Wisata Kuliner: Roti Bohong, Riwayatmu Kini (3)

1
220

Oleh: Salmen Kembaren

Asimilasi Budaya Karo Tionghoa – Belanda – Karo

 

Salmen 12roti boong 3Kedai Kopi atau warung kopi merupakan salah satu warisan budaya Eropa – Belanda bagi banyak suku bangsa di Indonesia tidak terkecuali Suku Karo. Minum di kedai kopi di pagi hari merupakan sebuah kebiasaan bagi kaum lelaki seolah-olah sudah bagian dari dudaya Karo. Bahkan ada juga yang sanggup nongkrong di kedai kopi seharian bersama catur mereka atau sekedar bercakap-cakap.

Teh Susu Panas sebagai minuman paling digemari di pagi hari di kedai kopi. Bagi kalangan lelaki Karo, namanya saja warung kopi, padahal hanya beberapa orang yang minum kopi, paling banyak minum teh manis. Roti Kosong adalah jodoh dari teh susu. Bersama teh susu roti kosong dianggap sebagai menu sarapan terbaik.

Entah mengapa, mereka tidak ada bosannya, padahal setiap hari menunya bisa sama di warung kopi. Teh Susu tanpa roti kosong seolah sama dengan Romeo tanpa Juliet. Bagi yang tidak suka atau tidak tahan minum susu biasanya mereka mencelupkan roti kosong  ke dalam teh manis sebelum dimakan.

Kedai Kopi biasanya buka Pukul 06.00 (pagi) di desa-desa. Tidak perlu ragu kalau roti kosong belum ada jam segitu. Para pengantar roti biasanya bergerak Pukul 05.00 atau 06.00 sehingga paling lama Pukul 07.00 pagi roti telah tesebar ke seluruh desa yang ada di sekitar industri Roti Bohong itu.

Sarapan pagi dengan teh susu dan roti kosong merupakan padu padan dari 3 unsur budaya yakni Eropa, Tionghoa dan Karo. Eropa mewariskan kedainya, Tionghoa mewariskan rotinya, Karo menikmati dan mengkreasikan kedua warisan budaya asing itu.

Kita tentunya tidak tahu persis rasa cahkwe generasi pertama di Sumatera Utara, namun beberapa cahkwe yang dijual di Medan rasanya manis, kadang dimakan bersama saus cabe atau tomat. Agak berbeda dengan Roti Bohong rasanya tidak terlalu manis, rasa asinnya juga tidak dominan. Mungkin karena rasanya demikianlah ia sangat cocok dipadankan dengan teh susu yang manis.


1 COMMENT

  1. “Sarapan pagi dengan teh susu dan roti kosong merupakan padu padan dari 3 unsur budaya yakni Eropa, Tionghoa dan Karo. Eropa mewariskan kedainya, Tionghoa mewariskan rotinya, Karo menikmati dan mengkreasikan kedua warisan budaya asing itu”

    Sangat menarik sejarah roti kosong ini. Sampai ke Karo jadi paduan du kultur, yang sangat disukai di Karo. Kedai kopi yang lebih banyak minum teh hehehe . . .

    Sayapun jadi teringat ketika masih kecil, bapak saya ke warung kopi pagi-pagi, pesan teh manis (belum ada atau belum populer teh susu). Saya lari-lari ikut ke warung dan dibelikan satu biskuit dan lantas saya celupkan ke teh bapak dan makan. Saya sendiri tak pernah dapat pesanan teh sendiri, tapi diijinkan celupkan biskuit saya ke tehnya bapak itu. Belum dengar juga roti kosong, kalau sudah ada pastilah saya akan lebih sukai itu untuk dicelupkan ke teh bapak hehehe . . .

    MUG

Leave a Reply