Kolom Bastanta P. Sembiring: Gagal Paham dan Fobia KBB

5
439

bastantaLucu rasanya melihat komentar-komentar dalam diskusi tentang KBB (Karo Bukan Batak) di media sosial belakangan ini, terkhususnya di facebook. Bisa dikatakan, kebanyakan komentar itu dilontarkan oleh orang yang tidak paham topik, atau sering kita katakan gagal paham, juga fobia.

bastanta 5
Penampilan Sanggar Sirulo di sebuah acara yang dilaksanakan oleh GBKP di Retreat Centre Sibolangit.

Lebih menggelitik lagi, kebanyakan yang membantah (KBB) dan mencemooh itu, jelas-jelas bukan orang Karo dan bukan orang yang tahu benar bagaimana rasanya menjadi orang Karo.

Dalam kolom saya di sorasirulo.com sebelumnya yang berjudul “Matinya Emansipasi Pemikiran di Karo”, di sana dikemukakan beberapa penggiring opini negatif untuk membendung pergerakan KBB, diantaranya: Karo bukan Batak, sama dengan anti/ benci Batak. Karo bukan Jawa, sama dengan anti/ benci Jawa. Karo bukan Jahudi, sama dengan anti/ benci Jahudi, juga anti/ benci Kristus (karena Yesus orang Jahudi).

Dapat juga dikatakan ini gejala gagal paham tadi dan fobia, atau bisa juga sebagai modus upaya mematikan emansipasi pemikiran di Karo (seperti sebelumnya dibahas).

Dengan membangung persepsi publik bahwa pernyataan ‘bukan’ yang dipakai untuk menegaskan identitas/ jati diri (KBB: Karo Bukan Batak) setara dengan ‘benci dan anti’ atau sering juga dituduhkan sebagai RAS (rasis, atheis dan separatis). Sehingga orang kemudian enggan menyuarakan KBB atau mereka yang menganggap dirinya Batak kemudian menjadi anti bahkan fobia terhadap gerakan KBB.

Gejala ini sebenarnya, jika diteruskan, takutnya akan menjurus kepada psikopat.

Untuk mengurangi gagal paham dan fobia KBB, mungkin sedikit saya coba menjelaskan. Dan bagi yang sudah menjurus kepada psikopat tadi ataupun yang memang seorang algojo/ tukang pukul dalam diskusi atau kata Ariston Ginting “biang perburu”, mungkin tidak perlu lagi dijelaskan, karena mereka sebenarnya tahu, tetapi kebenaran Karo itu harus diabaikan demi menjaga kepentingan tuannya.

Analoginya, begini: Jawa jelas buka Sunda, atau sebaliknya. Apakah dapat kita menyimpulkan kalau orang Jawa dan Sunda saling membeci? Demikian juga dengan Madura bukan juga Jawa, apakah orang Madura dan Jawa saling membenci?

Seorang Sunda yang mengatakan dia bukan orang Jawa, apakah lantas dapat kita katakan dia RAS (rasis, atheis dan separatis) serta sempit pemikiran? Demikian juga halnya, gerakan orang Karo yang mengatakan dia bukan Batak (KBB: Karo Bukan Batak).

KBB 3.Seperti halnya pernyataan ini: “Takutnya, karena Suku Karo ini tidak dikenal, semua dana dari pemerintah pusat untuk Batak tidak mengalir lagi ke Karo bila Karo Bukan Batak. Jadi, rugi kalau kita tidak mengaku Batak.”

Itu dikatakan oleh seseorang yang mengaku tokoh masyarakat. Tetapi saya rasa ini sebuah fobia yang cukup menggelitik.

Untuk menanggapi hal di atas, saya rasa apa salahnya kalau dana yang memang diperuntukkan bagi Batak dinikmati sepenuhnya oleh orang Batak.  Toh itu hak mereka, kan (kalau memang ada)? Jadi, apa sangkut pautnya dengan kita orang Karo? Dan lantas mengapa kita takut kalau Karo bukan Batak?

