KTN dan Antusiasme Karo Merayakan Kemerdekaan RI (2)

2
192

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

 

ktn 7
Silahkan klik foto untuk ukuran lebih besar.

herlina 3Kalau kita perhatikan Peta Indonesia di sebelah kanan ini, pada waktu itu, semua daerah yang berwarna biru adalah daerah di bawah kekuasaan Belanda. Sebagian besar Pulau Sumatra sudah menjadi bagian Republik Indonesia. Tidak heran kalau kita orang Sumatera Timur memang harus bekerja extra untuk memerdekakan Indonesia.

Saya tahu dari orang-orang tua di keluarga kami bagaimana mereka semua harus melarikan diri mengungsi dari rumah-rumah mereka (waktu itu semua masih rumah adat) karena setiap kuta (kampung Karo) dibakar. Mereka menceritakan bagaimana mereka harus menginap di hutan belantara Lau Gedang di kaki Gunung Sibayak. Sampai ada yang anak-anaknya salig tertukar. Sementara tentara-tentara pria dan wanita semua lari terbirit-birit menghindari bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda.

Mereka sangat menderita. Ada pula yang disengat lateng (jelatang). Ada bayi menangis sampai semua pengungsi yang tinggal dalam satu “sapo” mengusulkan menyumbat mulutnya karena di atas mereka banyak pesawat Belanda yang seketika bisa menjatuhkan bom.

ktn 6Saya juga mendengar orang-orang  Pancurbatu semua berjalan menuju Kutacane dan mereka banyak yang berpencar dari keluarga mereka. Ini semua dilakukan karena semangat juang orang Sumatera Timur terutama orang-orang Karo/Indonesia di bawah komando Kol. Jamin Ginting.

Tetapi tentara guerilla masih berkeliaran di hutan-hutan Karo Jahe (Karo Hilir). Ayah saya sendiri ditugaskan di Desas Bukum, Karo Jahe (Karo Hilir) yang sekarang diubah menjadi Kabupaten Deliserdang.

Pada suatu hari tanggal 23 Maret 1949. dia dan dua orang temannya pergi berjalan-jalan sambil patroli berjalan kaki, naik dan turun gunung. Mereka adalah Letnan Tereteh Ginting, Sersan Renggem Sembiring, dan Sersan Patut Surbakti. Saya tidak pernah dengar kalau mereka memang menunggu. Saya dengar, mereka kebetulan mau melihat-lihat keluar dari Desa Bukum. Tiba-tiba mereka melihat Jeep berwarna putih meluncur dari arah Medan menuju Berastagi. Penumpangnya adalah ketiga anggota KTN, terdiri dari sorang Belgia, seoran Australia dan seorang Amerika dan supirnya seorang tentara Belanda. Si supir menyumpah. Anggota KTN berteriak: “Jangan tembak! Jangan tembak! Kami KTN. Kami KTN!” teriaknya.

Jawab ketiga tentara yang orang Karo ini: “KTN pé seri nge ko kerina.” (Mau KTN mau apa semua kamu sama).

ktn 5Rupanya kejadian ini membawa berkah bagi Indonesia. Berkat bantuan KTN akhirnya diadakanlah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag untuk meembicarakan Kemerdekaan R.I. Semua pejabat dari pusat sangat berterimakasih kepada Suku Karo. Muhammad Hatta menulis surat, Hamenkubuwono mengunjungi Taneh Karo, Sukarno juga menjadi sangat dekat dengan Suku Karo. Orang Karo pun sangat mencintai Sukarno.

Pada masa pemerintahan Sukarno, sangat banyak mahasiswa asal Karo yang dikirim ke luar negeri. Sesudah tahun 1965, bulan madu Kemerdekaan pun berakhir dengan tragis. Suharto balas dendam bahkan dia menuduh Orang Karo adalah  Komunis! Dan, sejarahpun diputar balik.

Sekarang sudah waktunya kita meluruskan sejarah, jangan biakan orang lain yang menentukan siapa kita. Dunia sudah berubah dan tunjukkan kemampuan kita. Mejuah-juah.

SELESAI




2 COMMENTS

  1. Surat dari Wakil Presiden R.I Mohammad Hatta kepada Orang Karo.

    Bukit Tinggi, 1 Djanuari 1948

    Kepada rakjat Tanah Karo yang Koetjintai
    Merdeka!

