau disambit.

Menyendiri dalam konteks di atas yang dimaksud oleh Salomo, memang menggambarkan kondisi yang negatif. Orang-orang yang penyendiri cenderung introvert yaitu bersikap dan bertindak menurut pikiran diri sendiri tanpa peduli akan orang lain/ Kamus Serapan Asing, JS.Badudu, hal.161; adalah orang sensitif di mana amarah cenderung meledak-ledak atau bahkan diam namun menyimpan dendam karena hati yang terusik.

Menyendiri karena sensitif atau sikap introvert bukanlah suatu sifat pendiam yang positif ataupun rendah hati. Bahkan sifat menarik diri dari lingkungan ini lebih tepat dikatakan sifat tinggi hati, congkak dan mau menang sendiri sebab tidak mampu menerima pertimbangan atau kritikan bahkan masukan dari lawan bicara, menganggap diri lebih benar dari pada menerima perkataan lawan bicara.

Berbeda dengan sikap ‘menyendiri’ yang disebut ‘retret’. Retret adalah sikap mengundurkan diri dari orang ramai untuk bertenang-tenang atau menenangkan batin /KSA, JSB, hal.306.

Menyendiri di sini adalah mengkondisikan pemikiran sebagai introspeksi diri agar menjadi lebih baik. Biasanya menyendiri ini disertai doa bahkan puasa atau cenderung ke arah kerohanian.

Kita ingat pertapa. Pertapa adalah orang yang mendisiplinkan dirinya sedemikian rupa terhadap pemikiran dan keinginan tubuh. Pertapa juga membutuhkan situasi tenang tanpa keramaian sehingga lebih cenderung menyendiri. Menyendiri pada pertapa berkonsep lahir dan bathin. Pertapa dalam kesendiriannya mempunyai suatu tujuan terhadap pencarian diri dan ilmu tertentu.

Apakah Anda sedang dalam kondisi menyendiri? Menyendiri yang bagaimana? Ingatlah, pemikiran yang terbuka terhadap segala bentuk pemikiran dari luar tubuh yang membuat kita berkecil hati, kecewa, amarah, dendam, sakit hati, bukanlah sikap yang baik untuk membuat kita menyendiri, sebab dapat menimbulkan dendam, luka dan semangat yang patah. Namun, apabila Anda menyendiri karena alasan tertentu, agar meningkatkan hidup lebih baik, adalah sikap menyendiri yang positif disertai batasan waktu tertentu dan kembali kepada kehidupan bersosial yang normal.

Namun, alangkah baiknya apabila kita memberi waktu ‘menyendiri’ dalam satu hari untuk melakukan perenungan-perenungan yang baik yang terjadi pada hari itu dan harapan yang baik untuk hari esok. Dengan dilakukannya perenungan yang mengawali hari dan mengakhiri malam kita seakan mempunyai diari yang tertulis dalam bathin, suatu rambu-rambu yang mengajari diri sendiri untuk hidup bijaksana dan berhikmat.

Dengan demikian kita mengawali suatu hari yang baru dan semangat yang baru pula.

Selamat menikmati hidup.

2 COMMENTS

  1. “Namun, alangkah baiknya apabila kita memberi waktu ‘menyendiri’ dalam satu hari untuk melakukan perenungan-perenungan yang baik yang terjadi pada hari itu dan harapan yang baik untuk hari esok. Dengan dilakukannya perenungan yang mengawali hari dan mengakhiri malam kita seakan mempunyai diari yang tertulis dalam bathin, suatu rambu-rambu yang mengajari diri sendiri untuk hidup bijaksana dan berhikmat.
    Dengan demikian kita mengawali suatu hari yang baru dan semangat yang baru pula.” (NMB)

    “Kalau orang-orang yang bisa menikmati kepiluan ini dan bisa juga menerima kritikan . . . kombinasi luar biasa!” (MUG).

    Dalam kalimat Beru Berahmana (NMB) diatas terlihat bagaimana ‘perenungan’ bisa mengawali suatu yang baru artinya ‘perubahan’ dan tentu juga perkembangan ke arah yang lebih maju pikiran seseorang, disini terutama orang-orang introvert seperti Karo yang berkembang dengan stimulasi intern. Perubahan itu mungkin dan sangat penting, syarat kemajuan seseorang atau satu komunity seperti Karo atau satu nation. Kalau orang-orang yang bisa menikmati kepiluan ini (introvert) juga bisa menerima kritikan dari luar . . . ini luar biasa, artinya ini mendandakan perubahan dan perkembangan. Perubahan positif dari introversi ke extroversi sering kita tulis id milis.
    Saya jadi teringat lagi kesimpulan singkat dari RGM di milis Karo dua tahun lalu dalam diskusi soal ‘doktrin Karo’ “caingi muat jilena” atau “ula sipanjang punjuten”.

