Sirulo TV: Kiloak HUT RI (Pesta Rakyat Karo)

1
213

 

kiloak 4
KABANJAHE LAUTAN MANUSIA. Apresiasi masyarakat Karo dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI yang begitu besar, ini terbukti dalam perayaan HUT RI ke 70 kali ini. Semua elemen masyarakat Karo begitu antusias dan penuh semangat dalam perayaan tersebut, menjadikan Kota Kabanjahe menjadi lautan Manusia. Salam Merdeka Indonesiaku. Salam Merdeka Tanah KaroKu (Teks dan Foto oleh PERISTIWA BGN).

 

 

kiloak 1
Foto: SALMEN KEMBAREN

rikwan sinulinggaRIKWAN SINULINGGA. KABANJAHE. Kiloak adalah sisi lain yang unik dari perayaan HUT Kemerdekaan RI di Dataran Tinggi Karo, khususnya di Kabanjahe yang merupakan ibu kota Kabupaten Karo.

Kata dasar dari kiloak adalah loak yang artinya barang bekas. Beberapa tahun terakhir ini kiloak menjadi tenar di kalangan masyarakat Karo terutama di Hari Kemerdekaan RI dimana banyak warga berdatangan dari pelosok untuk menyaksikan upacara HUT RI dan pawai yang biasa menyertainya. Selain itu, mereka juga menyempatkan diri berbelanja pakaian bekas dari luar negeri yang dijual di Pusat Pasar Kabanjahe.

Di Hari Kemerdekaan RI ini, bukan hanya pedagak pakaian bekas dari Dataran Tinggi Karo yang yang menjajakan barangnya. Pedagang-pedagang pakaian dari Karo Hilir seperti Medan dan kota-kota sekitarnya juga datang ke Kabanjahe mengadu keberuntungan. Banyak juga diantara pedagang pakaian bekas ini bukan berprofesi sebagai pedagang selama ini, tapi pada hari jadi RI ini mereka mencoba keberuntungan dengan menjual pakaian bekas (loak).

Jenis pakaian yang dijual sangatlah lengkap. Mulai dari pakaian sehari-hari, pakaian kerja, jaket, sepatu, sendal bahkan pakaian dalam pria maupun perempuan. Harga loak ini juga tergolong murah apalagi hari ini khusus hari kemerdekaan, loak banting harga. Misalnya : Jacket/ sweater kisaran harga mulai dari Rp 20.000 – Rp. 60.000. Pakaian anak-anak kisaran Rp 10.000 – Rp 30.000 per potong. Bahkan untuk pakaian dalam mulai dari Rp 5.000 – Rp 15.000 per potong.

kiloak 3Hiruk pikuk keramaian dengan teriakan pedagang loak yang berlomba menjajakan barang dagangannya (di jakarta seperti Pasar Senen), ditambah lalu lalang pembeli yang luar biasa antusiasnya mencari pakaian yang dibutuhkan. Tumpukan pakaian bekas di sembarang tempat sampai ke badan jalan benar-benar inilah kemerdekaan sebenarnya. Pesta rakyat yang terjadi secara spontanitas di kalangan Suku Karo.

Tim liputan Sora Sirulo sempat menanyakan ke beberapa pembeli akan tujuannya ke Kota Kabanjahe apa saja tujuannya datang ke Kabanjahe hari ini. Rata-rata menjawab, kiloak, yang artinya “melihat-lihat barang bekas dan kalau ada yang menarik kemudian membelinya”. Kata kiloak mengisyaratkan bahwa bukan hanya berbelanja barang loak itu tujuan utama tapi kegiatan melihat-lihat jualan barang bekas itu adalah sebuah kegiatan darma wisata.

Sejak pagi pasar loak ini sudah dimulai dan sejak pagi pula pasar loak musiman sudah dipadati pembeli tanpa menghiraukan suara drum band para peserta pawai kemerdekaan.

“Hari inilah kesempatan kami merahup keuntungan,” kata beberapa pedagang loak ini kepada Sora Sirulo.

Meskipun semakin banyak pedagang musiman, namun mereka biasanya tetap bisa meraup keuntungan. Bisa dibilang, hari ini seluruh warga Dataran Tinggi Karo tumpah ruah ke Kota Kabanjahe.

“Meskipun harga sewa lapak semakin tinggi kami berharap hari ini tetap mendapatkan untung besar,” kata seorang pedagang beru Karo kepada Sora Sirulo.

Ketika ditanyakan berapa sewa lapak, mereka mengatakan mencapai Rp 1 juta/ lapak.

Mungkin sebaiknya untuk ke depannya areal jalan kota agar dibatasi atau mungkin bisa disediakan areal khusus untuk para pedagang ini sehingga lalu lalang warga yang ingin menikmati peserta pawai kemerdekaan tidak terganggu. Usai menikmati pawai kemerdekaan dilanjutkan dengan pesta rakyat yaitu “KILOAK”.



1 COMMENT

  1. Semakin meluas pemakaian barang bekas semakin bagus efeknya terhadap lingkungan. Ini termasuk salah satu cara paling baik untuk mengurangi produksi barang baru yang menghabiskan sumber bahan mentah dan energi. Dengan begitu mengurangi juga emisi CO2 dari fabrik produksi barang baru.
    Dulu ada juga kegelisahan industri dengan penggunaan barang bekas ini, terutama dari industri pakaian. Tetapi sekarang di Karo terlihat sebaliknya, mudah-mudahan ini juga bisa diikuti nantinya dengan revolusi mental dalam soal konsumerisme yang semakin tak terkendali dalam skala global terutama di barat. Karo pasti bisa jadi contoh termaju dalam soal pengurangan konsumsi berlebihan dengan menghargai dan memanfaatkan prduksi bekas.

    Majulah terus Karo!

    MUG

Leave a Reply