Kolom Bastanta P. Sembiring: Matinya Emansipasi Pemikiran di Karo

0
95
bastanta 3
Gabungan para mahasiswa Karo dan warga Karo yang tinggal di Belanda berfoto bersama usai menampilkan musikal Beidar Nandena di Gedung Theater Utrecht (Belanda). Penampilan ini diangkat dari Cerpen Ita Apulina (diolah menjadi pertunjukan musikal oleh Juara R. Ginting). Penampilan ini disaksikan oleh Dubes RI untuk Belanda, ibu Retno Marsudi yang tidak berapa lama setelah itu menjadi Menteri Luar Negeri RI.

bastanta Dari seorang yang giat menulis tentang budaya Karo, saya ketahui kalau dahulu di keluarga Suku Karo tidak jarang ditemukan replika Salib, gambar Ka’bah, ataupun simbol Siwa bersamaan dalam satu rumah. Dari informasi ini dapat kita ketahui kalau antara orangtua, anak dan anggota keluarga lainnya yang hidup dalam satu atap memiliki kepercayaan yang berbeda. Bahkan, mungkin antara suami dan istri juga memiliki kepercayaan yang berbeda.

Dan dari tulisan seorang antropolog Karo dan juga sumber-sumber lainnya, dapat juga diketahui kalau awal-awal Suku Karo memeluk agama adalah sebagai legalitas saja. Artinya, kepercayaan belakangan, yang penting tradisi Karo itu tidak dianggap sebagai satu halangan untuk beribadah. Mungkin masalah ini berkaitan dengan kasus Gerakan 30 September yang diberitakan didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia), sehingga setiap orang yang belum menganut salah satu agama resmi dianggap atheist dan komunisme dianggap sama dengan atheist.

Dua hal yang menjadi perhatian saya dalam hal ini.

Pertama, adalah bahwa orang-orang Karo pada dasarnya sangat mencintai warisan leluhurnya. Memilih memeluk satu agama, bukan hanya aspek kepercayaan saja yang menjadi pertimbangan, tetapi bagaimana kemudian agama itu memperlakukan warisan leluhur dan dapat berdampingan.

Ke dua, semangat emansipasi/ kebebasan pemikiran  di Karo sejak dahulu telah ditanamkan dan tumbuh. Maka tidaklah heran jika Taneh Karo mendapat julukan Bumi Turang, bukan Bumi Senina. Sebab, perbedaan sangat dihargai di Karo terutama dalam emansipasi pemikiran.

Belakangan, bisa kita katakan emansipasi pemikiran di Karo itu telah menunjukkan gejala akan mati. Sebagai contoh nyatanya, dalam hal pemilihan agama. Pengaruh orangtua yang utama dalam hal ini. Sehingga, wajarlah jika seorang pendeta sering mengatakan dalam khotbahnya, ‘akar pahit’ masih menguasai banyak orang Karo yang walaupun sudah Kristen. Karena tidak pernah benar terjadi hidup baru, itu hanyalah impian dan jargon semata.

Gejala matinya semangat emansipasi pemikiran ini kemudian dapat menghambat perkembangan Karo. Sebagai contoh gerakan KBB (Karo Bukan Batak) yang belakangan ini bergema kembali. Banyak yang antipati dan apatis dalam menanggapinya, tanpa menelisik maksud dan tujuan. Sebaliknya, langsung melontarkan tuduhan-tuduhan negatif dan  keji sebagai upaya untuk meredamnya. Kemudian disengaja membangun persepsi bahwa KBB itu adalah sama dengan rasisme tanpa membuat perbedaan jelas antara rasisme dengan jati diri dan tanpa mengetahui apa sebenarnya arti dari rasisme.

Karo bukan Batak: sama dengan benci/ anti Batak. Karo bukan Jawa: sama dengan anti/ benci Jawa. Karo bukan Jahudi: sama dengan anti/ benci Jahudi; juga benci/anti Kristus (kerena Yesus orang Jahudi). Bukankah persepsi keji yang dibangun ini salah satu gejala pemikiran Karo itu menuju kematian?

Contoh lainnya. Kabupaten Karo yang masuk dalam agenda Pilkada serentak yang seyogianya akan dilaksanakan Desember 2015 ini. Tentunya lumrah bermunculan banyak tokoh dan pemikiran untuk membangun Kabupaten Karo dan tentunya juga kekaroan itu. Antipati dan apatisme kembali muncul dan memang mungkin ada kelompok yang sengaja menghidupkannya. Rasa saling curiga dan anti sesama Karo pun bermunculan. Tentunya ini sangat merugikan bagi kekaroan ke depan.

Dan berita baiknya, orang yang menggiring opini demikian pada akhirnya mereka jugalah yang kecewa.

Sehingga muncul juga anggapan, “Adi kita, kai kin pé icurigai. Mis entah kai déba gelarta bahan temanta é.”

Terkadang pernyataan di atas ada benarnya juga dan saya pun merasa aneh. Mengapa kalangan Karo menaruh antipati dan sikap apatis berlebih terhadap sesamanya?

Tapi adi kalak lepar oh min. Kai pé nina, tuhu siakap kerina. Bagi dibata é tempa ia.”

bastanta 1
Gendang Lesung di Desa Dokan (Kecamatan Merek, Dataran Tinggi Karo) (1989). Foto: Juara R. Ginting.

 

Ada juga benarnya. Saya tidak bisa menutup mata dengan gejala ini, dimana kita lebih menghargai apa yang orang katakan yang sebagian besar mengandung kepentinganya semata, ketimbang sesama Karo yang telah melakukan yang dapat dan semestinya ia lakukan. Cemooh dan mencurigai negatif apa yang dilakukan oleh sesama Karo seakan sudah menjadi teradisi.

Di dalam diskusi pun demikian. Banyak saya perhatikan diskusi-diskusi di media sosial yang membuat sesama Karo menjadi enggan untuk menyampaikan pendapatnya, terutama kaum perempuan.

Hal ini dikarenakan setiap ada diskusi yang berkaitan dengan kekaroan, selalu saja ada beberapa orang yang muncul sebagai tukang pukul/ algojo (biang perburu) dalam diskusi. Mereka ini setiap saat siap untuk merendahkan dan mencaci pendapat orang. Pokonya semua harus sejalan dengan apa sura-suranya. Tidak ada pendapat atau pemikiran yang benar di luar kepentingan mereka.

Kalau terus demikian, yakni emansipasi pemikiran Karo itu diusahakan untuk dibunuh, maka niscaya Karo akan berkembang. Dan, kemudian menjadi luculah, di seberang banyak orang yang menuduh orang berpendapat sebagai orang picik, sempit pemikiran, rasis, dan tuduhan keji lainnya, malah akan menjadi terdakwa bahkan kemudian korban dari tuduhannya itu. Karena jelas, pemikiran mereka juga digiring oleh kelompok tertentu, tentunya bukan untuk kepentingan kekaroan secara luas.

Gejala-gejalannya sudah kita lihat, sekarang silahkan kepada teman-teman semua untuk menentukan sikap. Tetap antipati dan apatis terhadap sesama Karo yang membawa kepentingan kekaroan (dan terus ikut menjadi boneka orang luar yang jelas kepentingannya untuk menguatkan posisinya di wilayah-wilayah ulayat Karo) atau mendukung emasipasi pemikiran Karo?

Mejuah-juah. Salam emansipasi pemikiran Karo!



Leave a Reply