Kolom Juara R. Ginting: Hegemoni dan KBB (Karo Bukan Batak)

2
290
hegemoni 1
Tarian JUMPA JAHE karya Juara R. Ginting ditampilkan oleh Sanggar Seni Sirulo di Hotel Danau Toba International (HDTI) Medan.

Juara R. GintingSebuah diskusi terkait KBB (Karo Bukan Batak, red.) di grup facebook Jamburta Merga Silima (JMS) menarik perhatian saya. Menurut Arya Sinulingga, anggapan Karo bagian Batak adalah sebuah hasil hegemoni yang sempat tumbuh sebelum media berkembang seperti sekarang ini. Akibatnya, sebagian orang-orang Karo sendiri percaya bahwa Karo itu adalah Batak.

Pendapatnya itu belum tentu dimengerti semua orang Karo. Perlu mengetahui apa arti HEGEMONI terlebih dahulu dan kesadaran bahwa tidak semua pikiran kita didasarkan pada pengamatan objektif, tapi sebagian besar dari hasil indoktrinisasi secara sengaja ataupun tidak sengaja.

Seperti halnya keyakinan bahwa nenek moyang orang Karo adalah sama dengan nenek moyang orang-orang Batak atau bahkan dianggap pernah menjadi Batak dan kemudian pecahannya menjadi Batak Karo. Banyak orang Karo mengenal Batak Karo setelah dewasa dan sekolah ke Medan atau dari nama GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Sebelum ada gerakan KBB online, tidak banyak yang menggugat mengapa kita ini dikatakan Batak Karo dan mengapa gereja kita diberi nama Batak Karo serta sejak kapan. Sekarang, telah ditemukan secara ilmiah bahwa DNA Karo tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Batak tapi satu keturunan dengan Gayo.

Ingat, sekitar 2 tahun lalu masih banyak orang membantah KBB (Karo Bukan Batak) dengan argumen seperti ini: “Kalau memang kita bukan Batak, mengapa nenek moyang kita memberi nama gereja kita GBKP?”

Pertanyaan seperti ini didasarkan pada keyakinan bahwa sejak awal nama GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) dipergunakan untuk gereja ini. Padahal, situs resmi GBKP sendiri jelas sekali menunjukkan bahwa nama GBKP baru ada di tahun 1941 terkait dengan peristiwa politik khususnya atas kekalahan Belanda dari Jerman di Perang Dunia II. Pertanyaan seperti itu tadi sekarang ini sudah akan ditertawakan oleh banyak orang (ada perubahan pengetahuan).

Itu adalah contoh bagaimana HEGEMONI mempengaruhi pikiran banyak orang tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetap saja panitia jubilium 135 tahun mengatakan Jubilium 135 GBKP padahal dulunya itu jubilium rehna berita simeriah ku kalak Karo. Kalau kita protes, maka kita dianggap musuh GBKP. Itulah contoh HEGEMONI. Ketidaktahuan (akan sejarah) menjadi penentu kebenaran.

hegemoni 2
Tarian JUMPA JAHE karya Juara R. Ginting ditampilkan oleh Sanggar Seni Sirulo di Hotel Danau Toba International (HDTI) Medan dengan penari Masmur Sembiring (kiri) dan Bernita br Sembiring (kanan)

Lalu, Arya Sinulingga mengusulkan adanya revolusi (mirip REVOLUSI MENTAL) dari sifat Karo yang DEFENSIF ke EKSPANSIONIS. Bagi para pejuang kinikaron di luar Karo akan sangat menyadari bagaimana defensifnya kebanyakan orang Karo. Umumnya enggan membuat gerakan keluar. Mungkin ini akibat karakter INTROVERT (pemalu) dari orang-orang Karo (padahal orang-orang kebanyakan di Indonesia menganggap Karo EKSTROVERT karena menganggapnya Batak).

Lebih tak enaknya lagi, sifat defensif Karo ini adalah bila kita melakukan gerakan keluar, kita langsung dicurigai oleh sesama Karo sedang mengeksploitasi Karo alias menggunakan Karo untuk keuntungan pribadi atau bisnis atau partai politik tertentu. Gawatnya lagi, karena ini memang sudah karakter Karo yang defensif, orang-orang mudah sekali termakan hasutan yang menuduh gerakan kita keluar itu ada apa-apanya.

Banyak orang belum menyadari bahwa, bila memang ada apa-apanya, segera akan tertelanjangi di masa sekarang ini. Tidak usah lah mau ditakut-takuti seperti kayak dulu kita masih tinggal di hutan dan dia tinggal di kota sehingga lebih mengetahui apa yang terjadi di kota. La salang matanta ernehen semua apa yang terjadi di dunia ini sekarang.