Apakah dengan alasan agar kebagian dana, misalkan dana pembinaan budaya Batak dari pemerintah pusat, lantas itu menjadi alasan Karo mengaku Batak?

Tentu tidak. Sebab, jika memang demikian, mengapa tidak juga kita mengaku Melayu, Jawa, Sunda, Dayak, dll agar kebagian juga.

Pernyataan yang demikian saya rasa dilontarkan dengan pemikiran: semoga orang yang membaca meyakini hal demikian, yakni suatu kerugian kalau Karo tidak mengaku Batak yang kemudian sedemikan rupa diramu untuk  menumbuhkan fobia kalau pemerintah pusat akan mengabaikan, bahkan menghilangkan Karo dari muka bumi ini.

Dalam banyak diskusi, penggiring opini yang demikian sudah dengan mudah dapat dipatahkan. Maka, jurus terakhir mereka, tentunya dengan menyeret-nyeret GBKP (Gereja Batak Karo Protestan).

“Sejak kapan rupanya Karo Bukan Batak, sedangkan nama GBKP sudah ratusan tahun,” katanya.

bastanta 4Sejujurnya saya tidak ingin mengaitkan hal ini dengan GBKP, tapi karena banyaknya yang berkomentar demikian, saya katakan kembali ini jelas gagal paham. Karena GBKP sendiri juga mengakui kalau penggunaan nama GBKP itu baru dimulai sejak 1941 pada Sinode I =di Sibolangit. Tidak percaya? Silahkan anda lihat di situs resminya GBKP, atau cari informasi langsung ke kantor Moderamen di Kabanjahe.

Gagal paham lainnya dan mungkin juga fobia, yakni ketakutan kalau-kalau perjuangan utama orang KBB adalah untuk meruntuhkan GBKP atau tuduhan yang lebih ringannya, adalah mengubah nama GBKP. Jelas ini digiring agar orang Kristen Karo yang sebagian besar bernaung di GBKP kemudian antipati terhadap KBB dan kemudian menimbulkan rasa saling benci.

Satu hal yang perlu diketahui khalayak umum, jika tujuan utama gerakan KBB untuk mengubah nama atau meruntuhkan GBKP, maka hal itu sudah lama akan dilakukan atau sebaliknya gagal, karena nota bene sebagian besar pendukung KBB juga adalah jemaat GBKP. Malah, jika mau kita jujur, yang sering menyeret-nyeret nama GBKP ke dalam diskusi KBB adalah orang yang anti dengan KBB.

Jadi, sekali lagi saya katakan, ini gagal paham dan sebuah fobia yang mengada-ngada. Dari sekian banyak agenda KBB, misalkan pun di dalamnya ada GBKP, mungkin itu pada urutan yang terakhir.

Mejuah-juah.



5 COMMENTS

  1. “mereka melihat suku Karo sebagai saingan dan wajar kalau ditutupi dengan menyebut Karo adalah Batak.” (HS)

    Betul sekali memang kalau pembatakan merupakan alat persaingan paling mantap bagi mereka, Dengan begitu ‘Karo’ tak dikenal, atau dikenal dengan ‘Batak Karo’. Orang lain hanya mengenal bataknya, karonya entah kemana. Kalau ada yang bilang ‘kita sama-sama batak’ juga karonya kemana. Sangat mantap memang taktik pembatakan itu. Dalam politik pembatakan pada dasarnya banyak kegelapan, banyak kegelapan atau ketidak pengetahuan. Dan ini menguntungkan pembatakan. Kalau semua soal diperjelas, dari segi sejarah dan penemuan arkeologis, tentu jadi tak laku. KBB adalah pencerahan dari segi ilmu pengetahuan dan ilmiah argumentasinya. Ini tak berlawan dari pihak Batak.

    Karena keterbukaan sangat mengurangi keberhasilan pembatakan. atau memang sudah tak mungkin secara argumentasi ilmiah dipertahankan, sekarang banyak cara lain masih mereka tempuh misanya rumah batak di letusan sinabung. Atau ngomong diam-diam kepada orang masih belum tahu dan belum baca penemuan-penemuan terakhir arkeologi, sejarah atau antropologi yang semua menunjukkan ‘kegelapan’ dalam pembatakan.
    JIS pastilah tak luput dari inceran untuk lebih menonjolkan diri menurunkan gerakan KBB dari Karo.

