Kisber: GINTING MANIK MERGANA (14) (SELESAI)

2
262

kisber 22

[one_fourth]Oleh: Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah)[/one_fourth]

Pemerintahan yang diambil alih oleh NICA dari Jepang tidak memperdulikan sama sekali perihal pernyataan kemerdekaan yang telah dibacakan pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno. Pihak Sekutu menilai itu hanya pernyataan sepihak yang tidak memiliki landasan legalitas, walau beberapa negara telah mengakuinya.

Belanda merasa masih memiliki hak sepenuhnya terhadap Hindia – Belanda, sesuai dengan kesepakatan Wina (1942). Apalagi kekalahan Jepang merupakan buah dari invasi Sekutu terhadap Jepang dan koloninya. Jadi, Sekutu sebagai pemenang perang merupakan pemegang hak atas semua tanah jajahan Jepang. Dan, berdasarkan perjanjian Wina antara negara-negara Sekutu, bersepakat mengembalikan semua tanah jajahan Jepang kepada pemilik koloni masing-masing. Hindia – Belanda (Indonesia) yang sebelum kedatangan Jepang merupakan koloni Belanda, maka harus jugalah dikembalikan kepada Belanda.

Berita kemerdekaan negara-negara Asia – Afrika dan juga Proklamasi Kemerdekaan RI yang telah tersebar luas menumbuhkan semangat kaum republik untuk terus memperjuangkan agar benar-benar tegaknya kemerdekaan, yang tentunya adalah mengusir keberadaan pasukan asing dan melindungi pemerintahan republik. Itu sudah menjadi syarat utama untuk tegaknya kedaulatan republik.

Sebab itu, di seluruh Nusantara terjadi perlawanan. Walau beberapa basis republik terdesak, seperti halnya di Medan yang merupakan pusat pemerintahan Sumatera Timur, sehingga pemerintahan harus dipindahkan ke Siantar. Namun tidak menyurutkan semangat dan keberanian para laskar untuk terus berjuang.

Peperangan tidak dapat dihindari, walau dengan personil dan peralatan tempur seadanya. Bergerilya merupakan taktik paling cerdas saat itu. Dukungan dari kaum pribumi yang bekerja di perusahaan-perusahaan Eropa, seperti halnya Ginting Manik mergana sangat membantu dalam situasi genting seperti ini. Arus informasi dan logistik bagi para simbisa menjadi tugas utama mereka, walau sadar resikonya. Setiap orang bahu membahu, memainkan perannya masing-masing dalam perjuangan ini.

Malam itu, Ginting Manik mergana dan beberapa simbisa kembali ke gudang. Keadaan sudah sepi, hanya beberapa penjaga yang tampak.

“Mau ke mana kam, Ting?” tanya seorang penjaga gudang.

Ginting Manik mergana mendekat dan menepuk punggung si penjaga sambil tersenyum. Dia dan enam orang lainnya pun kemudian berjalan memasuki gudang. Penjaga yang saat itu berjaga sekitar delapan orang yang kesemuannya dari kaum pribumi pun hanya terdiam saja seperti tidak mempedulikan aktivitas para simbisa itu.

Tiga peti keluar dari dalam gudang yang diangkat oleh para simbisa hingga ke luar pagar pembatas. Beberapa kali aktivitas ini berulang malam itu, seperti tidak ada yang memperdulikannya. Sampai di luar pagar pembatas, sudah ada beberapa simbisa lainnya menanti dan menerima peti-peti berisi senjata dan amunisi itu untuk kemudian dibawa dan dibagikan kepada para laskar lainnya.

Baru beberapa saat kemudian salah seorang pegawai Belanda menyadari adanya aktivitas tak lazim dan membunyikan lonceng. Ginting Manik mergana dan lainnya pun berlari menenteng peti-peti yang belum sempat dibawa, pergi ke arah hutan.

Uga énda, Mama. Adi kiam kita ngembah peti-peti énda, la mbera pedas. Ugapa pé tertangkap ngé kari kita?” tanya Malem sambil berlari.