Kalau memang gerakan ‪#‎Savetanahkaro ada apa-apanya yang tidak enak, tidak usah menunggu lama, sudah akan kita lihat sendiri hasilnya. Gerakan apapun namanya tak ada lagi sembunyi-sembunyi sekarang ini.

Menurut saya, Arya sangat antropologis ketika dia mengajak merevolusi Karo dari sifat defensif/ permela/ permbenceng ke ekspansionis/ bergerak keluar. Hal seperti ini pernah didiskusikan oleh antropolog Clifford Geertz dalam kaitannya dengan sistim pertanian Jawa yang disebutnya cultural involution, MEKAR KE DALAM. Tanah warisan dibagi ke anak-anak, dan masing-masing anak membagikannya lagi ke anak-anak mereka tanpa penambahan lahan baru.

Kalau kita kaitkan cultural involution dari Clifford Geertz dengan perpolitikan Karo, sama seperti yang pernah dipertanyakan oleh Brandy Karosekali di grup Jamburta Merga Silima (JMS), mengapa mau jadi bupati ke Kabupaten Karo semua? Kok tidak ada yang berani ke Pilkada Medan, Deliserdang dan lebih jauh lagi, Humbang Hasundutan, misalnya. Alias JAGO KANDANG.

hegemoni
Tari Tungkat Malekat karya Juara R. Ginting ditampilkan di Hotel Danau Toba International (HDTI) oleh Sanggar Seni Sirulo dengan penari Bernita br Sembiring (kiri) dan Salmen Kembaren (kanan)

Hanya saja, Arya lupa pada kajian WITCHRAFT di Antropologi. Di sejarah Eropah pernah terjadi dimana banyak perempuan dibunuh karena dianggap nenek sihir. Sejarah kelam bagi kemanusiaan dan kekristenan. Kajian Antropologi memperlihatkan sebab-sebab seseorang dicurigai sebagai nenek sihir adalah karena beprilaku terlalu revolusioner dari kebanyakan orang di komunitasnya.

Sama dengan kasus-kasus tuyul, gendoruwo dan begu ganjang. Karena seseorang melesat melebihi orang-orang di sekitarnya dengan gampangnya, dia akan mendapatkan fitnah macam-macam.

Saya setuju dengan ajakan Revolusi Karo, tetapi tetap berhati-hati terhadap mental fitnah sesama Karo. Itu adalah salah satu strategi sipat tak berani main di luaran, yaitu memfitnah kawan yang bermain di luar. Atau, kadang-kadang, sama-sama pemain luar yang saling fitnah ke dalam. Antropolog Alm. Dr. Junus Melalatoa pernah mengatakan hal yang sama tentang orang-orang Gayo juga.



2 COMMENTS

  1. “Saya melihat suku Karo paling maju dalam soal-soal perubahan ini termasuk dalam mengikuti perubahan dan perkembangan dunia” …. pernah melakukan penelitian kah bro ??? coba dilakukan penelitian lebih lanjut bro………

  2. Atikel JRG ini tepat menjelaskan masa lalu, sekarang dan masa depan. Wanita sihir dan begu ganjang dan KBB sekarang. Tetapi terlihat bahwa KBB seperti pesawat take off, makin cepat tinggi dari landasan karena perlawanan (angin deras). Penjelasan soal kontradiksi cukup jelas dalam tulisan ini, antara yang lama dan yang baru, Karo diluar dan didalam, yang semuanya tak lepas hubungannya dari introversi Karo.

    Sangat menarik gejala belakangan yang maju ramai-ramai mau jadi bupati di Karo. Mengapa tidak di Medan, Deliserdang atau Humbang Hasundutan? Jago Kandang? atau cultural involution dari Clifford Geertz?

    Perlu memang Karo lebih expansionis dalam arti yang positif, perlu lebih extrovert atau lebih bold, seperti sering kita analisa di milis. Perlu revolusi mental, perlu emansipasi pemikiran. Anak-anak muda dan generasi muda Karo banyak sudah menjalankan ini. Indah, indah, Salut, salut . . . Bravo Karo!

    Saya melihat suku Karo paling maju dalam soal-soal perubahan ini termasuk dalam mengikuti perubahan dan perkembangan dunia. Ini tak lepas juga dari Quiet Revolution dunia (revolusi introvert) yang sedang maju bersemarak dimulai dari dan dengan keruntuhan dominasi extroversi dunia Loud Mouth Braggarts Wall Street.

    MUG

Leave a Reply