Gelora Perjuangan NKRI Mulai Bergetar Lagi di Dataran Tinggi Karo

1
195

pawai 2evansEVANS A. SINULINGGA. KABANJAHE. Sebagaimana pernah diingatkan oleh Alexander F. Meliala di dalam kolomnya yang berjudul Suku Karo dan Kemerdekaan RI, , antusiasme warga Karo merayakan HUT Kemerdekaan RI tahun ini tetap saja menggebu-gebu.

Hari ini [Jumat 14/8] adalah giliran pelajar Sekolah Dasar (SD), Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang melakukan pawai di Kota Kabanjahe. Namun demikian, antusiasme warga Karo merayakan HUT Kemerdekaan RI tahun ini tetap saja menggebu-gebu. Meski masih terbatas untuk pelajar anak-anak , warga Karo berdatangan dari seluruh pelosok Kabupaten Karo untuk menyaksikan sanak keluarga mereka yang pelajar SD untuk berpawai.

 

 

pawai 3
Suasana di Jl. Bangsi Sembiring, Pusar Pasar (Kabanjahe).

 

 

pawai

Walaupun sudah diterpa hujan di pagi hari tadi sewaktu upacara berlangsung, kemudian diterpa panas di tengah perjalanan saat pawai, anak anak SD dan TK yang ikut Pawai masih tetap bersemangat ditemani oleh orangtua dan keluarga mereka.

Kemeriahan suasana pawai Pra HUT RI ke 70 tingkat SD, TK dan PAUD se Kota Kabanjahe 14 Agustus 2015 ini sangat terasa dan sangat membangkitkan kembali gelora perjuangan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagian orang-orang lanjut usia malahan terkenang bagaimana kampung halaman mereka dibakar dan mereka berangkat mengungsi ke hutan-hutan di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) dan bahkan ada yang sampai ke Tanah Alas (Aceh Tenggara) saat terjadinya Agresi Militer Belanda I dan II (1947-1949). Karena itu pula, hanya ada dua Makam Pahlawan di seantero Nusantara, yaitu Surabaya dan Kabanjahe.

Hingga saat ini, NKRI adalah harga mati bagi Suku Karo. Suku ini tidak pernah melakukan pemberontakan terhadap negara bahkan berjuang menggagalkan gerakan pemberontakan dari suku-suku lain.

Merdeka dan Mejuah-juah!

1 COMMENT

  1. “NKRI adalah harga mati bagi Suku Karo. Suku ini tidak pernah melakukan pemberontakan terhadap negara bahkan berjuang menggagalkan gerakan pemberontakan dari suku-suku lain.”

    Karo dan sejarahnya dalam perjuangan menentang penjajahan dimulai dari perang Datuk Surbakti dan dalam perang kemerdekaan patutnya memang ditulis dengan tinta emas. Wk presiden Hatta 1948 juga menulis dengan penuh cinta kasih dan semangat perjuangan yang tinggi memuji suku Karo dan mengatakan suku Karo sebagai pahlawan.

    Kekuatan Belanda memang sengaja memusatka agresinya ke Sumtim dan terutama Karo karena orang Karo adalah musuh bebuyutan kekuasaan kolonial di Sumtim dimana banyak sumber ekonomi Belanda tetapi ada suku Karo yang selalu membandel melawan kekuasaan Belanda, sebab utamanya secara materiel ialah karena tanah-tanah subur orang Karo di Sumtim terutama di Deli dan Langkat dirampok olrh Belanda bikin perkebunan tembakau, sisal dan karet untuk membiayai pemerintahan kolonial.

    MUG

Leave a Reply