Adi bagé, buka peti éna buat piga-piga man gelementa. Sisana érapken,” jawab Ginting Manik.

Lagi kata Ginting Manik: “Piga-piga peti enggom kuakap seh ku teman-temanta. Mbera-bera sidébanna lalit alangen bas perdalinen.

kisber 23Sengaja mereka berlari ke arah sungai yang berlawanan dengan arah para simbisa yang mengangkut peti lainnya, agar serdadu Sekutu terfokus untuk mengejar mereka. Hentakan langkah berlari dan dentuman senapan pun mulai terdengar. Semakin lama semakin mendekat ke arah Ginting Manik mergana.

“Taarr….!” suara senapan. Ginting Manik terjungkal. Terasa darah segar mulai mengalir dari bagian kakinya.

Kena kam, Mama?”

Enté kéna kiamken,” suruh Ginting Manik mergana.

Malem dan Tuah pun kemudian mengangkat Ginting Manik mergana dan memapahnya sambil berlari. Rentetan bunyi senapan semakin sering terdengar. Sesekali Ginting Manik dan teman-temannya membalas.

Giliran Safi’i dan Sangab yang terjungkal.

Pergi-pergi! Cepat lari,” kata Safi’i kepada lainnya.

Enté kéna. Kami kari banci cabuni bas ranggasen oh,” kata Sangab juga kepada lainnya.

Malem pun menyerahkan senapan dan sekin (parang)-nya kepada Safi’i dan Sangab. Katanya kepada mereka: “Inget! Ola pedah kéna ngelawan adi la perlu. Kiamken, ku ranggasen oh kena cabuni. Ugapa pé adi sinik saja kéna labo tereteh, sabab ugapa pé serdadu-serdadu oh ngayaki kami. Mé ‘nggo!”

Sangab dan Safi’i pun merangkak ke arah semak belukar, sedangkan Ginting Manik mergana yang dipapah oleh Malem dan Tuah serta dua simbisa lainnya berlari semakin mendekat ke sungai.

Andiko!” teriak Ginting Manik.

Kenakai, Ma?” tanya Malem.

Kena kuakap pahaku é, beberé.

Tuah pun kemudian mengangkat Ginting Manik mergana ke punggungnya dan berlari sekuat tenagannya.

Sesampainya di pinggir sungai mereka pun terjun ke dinginnya air sungai tersebut dan berenang mengikuti derasnya aliran sungai.

Enggo. Enggo bias. Seh jenda saja kita,” kata Ginting Manik kepada lainnya.

Merekapun menyeberang dan menepi, kemudian keluar dari sungai dan berjalan menuju arah hulu sungai berlawanan dengan arah aliran sungai tersebut. Dari seberang, mereka tak henti-henti mendengar suara letusan senjata. Temponya semakin cepat, sepertinya terjadi kontak senjata yang membuat mereka menjadi tidak tenang akan keberadaan kedua sahabat mereka.

Sementara itu serdadu-serdadu mulai disebar menyusuri aliran sungai dan beberapa sudah menanti di bagian hilir, karena mereka sangat yakin sekali Ginting Manik dan lainnya berenang mengikuti aliran sungai tersebut. Namun, sebaliknya, sehingga mereka tidak dapat menemukan Ginting Manik mergana dan teman-temannya.

Pencarian yang dilakukan serdadu-serdadu itu membuat posisi Safi’i dan Sangab semakin terdesak. Merasa tersudut, serta untuk mengulur waktu dan memecah konsentrasi serdadu yang melakukan pengejaran,  agar memberi ruang dan waktu bagi Ginting Manik dan lainnya berlari, Safi’i dan Malem kemudian melakukan perlawanan sekuat mereka hingga saat keesokan harinya di siang hari, berita tewasnya dua pencuri tersebar.

Hingga sore keesokan harinya, keberadaan Ginting Manik dan rombongannya belum juga diketahui. Namun, rombongan lainnya yang berhasil membawa beberapa peti berisikan senjata dan amunisi tiba dengan selamat di tempat simbisa yang bergrilya berkumpul.

