Tak Mengungsi Tak Bebas Bencana: Warga Kaki Sinabung Menuntut

1
197
naman 2
Ratusan warga Desa Naman saat menggelar aksi demo atas derita yang mereka alami akibat Erupsi Gunung Sinabung.

Bernard Pangaribuan 3B. KURNIA PARGAULAN P. NAMAN TERAN. Erupsi disertai awan panas guguran dari Gunungapi Sinabung menyebabkan tersendatnya sendi-sendi perekonomian warga yang bermukim di lingkar gunung ini. Sumber penghasilan utama dari bertani tak dapat diharapkan lagi karena lahan pertanian yang diselimuti debu dan lumpur vulkanik. Bencana berkepanjangan kini menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat.

Seperti yang terjadi pada warga Desa Naman (Kecamatan Naman Teran) yang berjarak sekitar 4,8 km dari kawah Gunung Sinabung.

Ratusan warga yang kerap diguyur hujan debu vulkanik ini, menggelar aksi hunjuk rasa ke Kantor Camat Naman Teran untuk mempertanyakan nasib mereka ke depannya mengingat tidak ada lagi pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya anak sekolah mereka.

“Kami menggelar aksi ini untuk membukan mata dan hati para pemimpin di Kabupaten Karo. Memang posisi kami tidak mengungsi. Tetapi, selama 5 tahun belakangan ini kehidupan yang kami jalani amat sangat berat. Terus menerus diterjang badai debu vulkanik,” ungkap perwakilan warga yang aksi demo Pelita Br Sitepu, 40, warga Desa Naman [Senin 3/8].

Diungkapkan oleh beru Sitepu ini, kerasnya kehidupan akibat dilanda bencana Sinabung telah dirasakan selama 5 tahun. Lahan pertanian yang porak-poranda akibat terus-menerus diterjang debu dan lumpur, telah sukses memiskinkan mereka. Bahkan, untuk kebutuhan beras sehari-hari pun belakangan tidak terpenuhi lagi.

Demikian juga untuk keperluan biaya anak sekolah yang terus mendesak. Asupan gizi bayi, dan kebutuhan lainnya. Dikatakan, sebelum bencana erupsi Sinabung melanda, kehidupan mereka berjalan normal, lahan pertanian juga masih bisa digarap untuk mencukupi kebutuhan.

“Sekarang, untuk beli beras Bulog saja kami tak ada uang. Itu lah sebabnya kami menggelar aksi ini. Selama ini kami tidak mengungsi, pemerintah seolah menganggap kami tidak bagian dari masalah bencana Sinabung. Tidak ada perhatian yang diberikan. Terkadang timbul perasaan kalau kami ini memang dianaktirikan,” ungkapnya.

Pengamatan wartawan, sekitar 200an warga Desa Naman tampak sudah bersiap menggelar aksi demo ke Kantor Camat Naman Teran, sekitar Pukul 07.30 pagi. Namun sebelum warga berdemo, Camat Naman Teran, Kasman Sembiring SH tampak lebih dulu menghampiri warganya.

Masyarakat pun melakukan dialog, dan menuturkan apa dasar mereka hendak berdemo kepada Camat. Dari dialog sekitar 30 menit tersebut, dicapai kesepakatan untuk mengirimkan perwakilan masyarakat, beserta Kepala Desa dan Camat untuk mempertanyakan hal tersebut ke pimpinan yang lebih tinggi, Bupati Karo. Setelah rombongan berangkat ke Kantor Bupati, masyarakat yang tinggal di desa tampak mendirikan 2 buah tenda biru sebagai tempat berkumpul dan menanti kabar dari rombongan yang diutus untuk memperjuangkan kelanjutan hidup mereka.

Kasman Sembiring selaku Camat Naman Teran ketika dikonfirmasi menuturkan, pihaknya telah menyalurkan aspirasi warganya kepada Asisten I Pemerintahan dan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Karo. Dikatakan, tuntutan warga ada dua poin yakni, pertama soal kebutuhan beras, dan Kartu Sakti (KKS, KIP, dan KIS) yang dijanjikan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

 “Soal beras kita sudah usulkan kepada Asisten I agar segera direalisasikan kepada warga. Sementara untuk program, KKS, KIP, dan KIS bersama perwakilan warga Desa Naman kita sudah temui Dinas Sosial. Tadi diterangkan salah seorang Kabid di Dinsos, bahwa pembagian Kartu Sakti dilakukan secara bertahap, dan diutamakan warga pengungsi. Dalam waktu dekat ini akan segera direalisasikan kepada warga lingkar Sinabung,” katanya.

Usai Camat dan rombongan memberikan penjelasan kepada warga, Seluruh masyarakat Desa Naman pun membubarkan diri dengan tertib.

“Kita harapkan apa yang disampaikan Pemerintah melalui pak camat tadi dapat segera terealisasi. Sebab kondisi kami saat ini sangat menderita,” harap warga Desa Naman lainnya, Bujurta Sitepu.

 



1 COMMENT

  1. Penduduk Naman Teran tak ikut mengungsi tentu karena harapan Sinabung akan pulih kembali. Tetapi kenyataan tak demikian.
    Baguslah suasan musyawarah bisa dilaksanakan dengan camat dan bupati, dan capai persetujuan bikin bantuan konkret.

    Sebenarnnya persoalan mereka tak bedalah dengan persoalan pengungsi lainnya, walaupun mereka tak ikut mengungsi, dengan berbagai pertimbangan.. Kalau persoalannya jelas sama maka patutlah diberikan bantuan yang sama juga.

    Naman Teran jarak 4,5 km dari Sinabung, sedangkan jarak yang diduga aman sudah dari 7-10 km. Sinabung terus menerus muntah tak ada kepastian. Kasihlah rakyat pengungsi ini satu KEPASTIAN. Dan ini hanya bisa ditetapkan dan dipastian oleh pemerintah, pemda dan pusat. Mengapa harus ditunda-tunda?

    MUG

Leave a Reply