Terkelin Brahmana Akan Menata Kabanjahe

3
235
kabanjahe 2
Terkelin Brahmana saat dialog dengan sejumlah warga etnis Tionghoa Kabanjahe di rumah dinas Bupati Karo.

Bernard Pangaribuan 3B. KURNIA PARGAULAN P. KABANJAHE. Sebagai daerah transit lintasan antar kabupaten dan antar propinsi, transportasi Kabupaten Karo semakin kompleks. Khususnya di Kota Kabanjahe yang kini dirasakan semakin padat akibat pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) korban kebakaran Pusat Pasar Kabanjahe tahun 2008 lampau. Sayangnya, TPS di jalan-jalan inti kota tanpa perencanaan yang matang.

Kesannya, proyek kepentingan sesaat sesuai selera penguasa saat itu. Mantan Bupati Karo D.D. Sinulingga meninggalkan warisan permasalahan penanganan penataan kota. Hal itu diperparah lagi dengan menjamurnya sejumlah stasion pembantu bus angkutan kota dan pedesaan.

Melihat kesemrawutan inti kota, warga etnis Tionghoa desak Bupati Karo pindahkan TPS. Sejumlah warga Tionghoa Kabanjahe mendatangi rumah dinas Bupati Karo, Terkelin Brahmana agar memindahkan TPS ke tempat penampungan yang lebih layak dan nyaman.

“Jelang jabatan bapak berakhir, tolong tata Kota Kabanjahe semakin indah, berestetika dan berbudaya. Pindahkan TPS ke tempat yang lebih layak dan nyaman. Jangan dibiarkan bertahun-tahun di badan jalan. TPS sudah berdiri hampir 7 tahun. Kesannya, kota tempat saya dilahirkan dan dibesarkan ini kumuh dan tertinggal,” ujar Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Karo, Alek Chandra [Selasa 11/8: Pagi] di Kabanjahe.

Bukan saja soal TPS yang mendapat sorotan mereka, sejumlah stasion liar angkutan kota dan pedesaan juga ditenggarai sebagai penyebab kesemrawutan dan kemacetan di Kota Kabanjahe maupun masalah-masalah lainnya menyangkut pembangunan Kabupaten Karo.

“Stasion pembantu bus angkutan kota dan pedesaan juga agar dicari tempatnya di pinggiran kota. Jangan di sembarang tempat yang menggangggu kepentingan umum. Malu kita Kabanjahe identik dengan kota “cowboy”. Sepanjang Jalan Kapten Bangsi Sembiring saja untuk parkir sangat susah,” ujar Risno warga Tionghoa lainnya.

Stasion-stasion bus tersebut terdapat di Tugu Perjuangan Jl. Kiras Bangun, persimpangan Jl. Kapten Pala Bangun dengan Jl. Sudirman, bundaran tugu rumah adat Karo depan Tiga Serangkai, depan RM Murni dan seputaran Simpang Empat Jl. Rakoetta Brahmana.

Perlu diingat, beberapa jenis perusahaan angkutan umum dan angkutan barang antar kota yang menghubungkan Medan dengan beberapa kota di Sumatera Utara bagian Timur termasuk beberapa kota di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) banyak yang melintasi Kabanjahe dan Berastagi. Tidak heran kalau kepadatan lalu lintas tidak hanya di seputaran inti kota, tapi malah sudah meluber ke Jl. Letjen Jamin Ginting yang merupakan jalan lintasan utama, baik angkutan pedesaan maupun angkutan kota dan angkutan umum antar kota lainnya.

“Tidak kalah pentingnya, kelanjutan jalan lingkar (ring road) Kabanjahe yang sudah lama diterlantarkan. Padahal sudah milyaran anggaran Pemkab Karo habis untuk pembangunan ring road. Termasuk pentingnya, memekarkan kota Kabanjahe menjadi dua atau tiga kecamatan untuk mengurai kepadatan inti kota,” ujar perwakilan masyarakat Tionghoa di Kabanjahe ini.

Terkelin Brahmana berjanji, di dalam masa jabatannya yang berakhir 8 bulan lagi, akan menata Kota Kabanjahe dan Kota Berastagi sebagai jendelanya Taneh Karo. TPS dan sejumlah stasion bus angkutan kota dan pedesaan akan ditertibkan.