Ginting Manik terluka parah akibat tembakan yang mengenai lutut dan bagian pahanya. Tidak tanggung-tanggung, 10 butir timah panas bersarang di tubuhnya. Pendarahan hebat terjadi. Namun, jika dibawa ke kuta, tentara Belanda akan menangkapnya. Maka untuk sementara diapun disembunyikan di sebuah gua di perjuman pinggir kuta, hingga keadaannya semakin membaik.

Putri kecilnya beru Ginting Manik setiap hari menghantarkan makanan baginya. Malem setia terus menjaga dan menemaninya. Kondisinya semakin parah. Sering dia tidak sadarkan diri dan mengigau. Luka akibat peluru dan dinginnya air sungai sepertinya mengakibatkan kondisi fisiknya melemah.

Teman-teman dan bos Eropanya mulai menanyakan keberadaanya yang sudah seminggu tidak masuk kerja. Segala alasan disampaikan beru Sembiring Meliala, istri barunya. Namun sampai kapan?

Kecurigaan pun mulai muncul, kalau Ginting Manik terlibat dalam pencurian peti senjata dan amunisi di gudang. Sehingga, dia pun masuk dalam daftar pencarian, dengan tuduhan pencurian dan pemberontakan. Menghindari hal yang lebih buruk terjadi, kebutuhan Ginting Manik dari kuta harus dihentikan, agar keberadaannya tidak diketahui.

kisber 24Tugas berat bagi Malem yang selama ini bertugas menjagannya. Kini bukan hanya menjaga keselamatannya, tetapi merawatnya juga. Kondisi Ginting Manik semakin memburuk, dia harus segera mendapat perawatan. Seorang dokter Eropa didatangkan dengan diam-diam oleh simbisa. Dokter Eropa itu menyarankan agar segera membawa Ginting Manik ke rumah sakit, karena kalau tidak nyawanya tidak akan tertolong lagi.

Hal ini membuat para simbisa kebingungan. Setengah sadar, Ginting Manik menolak, karena akan membahayakan juga bagi lainnya. Dia meminta agar para simbisa membawanya saja ke kutanya, di Namo Kelawas tanpa diketahui keluargannya sekali pun. Dia ingin menghembuskan nafas terakhirnya di tanah kelahirannya.

Malem dan Tuah kemudian mengatur perjalannan itu dan menyuruh para simbisa menyebarkan berita kalau Ginting Manik mergana sudah tewas. Keesokan harinya, saat malam tiba, Malem, Tuah, dan beberapa lainnya membawa Ginting Manik ke Namo Kelawas. Pejalanan yang biasanya hanya satu hari satu malam berjalan kaki, kini harus menempuh empat hari perjalanan karena harus melalui jalur hutan untuk menghindari serdadu Belanda dan dengan kondisi Ginting Manik yang kian memburuk.

Di mana-mana di Sumatera Timur terjadi perlawanan dari simbisa. Dan tidak jarang diperjalanan rombongan yang membawa Ginting Manik mergana juga bertemu dengan para laskar yang bergrilya atau penduduk yang bersembunyi di hutan. Kesedihan yang sangat dialami oleh beru Sembiring Meliala. Di saat mengandung dia harus kehilangan suaminya. Demikianlah yang dia rasakan dan orang-orang sekitarnya, walau sesungguhnya hati kecilnya masih merasakan keberadaan suaminya itu.

Banyak yang percaya kalau Ginting Manik memang telah tiada dan itulah harapan para simbisa untuk melindungi keberadaan Ginting Manik mergana. Tetapi, tentara Belanda tidak lantas mau percaya begitu saja dengan berita ini. Percarian terhadap Ginting Manik terus dilakukan.

Sesampainya di Kuta Namo Kelawas, Ginting Manik langsung mendapat perawatan dari para guru yang tersisa di kuta itu. Kuta yang dulunya damai, indah, dan masyarakatnya sejahtera, kita tinggal kenangan saat Jepang datang.