    Perlawanan yang sangat ‘menakut’kan dalam pembatakan ini ialah dari orang Karo dengan KBB itu.
    Sekarang kita nantikan lagi taktik berikutnya, ethnic competition belum berhenti sampai semua kultur hilang atau hilang perbedaannya. Tetapi Karo sudah 7000 th dan masih semakin besemarak menonjolkan kulturnya, dan hampir semua begitu, semua nation juga begitu. Justru sekarang ini semua bangkit, termasuk KBB itu. Semua perlawanan terhadap ethnic revival atau cultural revival hanya akan memperkeras arus perubahan itu.

    MUG

    • Kita buka semua. Tidak ada yang tersembunyi.
      Sekarang terserah teman kita. Mau berjalan bersam atau tetap jadi ‘biang perburu’, silahkan.

      Kalau kita, tetap seperti kam bilang Bulang, “Omongkan… omongkan dan omongkan.”
      Bujur.

      Mejuah-juah.

  2. Kalau saya tidak salah pada tahun 2010 pada kalender Jakarta International School ada dimasukkan photo seorang Wanita berpakayan adat Karo. JIS adalah sekolah yang besar dengan jumlah siswa lebih kurang 2600 dan saya adalh satu-satunya guru orang Karo. Ketika majalah itu terbit saya menduga Orang-orang Amerika sudah tahu perbedaan antara Karo dan yang lain. Pada bulan yang sama tiba-tiba “Gendang Batakpun” di tabuh selama satu minggu yang di pesan oleh Ibu-ibu orang Batak, Dari kasus itulah saya menyadari untuk pertama kali bahwa mereka melihat suku Karo sebagai saingan dan wajar kalau ditutupi dengan menyebut Karo adalah Batak.

    • Pas kam bilang, bibi beru Surbakti.
      Itu jelas. Kita lihat saja di banyak hal,. Pesaing terkuat mereka Jawa, Sunda, Mandailing, Minang dan Karo.
      Kebetulan sama Karo yang sering jumpa di lapangan. Hehehe….

      Hanya terkadang teman kita ini tidak mau jujur dan jika kita telanjangi itu semua, malahan kita dibilang iri, rasis, atheis dan spaeratis.

      Mejuah-juah.

  3. “sebagian besar pendukung KBB juga adalah jemaat GBKP. Malah, jika mau kita jujur, yang sering menyeret-nyeret nama GBKP ke dalam diskusi KBB adalah orang yang anti dengan KBB.”

    Ini formulasi yang jitu dan jujur.

    BPS juga tepat menjelaskan soal ‘dana’. Tak soal jugalah dapat dana atau tidak, kalau harus bikin syarat menghilangkan identitas sendiri. Dulu pernah juga ada alasan cari kerja atau kedudukan lebih gampang karena ditolong orang Batak kalau kita ngaku Batak, dominasi Batak bisa menolong katanya. Inipun terlalu berat jugalah kalau identitas tadi dihilangkan.

    Semua suku berdiri sendiri dan bekerja sama, dalam syarat sama tinggi dan sama rendah, itulah tujuan dan perjuangan mulia KBB. Kalau KBB belum berhasil dalam usaha mulia ini, tidak harus menyerah apalagi besedia tanpa identitas atau pakai identitas orang lain asalkan dapat ‘dana’ atau ‘kedudukan’. Wah wah . . . belum masuk akal kitalah . . . Orang Belanda saja yang punya kekuasaan besar kita lawan kok asalkan bisa merdeka. Disini tadi kita pakai IDENTITS NASIONAL, tetapi tidak berarti IDENTITAS SUKU KARO hilang jadi identitas suku lain kalau kita sudah mendapatkan kemerdekaan itu.

    MUG

Leave a Reply