    Dari jauh kami memperhatikan perdjuangan saudara-saudari yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang sutji dari serangan musuh. Kami sedih merasakan perjuangan saudara-saudara yang rumah habis dibakar dari pada kampung-kampung jatuh ke tangan musuh jang ganas, jang terus menyerang dan melebarkan daerah rampasanye sekalipun cease-fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan U.N.O.
    Tetapi kami sebaliknya merasa bangga dengan rakjat jang begitu soedi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita,
    Saja bangga dengan pemoeda karo yang berdjoeang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati.
    Roemah jang terbakar boleh didirikan kembali, kampoeng yang hancoer dapat dibangun lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimboelkannja. Dan sangat besar penderitaan saoedara-saoedara. Biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan.
    Rakjat yang berbakti sedemikian dan inilah benar-benar tekad rakyat indonesia seluruhnya, rakyat yang begitu tekadnya tidak akan tenggelam malahan pasti akan mencapai kemenangan cita-citanya.
    Diatas kampoeng dan halaman saoedara-saoedara yang hangoes akan bersinar kemoedian tjahaja kemerdekaan Indonesia, dan akan toemboeh kelak bibit kesedjahteraan, dan kemakmuran rakjat Indonesia jang satu jang tidak dapat dibagi-bagi.
    Kami soedahi poejian dan berterima kasih kami kepada saoedara dengan semboyan kita yang jitoe itoe.
    Sekali merdeka tetap merdeka!
    Saoedaramu
    d.t.o.
    Mohammad Hatta
    Wakil Presiden Repoeblik Indonesia

    Refrence: Sejarah Perjuangan Suku Karo oleh Haji Biak Ersada Ginting, Penerbit RAVI BINA, Jln. Pasar Pringgan No.3, Medan. Tel.(061) 4157876

  2. Atikel ini sangat perlu disiarkan ke semua generasi muda Karo.

    “Sekarang sudah waktunya kita meluruskan sejarah, jangan biakan orang lain yang menentukan siapa kita. Dunia sudah berubah dan tunjukkan kemampuan kita.” Ini pesan seorang Wanita Karo.

    Wanita Karo majulah terus jadi pemimpn perubahan.

    Wanita Karo dalam perjuangan kemerdekaan sangat aktif sebagai palang merah dan penyediaan makanan dan juga banyak jadi serdadu. Saya masih ingat bagaimana wsninta-wanita Karo ini bekerja sangat giat tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih sangat cekatan dalam dapur umum dan rumah sakit darurat gerilawan di hutan dekat Gunung Sitember Tigalingga ketika itu banyak gerilia luka-luka kena bom Belanda dalam serangan ke benteng Belanda di Tigalingga pada agresi ke2.

    Tanpa Wanita Karo tak cukuplah kepahlawanan orang Karo. Pernanden Karo yang paling banyak penderitaannya dalam pengungsian ketika diburu dan rumahnya dibom tentara kolonial. Mariah generasi muda Karo, katakan semua apa yang telah diperbuat oleh wanita Karo dalam perjuangan kemerdekaan ini, jasa dan kerja berat mereka mendukung perjuangan suami dan anak-anaknya yang ikut dalam perang kemerdekaan.

    Wanita Karo sampai sekarang juga sangat mengharukan tugas-tugas rumah tangga mereka dibandingkan suami-suami yang lebih mengenal pekerjaan kede kopi daripada mengenal pekerjaan dirumah. Wanita Karo disamping bekerja cari makan, juga mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan MENGURUS SUAMI juga. Di Eropah pekerjaan ini dibagi sama rata dan adil. Yang baik perlu ditirukan dan dikembangkan, disini peranan Wanita Karo sangat penting.

    Mari kita dukung perjuangan wanita Karo ini. Dulu mereka mendukung kita, sekarang mari saling mendukung demi kemajuan Karo dan Indonesia. Ini juga adalah emansipasi pemikiran Karo, tak kalah pentingnya dengan emansipasi pikiran yang sering didengungkan oleh BPS di SS ini. Sungguh masuk akal kalau sudah waktunya sekarang bikin emansipasi pemikiran Karo.

    MUG

Leave a Reply