Hanya tinggal beberapa keluarga yang bertahan. Kebanyakan lari ke hutan-hutan atau kuta lain yang lebih aman. Namun, bagi seorang Ginting Manik mergana tidak ada bedanya. Kembali ke tanah kelahiran yang dimana dia dibesarkan hingga pernikahan pertamanya dengan mendiang beru Sembiring Kembaren membuatnya merasa sedikit damai berada di tempat itu.

Terlalu banyak kenangan di kuta itu yang membuatnya selalu ingin kembali. Ayah dan ibunya, keluarga Sitepu Mergana, turangnya beru Ginting Manik si kembang desa, Amir, hingga Perangin-angin yang harus berakhir dengan pertumpahan darah di tangannya sendiri.

Tentunya sangat membekas dalam dirinya, walau kehidupan barunya dengan beru Sembiring Meliala dan dengan anak-anaknya kini yang harus menjadi prioritas.

Berminggu-minggu mendapat perawatan dari para Guru, kondisi Ginting Manik mergana semakin membaik. Dia sudah bisa duduk, tetapi mungkin untuk berdiri dengan baik tidak memungkinkan lagi. Dia sudah lumpuh.

Hal ini membuatnya merasa sedih. Merasa tidak berguna lagi. Di saat teman-temannya dengan semangat dan keberanian maju ke medan perang, dia harus duduk diam meratapi nasibnya sebagai orang lumpuh.

Depresi karena keadaan yang menimpannya mulai muncul. “Kai kin gunana nari aku nggeluh.” Demikian terus terucap dalam hati kecilnya. Tetapi, sahabat-sahabatnya sangat mendukungnya dan terus memberi semangat untuk bertahan.

Di mana-mana perlawanan laskar semakin menjadi-jadi. Semangat untuk mencapai kebebasan yang sesungguhnya menjadi modal utama. Munculnya pemimpin nasional seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahril, dll dan pemimpin-pemimpin pejuang di daerah-daerah seperti Djamin Ginting, Payung Bangun, Selamat Ginting, Rakoetta Brahmana, dll yang terus memompa semangat perjuangan membuat setiap pergerakan semakin susah untuk dihentikan.

Ginting Manik yang hanya bisa duduk dan menatap masa depan dari balik jendela kamarnya memang tidak bisa lagi mengangkat senjata atau memimpin pergerakan secara langsung, tetapi setidaknya semangat hidupnya kembali bangkit oleh para simbisa yang terus meminta pendapat darinya. Diapun mulai terlibat dalam menyusun strategi pergerakan dan mengajar beberapa anak kuta.

Tiga tahun lebih sudah dia berpisah dengan istri dan anak-anaknya, akhirnya setelah republik ini benar-benar aman, Ginting Manik dipertemukan kembali dengan keluargannya. Namun, kebahagiaan tampaknya sudah menjauh dari dirinya. Hidup sebagai seorang yang cacat dan sakit-sakitan menjadi beban hidupnya hingga akhirnya ajal menjemput.

Ginting Manik mergana memang bukan pemain utama dalam drama perjuangan melawan penjajahan seperti tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam cerita-cerita sejarah. Namun, peran dan jasa-jasanya, tentunya sangat vital dalam mendukung berlangsungnya perjuangan.

Ginting-ginting Manik mergana lainnya masih banyak tersebar di seluruh negeri ini, yang berjuang untuk tanah airnya dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya, bukan menunggu semua datang padanya. Kesempurnaan hanya milik Sang Khalik.

SEKIAN

 



2 COMMENTS

  1. Kisber SS yang menarik dan banyak artinya dalam memperkenalkan perjuangan Karo melawan kolonial Belanda.
    Ada kesan pahlawan sejati dalam diri Ginting Manik Mergana ini, dan sepertinya inilah sifat dan jiwa pejuang Karo dalam mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.

    Terima kasih dan apresiasi sejujurnya kepada BPS.

    MUG

Leave a Reply