“Selama ini, saya konsentrasi menangani keluhan-keluhan saudara-saudara kita korban erupsi Sinabung, baik yang direlokasi maupun di seputaran lingkar Sinabung,” ujar Terkelin Brahmana yang maju kembali jadi balon Bupati Karo berpasangan dengan Cory Sriwati Br Sebayang.

Terkelin menjelaskan, setelah menjadi pelaksana tugas (Plt), dia baru beberapa bulan definitif menjadi Bupati Karo. Selama beberapa bulan itu, dia memusatkan perhatian pada masalah benacana Sinabung dan beberapa masalah lainnya di Kabupaten Karo.

“Saya mengapresiasi masukan ini. Dalam waktu dekat, Kota Kabanjahe akan ditata lebih indah dan nyaman termasuk melanjutkan pembangunan ring road Kabanjahe. Hendaknya masyarakat mendukungnya,” kata Brahmana mergana ini.

3 COMMENTS

  1. Mejuah-juah, Kenapa harus malu? Stasiun asal katanya adalah Station pada Bahasa Inggris. Jadi bisa dipakai untuk Kereta Api maupun untuk bus. Jadi sebenarnya kita tidak harus malu kalau memang pemakian di Jakarta berbeda dengan pemakaian kata Stasun di Medan atau di Kabanjahe. Kalau kita pindah ke Jakarta maka dalam segala hal kita harus belajar beradaptasi dan kita tidak harus menanggung malu karena perbedaan itu. Jadilah pemuda Karo yang percaya diri dan selalu bisa beradaptasi tanpa harus malu dimanapun kita berada. Bujur!

  2. Bagusnya kalau semua bisa berdiskusi soal kota Kabanjahe, terutama yang erat kaitannya dengan situasi konkret ini.
    Bupati ingin semua mendukung langkahnya, tetapi mana musyawarah dan diskusinya untuk menetapkan putusan dan langkah terbaik?

    Usul dan ide dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Karo, Alek Chandra [Selasa 11/8 juga sangat bagus dan pada tempatnya bikin usul dalam soal ini.

    Sinergi kekuatan dari banyak orang adalah mungkin kalau orang-orangnya diikut sertakan dari semula. Kalau tak begitu berarti hanya seperti bikin pemilihan cara lama, tak jelas siapa yang dipilih kecualai yang banyak mengeluarkan duit.

    Menjadi pejabat jaman sekarang ialah jadi pengabdi kepentingan perubahan nasib rakyat. Dan untuk itu tak cukup dengan janji bagus, tetapi kerahkan rakyat secara terbuka untuk menilai dan melihat sendiri kebaikan tiap pejabat, idenya, gagasannya, rencananya dan program pembangunannya. Artinya tiap pejabat publik harus bikin diatas meja. Mana yang dia lakukan dan yang tak dilakukan, publik harus bisa melihat. Kalau ini masih sembunyi dan gelap-gelapan seperti era lalu, tak mungkin jalan. Bisa jalan kalau semua orang (publik) ikut ambil bagian.

    Pejabat mana saja harus berani mengikutsertakan publik sebagai tanda keterbukaannya. Ini akan menjadi tanda revolusi mental di Karo.

    Karo sangat erat mengikuti perubahan, karena itu adalah mungkin kalau Karo bisa jadi contoh ke 3 usaha perubahan seteah Surabaya dan Jakarta. Majulah Karo, tunjukkan sekarang juga.

    Karo mungkin jadi teladan, karena kedinamisan pikirannya dan karena perubahan dunia mengarah ke Karo dalam soal demokrasi, leadership dan Quiet Revolution Introversi dunia.

    MUG

  3. sekedar koreksi, stasiun itu tmpat pmbrhentian kereta api. bukan bus, angkot dan kndraan roda 4 lainnya.. mmg d tanah karo sdh tdk asing lg pnggunan stasiun ini utk roda 4, tp akn sgt memalukan jika ank2 “Karo” kluar dan saat ingin mncari trminal bilangnya stasiun.. koreksi brdasarkn pngalaman. trmksh

Leave a Reply