Kolom M.U. Ginting: CALON TUNGGAL

0
116
mangkubumi
GKR Mangkubumi, putri sulung Sri Sultan HB X yang menjabat Komisaris Utama PT Madubaru. Dia menjadi calon tunggal Ketua Kadinda DIY Yogjakarta 2015-2020. Foto: fokusbisnis.com

M.U. Ginting 2‘Hebat’ juga bisa dikatakan perkembangan demokrasi negeri ini. Di luar negeri dan kebanyakan kota juga banyak calon, tetapi mengapa di 7 tempat ini hanya ada satu calon?

Celakanya ialah, kalau hanya satu calon, maka Pilkada diundurkan sampai 2017. Lebih celaka lagi kalau tahun 2017 juga belum ada calon yang maju selain tetap yang satu itu. Yang paling celaka tentu yang sudah siap mencalonkan diri dan disukai banyak orang seperti di Surabaya (Irma) harus menunda sampai 2017.

Bagaimana kalau di situ juga tak ada yang lain mencalonkan diri? Mengapa kok Indonesia sampai bikin peraturan tak boleh satu calon?

Biar bagaimanapun sekarang sudah jelas kelihatan negatifnya peraturan itu. Sekarang, mau dibiarkan saja begitu atau diperbaiki? Ada yang mengusulkan supaya bikin Perpu saja biarkan satu calon tapi jalan saja Pilkada. Jokowi masih menunggu, harap cepat,  pak.

Bahwa tidak ada calon lain di Pilkada, pertama karena calon yang ada begitu populer dan disukai oleh mayoritas Parpol. Bagi yang lain mencalonkan diri sepertinya percuma saja. Tak ada partai kasih calonnya, tetapi mengapa tak maju sebagai independent seperti di Karo?


[one_fourth]kalimbubu[/one_fourth]

Di Karo, sering banyak calonnya karena tak ada yang terlalu populer yang bisa mewakili semua Parpol. Apakah ini demokrasi yang sudah ‘maju’ atau karena sifat dan sikap egaliter orang Karo, sikap demokratis sama tinggi sama rendah? Hanya kalimbubu yang paling ‘tinggi’. Tetapi, untungnya, semua orang juga jadi kalimbubu pada kesempatan yang berbeda-beda. Begitu juga jadi pekrja (anak-beru) semua bergilir.

Inilah sistem demokrasi etnis Karo dan sistem kepemimpinan etnis Karo sangat kompatibel dengan perubahan dan perkembangan dunia dalam soal demokrasi dan soal leadership.


Leave a Reply