Kolom M.U. Ginting: PEMBODOHAN

0
128

M.U. Ginting 2pembodohan 2“Menghisap kekayaan alam bangsa Indonesia melalui strategi pembodohan bangsa Indonesia dan politik pecah belah . . . mengalami politik adu domba telah membentuk bangsa Indonesia sebagai bangsa yang inferior, tidak malu menadahkan tangan dan melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan etika serta mudah curiga kepada orang lain,” kata Basarah dalam keterangannya [Senin 17/8].

Revolusi Mental Jokowi semakin banyak yang mengerti dan meyakini. Kunci revolusi ini adalah orang banyak atau publik. Semakin banyak yang mengerti dan melaksanakannya dalam sikap sehari-hari, itulah pokoknya. Jika hanya diam tak akan ada perubahan.

Seberapa pembodohan dan politik pecah belah yang teramati di hadapan kita tiap hari, katakan dan tuliskan kepada semua, gunakan internet dan media sosial. Itulah proses revolusi ini akan berjalan lancar semakin banyak orang terlibat dalam mengetahui, memaparkan, sehingga menjadi pencerahan dan informasi penting bagi seluruh publik.

Revolusi mental menyangkut mental tiap orang dan mental tiap grup manusia, terutama grup kultur manusia atau etnis/ suku. Tiap suku atau daerah atas bantuan dan dorongan penuh kaum intelektual dan akademisinya harus terus menerus menciptakan dan menyebarkan pencerahan yang semakin luas dan mendalam tentang saling hubungan antara revolusi mental dan KEARIFAN LOKAL.

Revolusi adalah perubahan. Perubahan yang mendasar dan tak akan goyah ialah perubahan yang terjadi di setiap daerah dan penduduknya, dan itu fokus ke dalam persoalan aktual negeri kita abad ini ialah MELESTARIKAN kultur dan budaya rayat daerah dalam Kearifan Lokal. Itulah tugas utama Revolusi Mental di daerah. Dengan Kearifan Lokal membasmi semua kebusukan di daerah, narkoba, korupsi, suap, prostitusi/ HIV, pencuri, perampok, judi, miras dan juga perusakan lingkungan. Kesemuanya ini bertentangan dengan kulltur lokal atau kultur daerah tiap suku bangsa negeri ini.

Khusus dalam menjaga lingkungan ini, perlu ditingkatkan perhatian untuk mendekatkan kembali manusia terutama anak-anak untuk mencintai alam dan lebih dekat ke alam. Anak-anak yang sama sekali terpisah dari alam dan kehijauan alam akan mengalami  gangguan keharmonisan jiwanya (inner harmony) dan berakibat jelek seperti saling bullying atau saling tawuran. Penduduk setempat pastilah melihat dan mengerti persoalan ini karena mereka sendiri menyaksikan perusakan alam di daerahnya seperti di daerah ulayat Karo di Deliserdang dirusak oleh penguasa pendatang.

Leave a Reply