Kolom Bastanta P. Sembiring: ALGOJO PEMIKIRAN

2
123

bastantaalgojo 4Tak berselang lama setelah kolom saya berjudul “Matinya Emansipasi Pemikiran di Karo” dipublikasikan di sorasirulo.com, apa yang menjadi pembahasan di tulisan tersebut akhirnya muncul. Tidak perlu menunggu lama, mereka akan langsung muncul jika ada diskusi yang membahas tentang kekaroan, terutama yang berkaitan dengan penegasan identitas (jati diri).  

Bergentayangan di sana-sini, setiap waktu dan siap untuk mengeksekusi atau sekedar melontarkan gertak sambal, mencaci, dan yang buruk lainnya.

Algojo-algojo atau tukang pukul atau biasa kita katakan biang perburu dalam diskusi ini memang sering kali membuat yang lainnya malas untuk turut dalam diskusi. Tanpa mau memahami bahkan tidak perlu membaca topik, mereka siap untuk menyerang dan membunuh karakter orang yang beseberangan dengan pemikirannya.

Si motu, si bodoh, si atheis, si rasis, si separatis, dll. Semua tuduhan kejinya dilontarkan untuk membendung keinginan orang yang berpendapat. Tentunya ini dilontarkan kepada mereka yang tidak sejalan dengan tujuan dan pemikiranaya.

algojo 3Inilah yang sering saya katakan upaya untuk membunuh emansipasi pemikiran di Karo. Apakah tujuan mereka? Yang pasti, tidak ingin kekaroan itu berkembang secara mandiri, lepas dari bayang-banyang tuan mereka.

Jadi, topiknya semakin berkembang dan jelas.

Pertama, matinya emansipasi pemikiran di Karo dan selanjutnya penyebabnya, dan para algojo (biang perburu) dalam diskusi ini salah satunya dan yang harus dilawan.

Mejuah-juah. Salam emansipasi pemikiran Karo.



2 COMMENTS

  1. ‘algojo pemikiran’ mantap juga ini dipakai bagi penentang emansipasi pemikiran.
    Maju terus anak-anak muda Karo, pesawat terbang semakin tinggi dari tanah landasan dengan angin songsong.
    MUG

    • Algojo atau ‘tukang pukul’ kata JRG ini banyak bergentayangan dan setiap saat siap menerkam.
      Tentunya ada kepentingan yang mereka lindungi. Kepentingan siapa? Tentu saja tuan mereka, yang tidak senang dengan kemajuan Karo yang mandiri dan lepasnya Karo dari bayang-bayang mereka.

      Maka tepatlah kemudian sebutan yang diberikan impal Ariston Ginting kepada mereka, yakni: ‘biang perburu’. Dan ini harus terus kita lawan.

      Bujur ras Mejuah-juah.

Leave a Reply