Kebaktian Minggu GBKP Jambi Diawali ‘Indonesia Raya’

0
300

jambi 3

 

Oleh: Vic. Kazpabeni E.E. Ginting (Bukit Rinting, Jambi)

 

KazpabeniKemerdekaan adalah hak segala bangsa. Setiap orang berhak menikmati kemerdekaan negeri ini dengan kesetaraan sebagai warga negara. Tak pandang bulu, tidak membedakan kelas masyarakat, apakah mereka tinggal di kota ataupun di desa bahkan dusun terpencil sekalipun. Semuanya (seharusnya) sama di bawah ‘kibaran sang merah putih’ dan semuanya harus berpandangan yang sama ke arah kibaran bendera itu dengan semangat patriotis dan nasionalis.


Hampir saja saya berkesimpulan bahwa di wilayah kami ini tidak akan ada selebrasi kemerdekaan republik ini. Jauh dari peredaran dan keriuhan kota di pedalaman Provinsi Jambi, seolah-olah membuat penghuni wilayah ini menjadi ‘anak tiri’ di negerinya sendiri.

Bagaimana tidak, betapa memperihatinkannya kondisi tanpa sambungan listrik, prasarana jalan yang tanpa perhatian, bahkah signal telepon seluler yang sangat terbatas. Ditambah lagi dengan kondisi perekonomian setempat yang semakin memprihatinkan. Harga buah kelapa sawit yang dibayarkan kepada petani anjlok hingga’ Rp. 500/ Kg, harga getah karet menukik sampai Rp. 3.000/ Kg.

jambi 2
Pembagian hadiah untuk para pemenang lomba

 

Melihat kondisi itu, rasanya manalah mungkin mengingat perayaan kemerdekaan negara, sementara belum merdeka dalam ekonomi. Inilah realita salah satu wilayah pelosok negeri ini di ulang tahun kemerdekaannya yang ke 70.

Namun, puji syukur ke hadirat-Nya, Sang Pemberi Kemerdekaan. Tanggal 16 Agustus kemarin, lega rasanya ketika melihat bendera merah putih sudah berkibar di halaman beberapa rumah warga. Meski hanya satu hari sebelum hari H, ini lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Terlebih-lebih dalam kebaktian minggu di GBKP Bukit Rinting kemarin, liturgi ibadah yang dipakai adalah liturgi khusus Kemerdekaan RI yang diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Beberapa jemaat yang hadir terlihat geli karena menyanyikan lagu kebangsaan di dalam gereja. Tapi semoga kegeliaannya itu membangkitkan rasa nasionalisme dalam dirinya, sekaligus mengingatkan akan kemerdekaan imannya.

Kemarin pun [Senin 17/8] dilakukan perlombaan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke 70. Perlombaan ini dipanitiai oleh pemuda di komunitas kelompok tani bergelar Persatuan Petani Jambi (PPJ). Perlombaan yang sederhana ini juga dilakukan di kompleks halaman Mushola Bukit Rinting.

Perlombaan yang dilakukan khusus untuk anak-anak seperti lomba makan kerupuk, membawa kelereng dengan sendok, mancing botol dan tak ketinggalan lomba panjat pinang khas Kemerdekaan RI. Meskipun konvensional, perlombaan ini sangat menghibur warga setempat yang hadir. Mulai dari anak-anak hingga Lansia, semuanya terlibat dalam euphoria pesta rakyat ini. Warga yang berkumpul di tempat kegiatan memang tidak setumpah-ruah perayaan kemerdekaan di lapangan terbuka di kota-kota besar. Tapi dalam hal ini kita berbicara mengenai kualitas, bukan kuantitas belaka.

Suasana yang terlihat dalam kegiatan ini sarat dengan kekeluargaan. Semuanya adalah anggota komunitas PPJ. Tak hanya anggota, beberapa warga sekitar yang bukan anggota PPJ juga turut hadir, tapi tidak terasing. Saya sendiri yang cukup jarang bersosialisasi dengan mereka sekalipun tetap disapa dengan hangat dan dipersilahkan masuk ke Langgar Mushola ketika sedang acara pembagian hadiah pemenang lomba. Sungguh, saya diterima sebagai sesama warga negara di tempat itu. Terlebih-lebih sebagai seorang calon Pendeta yang datang menghadiri kegiatan di Mushola. Begitu juga dengan warga yang berkumpul dengan latar belakang multi-etnis (Melayu Jambi, Jawa, Batak dan Karo) yang dipersatukan dalam semangat kemerdekaan.

jambi

 

Dilihat sepintas, perayaan kemerdekaan ini biasa-biasa saja. Tapi Anda akan berubah pikiran bahkan berbangga ketika melihat secara langsung apa, bagaimana dan dimana kegiatan ini dilakukan. Bagi mereka yang sudah dimanjakan dengan modernisasi serta era teknologi yang maju, mungkin lomba panjat pinang hanyalah kemeriahan satu hari yang besok bisa dilupakan begitu saja. Namun, bagi orang-orang yang mengadu nasib serta rela menjalani hidup yang hampir terisolir dari perkembangan informasi, tentu berbeda pula.

Ada begitu banyak hal yang harus mereka lupakan untuk bisa menikmati hak merayakan kemerdekaan negeri ini. Ketika menyaksikan anak-anak mereka memanjat pinang, mereka terbebas dari kungkungan pikiran tentang harga kelapa sawit dan getah karet yang murah. Mereka terbebas dari rasa ‘minder’ dalam pesatnya pembangunan daerah lain. Mereka merdeka dari rasa khawatir akan hari esok. Hari ini, dari senyum dan tawa mereka, membuktikan bahwa mereka sudah dan masih merdeka.

Dari Tanah Pusako Betuah, Jambi, mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70.

Leave a Reply