    RGM tulis begini:
    “Karakter (watak) sangat penting, bahkan kalau menurut Stephen R.Covey, karakter itu menentukan nasib. Namun demikian, karakter ternyata bisa berubah. Atau tepatnya bisa diubah. Apa yang bisa mengubah atau menentukan karakter ? Itu tadi, nilai2 (values) yang dianut dan lingkungan dimana kita tinggal dan bergaul, tantangan yang kita hadapi dan membentuk kita dalam perjalanan waktu. Karakter tidak selalu menyangkut norma atau nilai (baik atau buruk, jujur atau tidak jujur), tapi juga kompetensi atau kemampuan. Karena itu Henry Cloud (dalam “Integrity”) mengartikan karakter sebagai “kemampuan memenuhi tuntutan kenyataan”. Jika kenyataan di lingkungan kita berada menuntut kita harus “sipanjang-punjuten”, maka kita tidak bisa menghindarinya. Tinggal bagaimana “kompetensi atau kemampuan” kita mengelola (manage) keadaan itu, sehingga tercipta situasi win-win solution, spt yang sering disampaikan senina MUG.
    Karakter orang yang menganut nilai2 “hamoraon (kekayaan), hagabeon (beranak pinak), hasangapon (kekuasaan/kehormatan)”, tentu berbeda dengan orang2 yang hidup dalam falsafah atau nilai2 “sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring”. Meskipun penganut nilai2 yg berbeda di kedua komunitas tersebut tidak mutlak adanya, namun bagimanapun nilai2 tersebut turut mewarnai perilaku masyarakat yg menganutnya.
    Apa pentingnya mengetahui karakter umum komunitas tertentu ? Agar kita dapat meng-adjust (menyetel) “kemampuan memenuhi tuntutan kenyataan” tadi itu, bahwa misalnya, komunitas yang bertetangga dengan kita “memiliki perilaku tertentu” yg mau tak mau harus “kita hadapi”sehingga tercipta saling pengertian dan keseimbangan di antara keduanya. Jadi kita jangan terus menerus spt orang kaget dan mengumpat. Kuncinya tingkatkan kemampuan (kompetensi).”

    Jadi dua orang penulis ini RGM dan NMB menjelaskan bahwa emungkinan perubahan pikiran dan karakter juga sangatlah besar dan juga bagaimana pentingnya perubahan itu dalam kehidupan kita.

    MUG

  2. “Bahkan sifat menarik diri dari lingkungan ini lebih tepat dikatakan sifat tinggi hati, congkak dan mau menang sendiri sebab tidak mampu menerima pertimbangan atau kritikan bahkan masukan dari lawan bicara, menganggap diri lebih benar dari pada menerima perkataan lawan bicara.”(NMB)

    Tidak mampu menerima pertimbangan atau kritikan dari lawan bicara, satu sifat yang sangat negatif memang. Negatifnya kalau saya perhatikan dalam perubahan diri sendiri ialah tak ada perkembangan. Pemikiran terus menerus begitu saja, karena tanpa kritikan dan masukan dari luar diri sendiri sangat seret untuk mendatangkan perubahan. Atau dengan perkataan lain, tidak menerima kontradiksi sebagai tenaga penggerak perubahan dan perkembangan.

    Tetapi juga mungkin melihat umur seseorang. Anak-anak muda biasanya banyak yang tak bisa menerima kritik atau masukan dari luar dirinya, apalagi kalau dibilang langsung. Semakin dewasa kita semakin kalam kita menerima masukan atau kritikan. Juga jamannya, sekarang adalah era dialog dan keterbukaan. Banyak yang malah senang mendapat kritikan, karena apa yang disebut dalam kritikan adalah soal-soal baru yang tak pernah terpikir. Jadi ada kalanya kita malah berterima kasih dapat kritikan. Makanya juga DPR menolak usul UU penghinaan terhadap presiden dan wk presiden itu. Kalau UU itu masih dipakai, tak akan ada kemajuan karena sama dengan negara totaliter, tak bisa menerima kritik.

    Asalkan kritikan itu tidak adhominum, tidak menyerang pribadi perorangan, tetapi pendapat atau ide atau gagasannya yang dikritik. Tentu ini patut dan sangat dibutuhkan demi perubahan dan perkembangan pemikiran seseorang dan pemikiran bersama.

    Lebih jelek tentunya kalau tak ada yang nggubris sama sekali apapun kita bilang atau tulis. Kalau begitu jangankan mengharapkan perubahan, sangat boring. Ercakap la radum saja hehehe . . . si mulih karaben.

    Ngomong-ngomong soal simulih karaben ercakap la radum, saya teringat nyanyian introversi orang Karo pada umumnya. Soal introversi tadi hehehe . . .

    Sering saya kagumi sendiri nyanyian introvert Karo, karena sering menggugah. Bagaimana kok musik/nyanyian bisa menggugah hati seseorang seperti saya. Tentu ada juga latar belakang yang tidak sama bagi setiap orang, pasti. Tetapi biar bagaimanapun mengapa nada atau bunyi itu bisa sangat mempengaruhi jiwa seseorang? Saya maksudkan saya sendiri hehehe . . .

    Kalau saya lihat nada-nada yang sangat mempengaruhi bagi saya ialah lagu-lagu Karo dengan nada ‘minor’ atau ‘moll’, bukan dengan nada ‘major’ atau ‘dur’. Kalau orang barat bilang (dalam hubungannya dengan lagu-lagu klasik) lagu-lagu minor introvert itu “is a tragic ominous forlorn minor (who knows how those feelings got started, but maybe there’s something to them)”. Menggambarkan kesedihan dan kepiluan tetapi menikmati sekali gus. Coba kata-kata syair ini, “mombak pe lalit sinangkapsa, tading pe la lit si ngolihisa . . . ” atau “ikut bas kepiten, tading bas beligan” lagunya dan kata-katanya sangat memilukan tetapi sangat menyenangkan. Kalau orang-orang yang bisa menikmati kepiluan ini dan bisa juga menerima kritikan . . . kombinasi luar biasa!

    MUG

Leave a Reply